Pemanfaatan Big Data untuk Pertanian

Kegiatan pelatihan Big Data untu penelitian pertanian i auditorium utama Ir. Sadikin Sumintawikarta, Bogor, Foto : Zainuri Hanif

Badan Litbang Pertanian melalui Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian bekerjasama dengan CIAT (The International Center for Tropical Agricultural) dan Pulse Lab Jakarta mengadakan Training Workshop on Big Data 101 for Agricultural Research pada 30-31 Oktober 2019 bertempat di auditorium utama Ir. Sadikin Sumintawikarta. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pengetahuan dalam pemanfaatan Big Data, khususnya di bidang pertanian.

Dalam sambutannya, Dr. Husnain, Kepala BBSDLP mengatakan bahwa Balitbangtan mempunyai aplikasi yang masuk big data yaitu Katam. Ke depan, peran Katam memang perlu diperkuat lagi dengan data yang lebih akurat untuk mengantisipasi perubahan iklim.

Sedangkan Kepala Balitbangtan,  Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. mengingatkan bahwa semua data yang dipunyai Balitbangtan harus terintegrasi. Apalagi, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo sangat menekankan adanya data yang akurat dan real time.

Selama ini semua penelitian di Indonesia belum terkumpul dalam sebuah platform tunggal yang open access sehingga dalam beberapa kasus, duplikasi penelitian itu masih terjadi. Padahal seharusnya penelitian selanjutnya harus mempertajam penelitian sebelumnya. Data yang besar, banyak dan cepat harus dikuasai untuk keunggulan Balitbangtan.

Pelatihan ini bekerjasama dengan Pulse Lab Jakarta yang merupakan Global Pulse Lab pertama di luar Amerika Serikat. Pulse Lab Jakarta menggabungkan ilmu data dan penelitian sosial untuk membantu memahami dunia yang saling terhubung, saling bergantung, dan kompleks.

Lab ini adalah inisiatif bersama dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Pemerintah Indonesia, melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas).  Kebutuhan untuk menutup kesenjangan informasi di sektor pembangunan dan kemanusiaan perlu dipenuhi melalui adopsi big data, analytics real-time, dan kecerdasan buatan.

Data yang saat ini kita peroleh adalah data yang tidak up to date atau data yang selesai diolah 2 tahun sebelumnya. Agar kebijakan itu terus dapat sesuai dengan kebutuhan terkini, maka fungsi Big Data harus dioptimalkan, yaitu yang bersumber dari remote sensing (GIS) dan survei maupun dari sumber yang lebih modern yang berasal dari drone, IOT dan digital tools seperti media sosial (Facebook, twitter, IG, dll). (Hanif/Balitjestro)

Agenda
Tanggal Kegiatan
Rabu, 16 Oktober 2019 Kunjungan Industri – SMKN 1 Gondang Nganjuk
Rabu, 16 Oktober 2019 Studi Banding oleh Diperta Kab. Tulungagung
Jumat, 15 November 2019 SMA IT Al- Hikmah