Pemkot Batu Geber Revitalisasi Lahan Apel

Apel.Batu.dan.Hamparannya.RomeBeauty

Lahan apel seluas 20 hektar di Desa Bulukerto, Bumiaji sudah tidak produktif lagi. Ditahun 1997 atau 17 tahun lalu, sebanyak 300 pohon apel (satu hektar lahan) bisa memproduksi apel 4 ton dalam sekali panen. Namun kini 300 pohon apel hanya bisa menghasilkan enam kuintal saja. Untuk itu, pemkot menggeber program pelatihan revitalisasi lahan apel. Salah satunya digelar kemarin di Desa Bulukerto, Kecamatan Burniaji.

Lahan yang sudah tidak produktif salah satunya milik petani yang bergabung dalam Gabungan Kelompok. Tani (Gapoktan) Bumiasih Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji. “Kini produksinya hanya enam kuintal dalam satu hektare,” kata Kusnadi Hadi, ketua Gapoktan Bumiasih, Kusnadi menerangkan, lahan apel pertanian sebelum 1997 bisa memproduksi apel secara maksimal. Bahkan, begitu banyaknya produksi apel sampai bisa dikirim ke luar kota dan luar pulau Jawa. Namun, kini lahan apel tersebut produksinya berangsur menyusut. Hasil yang didapat petani dari tanaman apel tidak sebanding dengan biaya perawatan dan jerih payah para petani.

“Kini semakin sedikit produksinya. Ini karena dahulu sering memakai pupuk kimia yang berlebihan dan tidak memperhatikan tanah yang kurang unsur hara,” kata Hadi dalam acara Revitalisasi Lahan Pertanian Apel di Pendopo Kasepuhan, Dusun Gintung, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, kemarin.

Namun, semua pihak tetap berupaya agar para petani tetap bisa mengembalikan produksi apelnya. Sebab apel sudah menjadi ikon kota Batu. Pemerintah juga berupaya memberikan solusi dan bantuan lebih berupa bibit apel yang baru dan bisa memproduksi apel lebih banyak lagi. “Kami diberi bibit 2.700 bibit namun masih kurang” bebernya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Pemkot Batu Drs. Arief As Siddiq membenarkan jika para petani sudah lama memakai pupuk kimia. Namun, dikarenakan semangat memproduksi apel dan tidak memperhatikan lahan maka unsur haranya berkurang. Padahal unsur hara itu penting bagi pohon. Unsur hara laksana vitamin bagi pohon.

“Banyak lahan apel yang ¬†rusak akibat penggunaan pupuk kimia berlebih. Kami juga berupaya untuk melakukan revitalisasi lahan dan menyiapkan bibit apel baru,” kata Arief penuh yakin. Sementara itu, Edi Siswanto, Petugas Pelaksana Lapangan dari Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur, pun membenarkan akan minimnya unsur hara di sekitar Desa Bulukerto. Dan mengakibatkan lahan pertanian apel semakin berkurang. “Rata-rata keasaman (PH) tanah di Bulukerto di angka 3 yang berarti asam sekali. Seharusnya PH di angka 7 atau diatasnya sedikit,” kata Edi Siswanto saat mengajarkan kepada 70 para petani apel bagaimana memulihkan tanah dan perbaikan mutu lahan di Desa Bulukerto. (muk/yos).¬†Sumber: Jawa Pos, 02 Oktober 2014, halaman 31-32.

Nb. Balitjestro yang mendapatkan mandat penelitian salah satunya buah apel pernah memberikan rekomendasi Rancang Bangun Pengembangan Apel di Kota Batu pada tahun 2008. Rangkumannya bisa dibaca disini >> Rancang Bangun Agribisnis Apel di Kota Wisata Batu

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event