Pelatihan Budidaya Alpukat di PTPN VIII

Pelatihan budidaya tanaman hortikultura yang terdiri dari tanaman Manggis, Jeruk, Lengkeng dan Alpukat  diselenggarakan PTPN VIII Jawa Barat untuk Mandor Besar dan Petugas Khusus Hortikultura sebanyak 28 orang, dalam rangka untuk meningkatkan kualitas SDM  dalam bidang manajemen tanaman hortikultura lingkup PTPN VIII. Waktu pelatihan dimulai tanggal 17 sampai dengan 20 April 2014, jadwal pelatihan teori tanggal 17-18 April 2014 diberikan dalam kelas di Pusdiklat Maswati (420 m dpl), praktek lapang dan diskusi tanaman jeruk (680 m dpl) dan lengkeng (530 m dpl) dilaksanakan tanggal 19-20 April 2014 di kebun Panglejar – Bandung  sedangkan tanaman manggis dan alpukat ( 1100 m dpl) dilaksanakan di kebun Gunung Mas – Bogor.

Pelatihan secara resmi dibuka oleh Administratur Kebun Panglejar yaitu Ir. Agus Mulyana sedangkan kata sambutan disampaikan oleh Kepala Urusan Aneka Usaha (Ir. Ara Suhara). Dalam kata sambutan, Kepala Urusan Aneka Tanaman menyampaikan bahwa pelatihan yang diselenggarakan PTPN VIII adalah untuk menambah wawasan dalam budidaya tanaman hortikultura yang baru diusahakan oleh PTPN VIII dan menyerap ilmunya untuk dapat diterapkan. Nara sumber berasal dari Balitbu Tropika Solok, Dr. Matias yang menyampaikan materi tanaman manggis, Balitjestro Ir. Sutopo, MSi., Setiono, SP., dan Buyung Alfanshuri, SP masing-masing menyampaikan materi tanaman jeruk, alpukat serta lengkeng.

Kondisi tanaman alpukat di lapang menunjukkan pertumbuhan yang cukup beragam, yaitu; sedang tumbuh  tunas, kondisi awal benih yang ditanam kurang optimal, dan masih banyak  dijumpai batang yang bengkok (±10 cm dari batas bidang sambungan), sehingga dibagian bawah bagian yang bengkok banyak tumbuh tunas baru dan bagian atas kurang tumbuh tunas menyebabkan pembentukan arsitektur (kerangka tanaman) sulit dicapai dengan optimal  (gambar 1).

pelatihan di PTPN 8

Konsep pembentukan arsitektur pohon yaitu:  pada ketinggian ± 50 cm dari leher akar/permukaan tanah harus dipelihara batang yang pertumbuhannya lurus dan tidak boleh ada tunas yang tumbuh dan nantinya berfungsi sebagai batang utama (batang primer), kemudian dibagian atasnya ditumbuhkan dan diseleksi 3 (tiga) cabang yang terbaik untuk digunakan sebagai cabang utama (cabang primer) , dari masing-masing cabang ini dipelihara 3 (tiga) cabang kedua (cabang sekunder) dan cabang selanjutnya ditumbuhkan sebagai cabang ketiga (tersier) yang menghasilkan buah alpukat.

Dari kondisi percabangan tanaman yang ada telah dilaksanakan praktikum pembentukan arsitektur pohon dilapang terhadap 5 tanaman alpokat  dengan hasil pemangkasan beragam seperti pada gambar 2.

pelatihan di PTPN 8 Alpokat

Berdasarkan tipe bunganya, bahwa tanaman alpukat ada yang mempunyai tipe bunga A dan ada yang mempunyai tipe bunga B. Tanaman alpukat bertipe bunga A yang ditanaman dengan tipe bunga A akan menghasilkan produksi buah rendah demikian pula pada tipe bunga B. Untuk mendapatkan produksi buah alpukat yang maksimal, dalam penanamannya harus diatur  pola tanam yang benar agar terjadi penyerbukan sempurna sehingga produktivitas tinggi.  Beberapa varietas alpukat dengan tipe bunga A : Ijo Panjang, Ijo Bundar, Merah Panjang, Merah Bundar, Hass, Dickinson, varietas dengan tipe bunga B: Fuerte (Fuertindo), Winslowson, Queen.

pelatihan di PTPN 8 Alpokat - Balitjestro

Di kebun Gunung Mas, ditanam alpukat varietas Fuertindo (tipe bunga B) seluas 20 ha (2000 pohon) diantara tanaman teh dengan jarak tanam 10m x 10m, telah   berumur 4 bulan setelah tanam (gambar 3), sehingga diperlukan penanaman varietas lain yang bertipe bunga A. [setiono]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event