Pemanfaatan Gamal sebagai Pupuk Hijau pada Budidaya Jeruk Organik

Gambar. Tanaman gamal (Gliricidia sepium) di kebun jeruk IP2TP Tlekung yang digunakan sebagai tanaman pagar dan sumber pupuk hijau

Oleh : Titistyas Gusti Aji
Peneliti Balitjestro

Balitjestro mengkonversi kebun jeruk siam dan keprok Terigas yang berumur sekitar 5 tahun di IP2TP Tlekung sejak tahun 2017. Selama masa konversi, manajemen kebun diselaraskan dengan prinsip pertanian organik sesuai SNI 6729:2016, yaitu pelestarian lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah penanaman gamal sebagai pagar hidup mengelilingi kebun jeruk siam Pontianak dan keprok Terigas.

Gamal (Gliricidia sepium) adalah tanaman kacang-kacangan (leguminosa) multifungsi yang paling banyak dimanfaatkan setelah lamtoro. Tanaman ini berbentuk pohon dan ditanam sebagai tanaman penaung, pagar hidup, sumber hijauan untuk pakan ternak maupun pupuk, hingga penstabil tanah. Gamal mudah diperbanyak melalui stek dan memiliki produktivitas daun yang tinggi, serta dapat tumbuh pada kondisi lingkungan yang beragam. Di Indonesia, dimana air dan kelembaban cukup tinggi, tanaman ini bersifat evergreen (hijau sepanjang tahun).

Pemanenan biomassa gamal sebagai bahan pupuk hijau dilakukan 2 kali setahun, yaitu sekitar bulan Maret dan Agustus. Selain gamal, bahan hijauan yang digunakan dalam budidaya jeruk organik adalah biomassa tanaman paitan (Tithonia diversifolia) dari sekitar kebun dan biomassa tanaman kedelai yang ditanam di antara barisan jeruk. Dosis pupuk hijau untuk setiap pohon jeruk adalah 1 kg bobot basah biomassa campuran gamal dan paitan atau campuran gamal dan kedelai dengan rasio 1 : 1 (50:50 v/v). Campuran hijauan ini dimasukkan ke dalam larikan pupuk (tilled strip) sedalam 10 – 20 cm di bawah tepi tajuk pohon jeruk searah barisan, kemudian ditutup tanah.

Penambahan gamal sebagai pupuk hijau bertujuan untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan tanah, sebagai bahan makanan mikroorganisme tanah, serta meningkatkan sifat fisika, kimia, dan biologi tanah. Perakaran gamal tumbuh secara cepat dan masif yang selanjutnya menghasilkan sistem perakaran yang dapat memegang butiran pasir dan batuan dalam tanah sehingga dapat mencegah erosi, transport sedimen, dan longsor. Kandungan asam organik dalam biomassa gamal, yaitu asam humat dan asam fulvat, memiliki kemampuan mengkelat kation, terutama aluminium dan besi, yang selanjutnya dapat meningkatkan pH tanah dan ketersediaan fosfor di dalam tanah. [Jestro2020]

Agenda

no event