Pelatihan Agribisnis Jeruk di Batang

Batang adalah salah satu daerah yang menerima program sejuta benih jeruk gratis pada tahun 2018. Setidaknya 35 ribu benih sudah terdistribusi dan tertanam oleh petani yang tersebar di 13 Kecamatan dan 1 kebun instansi di Batang, dengan luas total 70 hektar. Lokasi penanaman ini berdasarkan CPCL yang diajukan. Pengembangan kawasan agribisnis jeruk di Batang dilakukan dengan survei kondisi umum dan lokasi demoplot, pelatihan dan penguatan kelembagaan, membuat demoplot dan pengawalan atau pendampingan teknologi.

Pada Selasa, 6 Agustus 2019, Tim dari Balitjestro memberikan pengawalan program dalam bentuk bimbingan teknis dengan tajuk pelatihan: Membangun Agribisnis Jeruk di Batang yang tangguh. Pengisi selain dari Balitjestro, mengundang pula pakar kelembagaan dari BPTP Jawa Tengah. Sedangkan pada Rabu, 7 Agustus 2019 dilakukan monitoring langsung ke kebun petani yang menanam jeruk sekaligus berdiskusi mengenai perkembangan dan kendala yang dialami.

Lokasi pelatihan dilakukan di Kebun Balai Benih Pertanian Clapar, Jl. Raya Clapar Kec. Subah.  Di lokasi ini ditanam jeruk varietas Siam Pontianak dan Terigas seluas tiga hektar. Kebun ini diproyeksikan menjadi kebun wisata agro pada masa mendatang. Materi yang diberikan yaitu: Profil: Pendampingan Jeruk di Batang (Susi Wuryantini, SP., MP), Manajemen Usahatani Jeruk (Lyli Mufidah, SE., MSi), Pembinaan Kelembagaan (Ir. Cahyati Setiani, MSi), Peluang dan Tantangan Pemasaran Jeruk (Zainuri Hanif, S.TP., M.Agr) dan Persiapan Pembuahan Tanaman Jeruk (Dwi Agung Susanto, SP dan Ady Cahyono, SP).

Peserta pelatihan berjumlah 100 orang dari unsur petani, penyuluh dan dinas pertanian Kabupaten Batang. Pelatihan ini bertujuan untuk mempersiapkan panen perdana yang ditargetkan berlangsung tahun depan, sekitar bulan Juni-Juli 2020. Beberapa varietas jeruk yang ditanam, seperti jeruk siam dan keprok RGL sudah siap dibuahkan. Tahun ini beberapa petani melaporkan telah berbuah, namun bunga dan buah yang ada disarankan untuk dibuang agar arsitektur percabangan tanaman lebih berkembang baik.

Praktek pijat lengkung (pikung) yang dilakukan di kebun Clapar menjadi sesi penutup yang dinanti oleh para petani. Peserta dibagi menjadi dua grup dengan instruktur Ady Cahyono dan Dwi Agung Susanto. Selain mendengarkan teori di lapang, masing-masing dipersilahkan praktek pikung pada tanaman jeruk yang ada di kebun Clapar. Pada tahap awal penanaman jeruk, hal yang perlu diperhatikan adalah pembentukan Teknik arsitektur percabangan tanaman jeruk. Beberapa petani masih salah dalam memahami pentingnya pemangkasan, dimana akhirnya penampilan tanaman jeruk justru tidak bisa menopang buah di awal pertumbuhan.

Pada sesi kunjungan lapang, peneliti dan teknisi menemukan berbagai permasalahan di lapang. Beberapa diantaranya adalah serangan hama seperti kutu sisik dan ulat daun serta tanaman sela yang justru bisa mengganggu pertumbuhan jeruk, yaitu jagung. Arahan untuk perbaikan budidaya jeruk diberikan. Dan peran Dinas Pertanian dalam monitoring perkembangan tanaman jeruk ini menjadi faktor kunci keberhasilan petani jeruk di Tuban yang memproklamirkan diri sebagai “Republik Jeruk”. Kita akan buktikan nanti, apakah dalam setahun ke depan petani di Tuban bisa panen jeruk? (zh_2019)