Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat

[cml_media_alt id='220']Poster PTKJS Tlekung[/cml_media_alt]Salah satu penyebab rendahnya produktivitas jeruk di Indonesia yang hanya mencapai 15-17 ton dari potensi 30-40 ton per hektar adalah belum terbebasnya daerah sentra produksi dari serangan CPVD. Penyakit yang disebabkan oleh Liberobacter asiaticum ini dapat di tularkan oleh bibit yang telah terinfeksi CPVD atau melalui serangga penularnya, yaitu kutu loncat Diaphorina citri dan harus di waspadai pada setiap upaya rehabilitasi atau pengembangan agribisnis jeruk.

Strategi pengendalian penyakit CPVD melalui Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat (PTKJS) meliputi lima komponen teknologi, yaitu : (1) menggunakan bibit jeruk berlabel bebas penyakit, (2) mengendalikan serangga penular CPVD D. citri secara cermat, (3) melakukan sanitasi kebun secara cermat, (4) memelihara tanaman secara optimal, (5) konsolidasi pengelolaan kebun di suatu wilayah target pengembangan. PTKJS akan efektif diterapkan pada daerah pengembangan baru atau daerah yang akan direhabilitasi yang telah bebas dari pohon jeruk yang terinfeksi CPVD pada radius minimal 5 km.

Penggunaan Bibit Jeruk Bebas Penyakit

BIbit jeruk bermutu adalah bibit jeruk yang bebas dari patogen sistemik (CPVD, CTV, Vein enation, Exocortis, Psorosis, Xyloporosis dan Tatter leaf), sesuai induknya, yaitu varietas batang bawah dan batang atasnya di jamin kemurniannya serta proses produksinya berdasarkan program sertifikasi jeruk yang berlaku. Artinya, bibit jeruk bermutu adalah bibit jeruk yang berlabel bebas penyakit dalam kondisi ideal siap ditanam di lapangan.

Pengendalian Serangga Penular CPVD

Diaphorina citri dapat dikendalikan dengan cara penyaputan batang dengan menggunakan insektisida sistemik murni berbahan aktif imidakloprid atau lainnya. Penyaputan batang di lakukan pada saat pohon berpupus dan dapat diulang setiap 2-4 minggu. Selain itu juga dapat dilakukan penyemprotan denga insektisida berbahan aktif dimethoate 2cc/l atau lainnya. Insektisida berbahan aktif endosulfan 0.05% atau lainnya ampuh untuk mengendalikan telur D. citri sehingga efektif diterapkan pada awal pertunasan. Dengan cara penyaputan batang, musuh alami D. citri diharapkan tidak mati.

Pengendalian serangga penular CPVD dengan memanfaatkan musuh alami seperti parasit, predator dan entomopatogennya mempunyai prospek untuk dikembangkan di masa mendatang.

Sanitasi Kebun

Sanitasi kebun adalah adalah upaya membuang bagian tanaman atau membongkar pohon yang terserang CPVD. Gejala awal dapat dikenali dengan adanya ‘blotching/motling’, yaitu warna kuning pada daun yang tidak dibatasi oleh tulang daun dan tidak simetris, pertumbuhan daun terhambat, daun mengecil, relatif kaku, runcing dan menghadap ke atas. Pemangkasan ranting terinfeksi CPVD (sektoral) dapat dilakukan dengan memotong ranting dua periode tunas sebelumnya. Pohon jeruk yang telah terinfeksi CPVD secara menyeluruh harus di bongkar sampai ke seluruh abagian akar tanaman.

Pemeliharaan Tanamanan

Pemeliharaan tanaman yang meliputi pemupukan, penyiraman, pemangkasan bentuk dan pemeliharaan, penjarangan buah dan pengendalian hama penyakit penting lainnya, perlu mendapat perhatian semestinya karena dapat meningkatkan produktivitas tanaman. Pemeliharaan kebun yang optimal dapat mempermudah pelaksanaan sanitasi kebun karena jika ada pohon jeruk yang terinfeksi CPVD gelajanya akan lebih mudah dideteksi. Teknologi anjuran pemeliharaan kebun jeruk seyogyanya bersifat spesifik lokasi.
Teknologi memajukan saat pembungaan dan mempertahankan tanaman berbuah sepanjang tahun melalui perlakuan pemupukan, irigasi dan hormonal telah memberikan keuntunga bagi sebagian petani yang menerapkannya. Di sisi lain, teknologi tersebut dapat mengakibatkan terjadinya pertunasan epanjang tahun sehingga keberadaan serangga penular CPVD harus diwaspadai llebih cermat.

Konsolidasi Pengelolaan Kebun

Pengendalian penyakit CPVD dengan PTKJS akan berhasil jika diterapkan secara utuh dan benar serta terkoordinasi baik antar petani, antar gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang membentuk kawasan sentra produksi. Konsolidasi pengelolaan kebun melalui koordinasi penerapan teknologi PTKJS dapat dilaksanakan secara optimal dengan menjadi Kelompok Tani Jeruk (KTJ) sebagai unit terkecil pembinaan. Setiap KTJ sebaiknya beranggotakan 20-25 petani. Penyuluhan dan pembinaan yang dilakukan harus berbasis hamparan usaha milik KTJ bukan berorientasi pada petani sebagai individu anggota KTJ. PTKJS diharapkan menjadi acuan utama penyusunan Standar Operating Procedure (SOP).

Related Post

Tinggalkan Balasan