Pelatihan Agribisnis Jeruk, Anggur dan Apel di Kabupaten Batang

Dalam rangka pelaksanaan pengembangan kawasan hortikultura khususnya jeruk anggur dan apel, Dinas Pangan dan Pertanian kabupaten Batang mengalokasikan kegiatan pendampingan teknologi komoditas jeruk, anggur dan apel. Salah satu bentuk kegiatan pendampingan teknologi adalah dengan menyelenggarakan pelatihan untuk pertugas dan petani. Pelatihan yang dilaksanakan di desa Brayo kecamatan Wonotunggal bertajuk Pelatihan Agribisnis Jeruk, Anggur dan Apel diselenggarakan pada tanggal 2-3 Februari 2021.  

Jeruk di batang ditanam sejak tahun 2018 hingga 2019. Benih bantuan dari balitbangtan sebanyak 43.840 yang dikirim bertahap mulai 2018 sampai 2020. Jeruk yang ditanam terdiri dari 7 (tujuh) varietas yaitu : Siam Pontianak, Keprok Terigas, Siam Madu, Keprok RGL, Keprok Batu 55 dan Krisma Agrihorti. Tanam perdana jeruk dilakukan di kebun Balai Benih Hortikultura Clapar pada bulan April 2018.

Bertolak dari keberhasilan penanaman jeruk di wilayah Batang, Dispaperta Batang melakukan pengembangan wilayah kawasan hortikultura dengan melakukan penanaman komoditas anggur dan apel. Tanaman anggur ditanam sebanyak 9.000 batang dan diadakan secara mandiri oleh Dispaperta dengan membeli dari KPRI Citrus.

Untuk tanaman apel ditanam sebanyak 800 tanaman, yang terdiri dari 300 tanaman bantuan dari Balitbangtan (Balitjestro) dan 500 tanaman diadakan secara mandiri. Semua benih anggur dan apel sudah tertanam. Untuk anggur tersebar di 6 desa pada 6 kecamatan, dan apel di 2 desa dalam dua kecamatan. Untuk pemeliharaan tanaman lebih lanjut diadakan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan para petani dan petugas, karena komoditas tersebut merupakan komoditas baru di Batang.

Materi pelatihan untuk anggur dan apel lebih difokuskan pada teknologi budidaya pada fase vegetatif tanaman pada awal tanam, sedangkan untuk materi jeruk lebih ditekankan pada diskusi dan problem solving mengenai permasalahan yang dihadapi petani di lapang sesuai dengan fase pertumbuhan dan lokasi kebunnya.

Sebelum pelatihan dilaksanakan para petani jeruk diminta mengumpulkan informasi berupa gambar atau video permasalahan yang dihadapai dan hal tersebut yang menjadi topik  bahasan dalam pelatihan yang dilaksanakan. Hal tersebut dinilai lebih efektif dalam transfer teknologi yang dilakukan, sehingga pemahaman petani lebih tinggi. Pada kesempatan tersebut juga dilakukan peninjauan lapangan ke lahan yang ditanaman apel, yang berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl.

Agenda
No event found!