Pencinta Tanaman Anggur Serius Konsolidasikan Diri

HobiAnggur

 

Jogja. Di sela rangkain acara seminar yang dilaksanakan di Solo, peneliti Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), yaitu tim plasma nutfah menyempatkan bersilaturrahim ke salah satu penggerak pencinta anggur Indonesia. Sebelumnya, mas Fredy dkk telah mengunjungi Balitjestro untuk mencari informasi dan berkoordinasi mengenai pengembangan anggur di Indonesia. Kunjungan kali ini adalah tindak lanjut dari sebelumnya.

Hal yang menggemberikan tentunya jika tanaman anggur semakin berkembang dan ditanam di banyak wilayah di Indonesia. Adaptasi dari berbagai koleksi plasma nutfah anggur milik Balitjestro perlu dilakukan lebih banyak lagi di daerah sehingga semakin banyak varietas anggur yang dapat didaftarkan dan diedarkan di masyarakat sehingga mampu mengurangi ketergantungan terhadap anggur impor. Berbagai varietas anggur dari luar negeri sudah cukup banyak dimiliki oleh Balitjestro maupun komunitas hobi. Ke depan yang diperlukan adalah bagaimana untuk mengelola semua koleksi yang ada, tidak hanya banyak dalam segi jumlahnya namun dapat tumbuh dan berkembang baik. Terobosan dari Balitjestro juga diperlukan sebagaimana tuntutan dari masyarakat.

Di sisi lain koleksi yang dipunyai masyarakat harus terpantau dengan baik agar jika ada varietas baru hasil adaptasi dan secara komersial menguntungkan dapat segera didaftarkan secara legal dan disebarkan secara luas. Sehingga ke depan tidak ada persoalan administratif di karantina yang dapat mengganjal peredaran benih anggur. Komunitas pencinta anggur mulai mengkonsolidasikan diri dengan membuat kebun koleksi semacam Kebun Percobaan. Kelemahan uji adaptasi yang tersebar di berbagai pihak (individu) adalah tidak tercatatnya secara detail data yang bisa jadi penting untuk pengembangan selanjutnya. Apalagi syarat pendaftaran / pelepasan varietas harus mencantumkan keunggulan dan kekhasan dari varietas tersebut.

Berbagai lokasi adaptasi perlu diuji coba (uji multi lokasi). Mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi dan berbagai kondisi iklim lokal. Dengan kolaborasi banyak pihak tentunya pekerjaan ini akan lebih mudah, murah dan akurat. Tinggal bagaimana proses dan kesepakatan itu dicapai. Cara ini akan lebih efektif di tengah keterbatasan anggaran yang ada. Emi Budiyati dan Anis Andrini yang sepuluh tahun ini serius mengkarakterisasi dan meneliti anggur berharap agar komunikasi yang baik ini terus terjalin dan pada akhirnya banyak hal yang bisa kita hasilkan bersama untuk kesuksesan pengembangan anggur di Indonesia. [zh/balitjestro]

PencintaAnggur

Tinggalkan Balasan