Pengelolaan SDG Jeruk yang Optimal = Membuka Tambang Emas

Tim Plasma Nutfah Jeruk BalitjestroKegiatan pengelolaan sumber daya genetik  jeruk, apel, anggur, lengkeng dan stroberi di Balitjestro terdiri atas konservasi, karakterisasi dan evaluasi, dokumentasi serta pemanfaatan. Adapun alur kegiatan pengelolaan Sumber Daya Genetik (SDG) yaitu koleksi dari hasil eksplorasi, introduksi dan pertukaran dikonservasi secara ex situ di field gene bank (di kebun percobaan). Koleksi dalam kebun sumber daya genetik tersebut dikarakterisasi, dan dievaluasi untuk mendapatkan informasi karakter dan keunggulan setiap aksesi.  Agar data karakter tersebut sampai pada pengguna , data tersebut harus dikelola dengan baik dan mudah diakses. Sistem Informasi mau tidak mau harus dilakukan untuk mempermudah akses tersebut dan juga membantu dalam pengelolaan sumber daya genetik.

Balitjestro melakukan penataan kembali dokumentasi plasmanutfah jeruk dengan mengumpulkan semua tim yang selama ini pernah menangani kegiatan plasmanutfah jeruk. Dari 228 aksesi yang tercatat, ada beberapa koleksi  yang belum tercantum lokasi detail asalnya, terutama koleksi sebelum tahun 1990-an. Kekurangan-kekurangan yang ada didiskusikan dan dijadikan bahan koreksi untuk update data yang ada.

Selama ini kekayaan SDG belum termanfaatkan dengan baik. Seolah-olah (hanya) ada 3 pilihan dalam pengelolaan SDG yaitu; (1) dibiarkan apa adanya, (2) biarkan dimanfaatkan negara lain atau (3) dibiarkan hilang begitu saja. Kita harus mampu memberikan opsi ke-4 yaitu menggali potensinya dan memanfaatkannya untuk bangsa kita sendiri. Pengelolaan SDG yang optimal akan membuka tambang emas yang selama ini tidak tergali. Pengelolaan dilakukan dari konservasi berlanjut ke karakterisasi dan evaluasi, kemudian dokumentasi dan kemudian pemanfaatan.

Sumber Daya Genetik (SDG)

Dokumentasi menjadi pekerjaan yang tidak mudah karena melibatkan banyak orang dan lintas generasi. Pergantian penanggungjawab kegiatan yang merupakan hal yang biasa dalam setiap organisasi menuntut dokumentasi yang rapi dan lengkap agar siklus pengelolaan SDG berjalan dengan baik. Tuntutan alih generasi pengelola plasmanutfah yang mulus dari generasi 1970-an ke 1990-an dan sekarang 2000-an dan terus berlanjut menjadi tantangan tersendiri bagi setiap peneliti agar program bersama tetap berjalan. Dengan dokumentasi SDG jeruk yang baik, diharapakan pemanfaatannya oleh pemulia akan lebih akurat dan tepat tujuan.  Pemanfaatan sumber daya genetik oleh pemulia maupun pengguna lainnya pada akhirnya akan membantu penyelamatan sumber daya genetik itu sendiri. [zh]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event