Penanganan Pascapanen Buah Lengkeng

Oleh : Buyung Al Fanshuri
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

 

Salah satu permasalahan dalam pengembangan tanaman lengkeng adalah daya simpan buah yang tidak tahan lama. Dalam suhu ruang buah lengkeng hanya mampu bertahan 7-10 hari setelah panen. Proses yang terjadi didahului dengan browning yang terjadi setelah 3-5 hari setelah panen dan kemudian busuk 4-5 hari berikutnya. Browning dicirikan dengan warna kulit buahnya berubah menjadi coklat tua kehitaman dan kulit buah yang sebelumnya lentur menjadi kaku.

Dengan daya simpan yang singkat tersebut menyebabkan pemasaran buah lengkeng hasil produksi dalam negeri tidak bisa berkembang. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa buah lengkeng impor mempunyai daya simpan yang lama, diperkirakan buah lengkeng impor dari negara asalnya sampai di pasar Indonesia kurang lebih 20-25 hari setelah petik. Berarti buah lengkeng impor sudah melalui proses teknologi pasca panen untuk memperpanjang daya simpan buah.

Teknologi yang biasa digunakan adalah Modified Atmosphere Packaging (MAP) dan Controlled Atmosphere (CA). Secara garis besar prinsip kerja teknologi tersebut adalah mengontrol kondisi udara di dalam penyimpanan buah untuk mencegah terjadinya browning dan mengurangi pembusukan. Di dalam teknologi tersebut bahan yang biasa digunakan diantaranya SO2, NO2 dan ClO2.

PT Zanzibar merupakan salah satu produsen buah lengkeng terbesar di Indonesia yang mempunyai beberapa kebun produksi diantaranya di kebun Ngebruk dan Hortimart. Jumlah tanaman lengkeng di kebun Ngebruk 9.000 tanaman dengan luas lahan 44 ha dengan varietas yang ditanam adalah itoh, biao khiao dan kinglong. Dari total keseluruhan tanaman dilakukan pembungaan yang bertahap dengan tujuan buah yang dihasilkan juga tidak serentak. Teknologi pembungaan yang digunakan adalah dengan pemberian KClO3.

Produksi rata-rata per tanaman per tahun adalah 30 kg, maka dengan luasan kebun Ngebruk mampu menghasilkan buah lengkeng 270 ton/tahun. Panen secara bertahap sesuai dengan perlakuan pembungaan. Setiap hari buah lengkeng yang dipanen 1,5 – 2 ton dan penanganan buah setelah dipetik dari pohon adalah sebagai berikut :

  • Tahap 1 : Perapian, pembersihan dan pencucian.
    Pada tahap ini buah lengkeng yang baru dipetik dilakukan proses perapian, pembersihan dan pencucian untuk memperoleh buah yang bersih dari kotoran dan hama atau penyakit.
  • Tahap 2 : Mutu
    Buah lengkeng hasil proses pada tahap pertama dipisahkan berdaskan mutu buahnya.
  • Tahap 3 : ukuran
    Buah yang terpilih dengan mutu buah yang baik kemudian dipisahkan berdasarkan ukuran besar, sedang dan kecil.
  • Tahap 4 : Pengemasan
    Buah yang sudah terseleksi pada tahap sebelumnya sudah siap dikemas. Buah yang dikemas terbagi menjadi 4 grade, yaitu : grade A, B, C dan D. Grade A dan B dikirim ke supermarket Jakarta sedangkan C dan D untuk supermarket dan pasar lokal Jawa Tengah.

Gambar 1. Prosesing sortasi buah lengkeng

 

Untuk mengatasi masalah browning, PT Zanzibar sudah mengadopsi teknologi dari Thailand. Seperangkat alat pasca panen yang menggunakan teknologi Controlled Atmosphere (CA) didatangkan termasuk pelatihan cara pengoperasionalannya. Teknologi ini digunakan sebelum dikemas, namun penggunaannya disesuaikan dengan permintaan konsumen. Karena ada juga konsumen yang minta buah segar tanpa dilakukan proses fumigasi.

Sebelum adanya alat tersebut, perusahaan sering mendapatkan komplain dari supermarket dan konsumen dikarenakan buah yang mengalami browning dan mudah busuk. Dan sekarang setelah mengadopsi teknologi tersebut buah lengkeng dalam kemasan bisa lebih tahan lama dengan warna yang masih bagus sehingga bisa dipasarkan dalam jangka waktu yang lebih lama.

Gambar 2. Teknologi pasca panen buah lengkeng

[cml_media_alt id='170']PascapanenLengkeng_kemasankonsumen[/cml_media_alt]

[cml_media_alt id='175']kemasanlengkeng[/cml_media_alt]

Gambar 3. Buah lengkeng yang sudah dikemas dan siap dipasarkan.

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event