Pelatihan Budidaya Lengkeng Mendukung Program Revolusi Orange di PTPN VIII

Buah lokal asli Indonesia atau yang disebut sekarang dengan buah nusantara masih kalah bersaing dengan buah impor dalam hal produksi dan distribusi buah. Hal ini bisa kita lihat dengan melimpahnya buah impor di supermarket bahkan sampai ke tingkat pasar tradisional. Dengan melihat kondisi tersebut maka Kementrian BUMN bekerja sama dengan IPB dan Kementrian Pertanian melaunching program “Revolusi Orange”. Program yang dimaksud adalah dengan menyiapkan lahan 3000 ha untuk ditanami buah-buahan dengan harapan beberapa tahun ke depan buah nusantara menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Bisa dikatakan bahwa revolusi orange yang diprogramkan oleh Kementrian BUMN merupakan sebuah terobosan yang cerdas dalam pengembangan buah nusantara.

Salah satu BUMN yang wilayahnya menjadi pengembangan adalah PTPN VIII di Jawa Barat. Untuk menyukseskan program tersebut, PTPN VIII bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura Badan Litbang Pertanian. Balitjestro yang merupakan UPT di bawah Puslitbanghorti diminta untuk melakukan pendampingan teknologi pada komoditas Jeruk, Alpukat dan Lengkeng. Salah satu bentuk pendampingan teknologi adalah dengan pelatihan budidaya tanaman tersebut. Kegiatan ini berdasarkan surat dari manajemen PTPN VIII bernomor SB/II.3/285/I/2014 perihal permohonan Bantuan Narasumber/Tenaga Instruktur Pelatihan Budidaya Tanaman Hortikultura. Narasumber berasal dari dua instansi yaitu Balitjestro (sebagai narasumber dalam budidaya lengkeng, alpukat, dan jeruk) dan Balitbu (budidaya manggis) dengan materi pokok tentang fisiologi tanaman, pembibitan, persiapan lapangan, penanaman, pemeliharaan serta panen dan pasca panen.

Pelatihan dilakukan dengan pembekalan teori di kelas dan praktek lapang. Pelatihan  dibuka oleh kepala bidang aneka tanam dengan peserta pelatihan adalah mandor besar lingkup PTPN VIII yang wilayahnya ada penanaman buah yang dimaterikan berjumlah 28 orang, kemudian dilanjutkan dengan pembekalan teori di kelas. Untuk budidaya lengkeng, pada saat materi di kelas diperoleh informasi dari mandor besar peserta pelatihan budidaya hortikultura bahwa tanaman lengkeng yang sudah ditanam seluas 20 ha di kebun Panglejar dan Miswati. Varietas yang ditanam adalah Itoh, Biao Qiao dan Nang sofila yang ditanam pada bulan November tahun 2013. Pada tahun ini ditargetkan menanam 250 ha dengan ketiga varietas tersebut.

suasana pembelajaran di kelasMateri yang dilakukan pada waktu praktek lapang adalah identifikasi benih yang berkualitas bagus, identifikasi karakter tanaman lengkeng yang menjadi pembeda varietas, identifikasi tektur tanah sebagai dasar pengairan, pemangkasan untuk membentuk arsitektur tanaman, pengukuran pH tanah, cara mengaplikasikan pupuk yang tepat dan pengamatan hama dan penyakit.

Berdasarkan hasil praktek dilapang diketahui bahwa benih yang ditanam tidak seragam (tinggi berbeda dan bercabang). Hal ini akan menyebabkan pengelolaan menjadi lebih sulit jika dibandingkan dengan benih yang seragam. Apabila benih tidak seragam maka seharusnya dikelompokkan berdasarkan keseragaman benih dan ditanam dalam satu blok sehingga akan memudahkan pemeliharaan selanjutnya.

Salah satu parameter untuk membedakan antar varietas adalah warna daun muda. Warna daun muda varietas Itoh adalah hijau muda, sedangkan Biao Qiao berwarna merah. Di lokasi kebun Panglejar ditemukan daun muda varietas Biao Qiao berwarna hijau muda dan merah. Benih yang berdaun muda hijau muda dicurigai berasal dari pohon induk tunggal yang berbeda. Kemungkinan besar berasal dari pohon induk yang berasal dari perbanyakan generatif (biji). Perbanyakan secara generatif (biji) pada tanaman lengkeng beresiko mempunyai segregasi (penyimpangan sifat dengan induk) tinggi disebabkan penyerbukan silang. Sedangkan varietas nangsofila belum diketahui karakter tanamannya sehingga perlu melakukan eksplorasi ke daerah asalnya.

Benih yang ditanam berasal dari perbanyakan secara cangkok. Perbanyakan dengan cara ini mempunyai keunggulan dan kelemahan, keunggulannya adalah sifat yang dimiliki sama dengan induknya (tidak mengalami segregasi), sedangkan kelemahannya adalah tipe akarnya serabut dan tidak mempunyai akar tunggang sehingga akan mudah roboh ketika tanaman sudah besar dan perakaran berada di lapisan atas yang mengakibatkan kemampuan tanaman menyerap air dari dalam tanah rendah. Selain itu, dilapang ditemukan benih yang ditanam sudah bercabang, hal ini disebabkan cabang yang dicangkok bukan diujung cabang melainkan dibawah percabangan. Benih yang baik adalah yang bercabang lurus dengan minimal tinggi 50 cm. Dengan benih yang sudah bercabang maka perlu dilakukan pemangkasan secepatnya agar pertumbuhan lebih optimal dan arsitektur tanaman bisa terbentuk dengan bagus.

Pelatihan Lengkeng

Berdasarkan pengamatan terdapat serangan hama belalang dan pengorok daun, serta tidak ada serangan penyakit. Petugas lapang sudah mengendalikan hama tersebut dengan insektisida. Sedangkan pemupukan yang sudah dilakukan adalah 2 minggu sekali dengan dosis 15 gr NPK (15-15-15). Hal ini kurang efektif dan efisien dikarenakan lengkeng merupakan tanaman tahunan yang respon terhadap pupuk lebih lama dibanding dengan tanaman semusim. Oleh karena itu pemupukan yang dianjurkan adalah dengan dosis 100 gr NPK (15-15-15) dengan interval waktu 2 bulan sekali.

Berdasarkan materi di kelas dan praktek di lapang ada beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti agar tanaman lengkeng yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, yaitu :

  1. Sebelum benih di tanam perlu dilakukan penyeragaman benih dan penanaman dalam satu berdasarkan benih yang seragam untuk memudahkan pemeliharaan selanjutnya.
  2. Pastikan benih yang akan ditanam merupakan varietas yang benar berdasarkan karakternya.
  3. Untuk benih yang sudah ditanam perlu segera dilakukan pemangkasan bentuk agar pertumbuhan tidak terhambat dan arsitektur tanaman bagus.
  4. Manajemen pengairan perlu diantisipasi sedini mungkin dikarenakan benih yang berasal dari cangkok berakar serabut.
  5. Pemupukan yang dianjurkan untuk tanaman lengkeng berumur satu tahun adalah dengan dosis 100 gr NPK (15-15-15) dengan interval waktu 2 bulan sekali.
  6. Monitoring hama dan penyakit perlu dilakukan secara rutin.

Perjalanan “Revolusi Orange” menuju kesuksesan masih panjang dan berliku, pelatihan ini hanya sebuah tahap menuju keberhasilan. Ketrampilan petugas lapang yang sebelumnya mengelola tanaman teh dan sekarang harus mengelola tanaman buah-buahan perlu ditingkatkan kualitas SDM-nya dengan pelatihan yang intensif. Selain itu juga diperlukan dukungan teknologi dan saprodi yang tepat  sehingga permasalahan yang dihadapi bisa diatasi dengan baik. [Fanshuri, B A]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event