Peluang Investasi Kebun Jeruk Keprok Batu 55

[cml_media_alt id='1672']batu55[/cml_media_alt]“Mutu buah jeruk Indonesia kalah bersaing dengan buah impor”, adalah sebuah pernyataan usang yang sudah tidak cocok lagi dengan kondisi terkini.  Ini buktinya, jeruk Keprok Batu 55 yang dihasilkan oleh patani di daerah Kota Batu (Jawa Timur) dan sekitarnya.  Berbagai keunggulan yang dimiliki oleh buah jeruk ini bukan hanya dikenal di wilayah Kota Batu dan sekitarnya tetapi juga sudah populer di kalangan pecinta buah jeruk di Indonesia.  Selain rasanya  yang segar, nutrisi yang terkandung didalamnya tentu lebih unggul dibandingkan dengan buah jeruk impor yang telah melewati masa penyimpanan hinga bulanan.   Bukan hanya itu, jeruk ini ternyata juga berpenampilan menarik karena kulit buahnya juga berwarna kuning-jingga asalkan panen dilakukan pada umur yang tepat.

Prospek invetasi kebun jeruk keprok Batu 55 sangat cerah karena jeruk ini menjadi salah satu buah unggulan nasional yang diandalkan sebagai pengganti jeruk impor yang hingga kini masih marak di seluruh pelosok pasar negeri ini.  Selain budidayanya mudah, jenis jeruk ini memiliki potensi produksi tinggi yaitu bisa mencapai 100 kg/pohon, dan masa produksinya bisa mencapai puluhan tahun.  Dibandingkan dengan buah jeruk siam, harga jual buah jeruk keprok Batu 55 bisa mencapai dua kali lebih mahal sehingga mampu memberikan keuntungan lebih tinggi (efisien).   Besarnya potensi ekonomi yang dimiliki jeruk ini ternyata menarik perhatian para petani dan beberapa pemerintah daerah di Indonesia antara lain Probolinggo, Magetan (Jatim),  Banjarnegara (Jateng), dan Padang (Sumut) untuk turut sera mengembangkannya.

Ketika keinginan investasi kebun jeruk Keprok Batu 55 sudah diputuskan, langkah selanjutnya adalah pemilihan lokasi kebun.  Tahapan ini ada ilmunya dan akan sangat menentukan keberhasilan atau kegagalan investasi sehingga tidak boleh dilakukan asalan.  Pemilihan lokasi yang tepat, yaitu yang karakternya cocok dengan kebutuhan tanaman akan memudahkan pencapaian tujuan mendapatkan nilai ekonomi yang maksimal. Sebaliknya, kesalahan memilih lokasi bukan hanya menyebabkan biaya yang sudah diinvestasikan akan sulit untuk ditarik kembali tetapi bisa menjadi leabilitas yang menguras banyak uang dari kantong.

Berikut ini adalah karakter lingkungan yang harus dipertimbangkan dalam memilih lokasi kebun:

1. Ketinggian Tempat

Di Indonesia, ketinggian tempat atau elevasi mencerminkan kisaran suhu tahunan suatu tempat.  Setiap kenaikan 100 meter dari permukaan laut, suhu udara akan turun sebesar 0,6oC.   Bagi tanaman jeruk Keprok Batu 55 adanya suhu udara yang dingin pada akhir pematangan buah sangat berguna untuk menghasilkan warna kuning-jingga pada kulit buah sekaligus untuk induksi pembungaan.  Oleh karena itu, lokasi ideal untuk investasi jeruk ini adalah daerah pegunungan yang memiliki elevasi sekitar 800 – 1.200 m dpl. dan ada suhu udara dingin pada pertengahan/akhir musim kemarau.

2. Cahaya Matahari

Radiasi matahari (intensitas dan lama penyinaran) merupakan energi vital bagi kegiatan fotosintesis tanaman.  Jeruk keprok Batu 55 akan tumbuh dan berproduksi optimal jika menerima cahaya matahari yang cukup, 8 jam/hari atau lebih.  Jika lokasinya sering berawan (kabut) atau ternaungi oleh pohon-pohon yang tinggi menyebabkan laju pertumbuhan tanaman lambat, percabangannya lemah, malas berbunga/berbuah, hasil buah sedikit dengan mutu kurang baik, serta perkembangan penyakit lebih cepat.

Kondisi lahan daerah pegunungan yang bentuk permukaannya miring justru menguntungkan bagi tenaman jeruk karena drainasenya bisa tuntas. Namun demikian, lahan-lahan yang terlalu curam (kemiringan >30o) perlu dihindari, dan sebaiknya dipilih lahan yang kemiringannya menghadap arah datangnya matahari agar tanaman mendapatkan sumber energi fotosintesis yang cukup.

3. Curah hujan. 

Jeruk keprok Batu 55 bisa dibudidayakan di daerah yang memiliki curah hujan tahunan antara 1.000 – 3.000 mm/th, tetapi yang optimum pada kisaran 1.500 – 2.500 mm/th.   Tanaman ini membutuhkan periode kekeringan (stres air) sekitar 2 sampai dengan 3 bulan terus menerus untuk menginduksi bunga. Secara alami kondisi tersebut biasanya dicapai ketika terjadi periode bulan kering (curah hujan < 60 mm) selama 4 sampai 5 bulan terus menerus. Jika curah hujan terlalu tinggi dan bulan keringnya terlalu singkat menyebabkan pembungaan tidak optimal dan potensi serangan penyakit lebih berat.  Sebaliknya jika bulan keringnya berkepanjangan menyebabkan mutu tanaman dan produksi buah kurang baik karena kekurangan air.

4. Pertimbangan Tanah

Bagi tanaman jeruk, makna tanah adalah sebagai tempat berdiri tegaknya tanaman, tempat mengambil unsur hara dan air, dan tempat pertukaran unsur hara antara tanah dan akar tanaman.  Jeruk keprok Batu 55 mampu tumbuh dan berproduksi di berbagai jenis tanah, tetapi sejauh mana tanaman bisa tumbuh, berkembang dan bertahan hidup di suatu lokasi sangat bergantung pada karakter fisika tanah. Karakter tanah yang ideal  untuk jeruk yaitu lapisan tanahnya dalam dan seragam, tidak ada lapisan keras/padat hingga kedalaman lebih dari 75 cm agar akar tunggang tumbuh sempurna,  tekstur berpasir sampai dengan lempung berpasir, drainase dan airase baik, kedalaman muka air tanah sekitar 100 cm, dan kandungan bahan kasar (batuan) sedikit (< 15%).

Karakter kimia tanah yang ideal untuk tanaman jeruk antara lain  pH tanah 5,5 – 6,5, kapasitas tukar kation > 25 me/100 g, kejenuhan basa > 50%, salinitas < 2 mmhos/cm, dan kandungan karbon organik tanah sekitar 3 – 5%.  Berbeda dengan fisika tanah, kimia tanah yang kurang sesuai lebih mudah diperbaiki dengan pemupukan dan ameliorasi yang relatif murah.  Oleh karena itu dalam pemilihan lokasi kebun, karakter fisika tanah harus diberi bobot nilai lebih tinggi dari kimia tanah.

5. Sumber air

Informasi tentang ketersediaan sumber air yang memadai menjadi penting ketika lokasi yang akan dipilih untuk membangun kebun hanya memiliki distribusi hujan kurang dari 8 bulan. Sumber air yang bisa di kelola masuk ke dalam kebun bukan sekedar akan memudahkan pemeliharaan tanaman tetapi bisa digunakan untuk mengatur pembungaan agar diperoleh panen di luar musim (off season) atau panen sepanjang tahun.

6. Akses jalan usaha

Pada akhirnya sebaik apapun karakter kebun yang dinilai, jika tidak memiliki akses transportasi yang baik maka bobotnya menjadi turun.  Lokasi yang ideal selayaknya memiliki akses transportasi yang baik guna mendukung penyediaan agro input (pupuk, pestisida, alat pertanian) dan pengangkutan hasil panen.   Jika akses jalan menuju kebun memadai, komoditas jeruk keprok Batu 55 sangat cocok dijadikan wisata agro guna lebih memaksimalkan keuntungan.

[cml_media_alt id='1673']Jeruk Keprok Umur [/cml_media_alt]

*Artikel ini telah dimuat dalam Tabloid Sinar Tani Edisi 15-21 Oktober 2014 No. 3578 Tahun XLV

 

Oleh : Sutopo
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan