Panaskan Media Kultur Jaringan, Ukur pH

[cml_media_alt id='1665']Kultur Jaringan Balitjestro Indonesia[/cml_media_alt]

Setiap praktisi kultur jaringan, pasti pernah menyiapkan media tumbuh. Sebagian dari mereka bahkan selalu terlibat untuk memastikan “kebenaran” media yang digunakannya. Media tumbuh kultur jaringan memang terlihat sederhana. Namun, sesungguhnya, faktor terbesar yang mempengaruhi keberhasilan kultur jaringan adalah penyiapan media yang komposisi  dan sifatnya yang benar. Oleh karena itu, pada level laboratorium tertentu, standarisasi penyiapan media tumbuh sangat diperhatikan.

Tentu banyak faktor yang menentukan “kebenaran” media tumbuh itu.  Salah satunya adalah pemanasan media sebelum pengukuran pH media. Perlukah pemanasan media kultur jaringan sebelum pengukuran pH. Ternyata penting sekali. Saya membuat disain observasi untuk memastikan pH media yang saya gunakan di laboratorium kami di Balitjestro.

Delapan macam media dasar digunakan seperti ditunjukkan oleh tabel, mengikuti aturan konsentrasi yang ditentukan oleh produsen dan publikasi. Media dasar tersebut diperkaya oleh 30 g/L gula, 100 mg/L myo-inositol tanpa zat pengatur tumbuh dilarutkan di dalam aquades dengan pH 5.8. Pengukuran pH dilakukan tanpa agar di dalam komposisi media yang diamati.

Larutan media dicampurkan dari stok (yang disiapkan secara langsung) dan volume ditetapkan sesuai konsentrasi. pH media diukur sebelum dipanaskan (pH0) kemudian sebagian media dipanaskan hingga mendidih selama 1-2 menit, sementara lainnya tanpa pemanasan. Semua media diatur memiliki pH 5.6 (pHs) sebagai pH standar menggunakan pH meter elektronik. Setiap pengukuran dilakukan menurut standarisasi pengukuran pH larutan. Setelah pH meter menunjukkan angka yang tetap masih dibiarkan selama 2 menit untuk memastikan nilai pH media yang diperoleh. Setelah proses autoclave, media yang dingin kembali diukur untuk mengetahui pH media terkini yaitu media tanpa pemanasan (pHtd) dan yang dididihkan selama 1-2 menit (phd).

Hasilnya dapat dilihat pada tabel. Pemanasan ternyata benar-benar mempengaruhi nilai pH media setelah sterilisasi basah menggunakan autoclave elektrik. Setiap jenis media dasar memiliki pH yang berbeda. Ini tentu akibat komposisi nutrisi “elemen makro-mikro’ dominan yang berbeda. Penyiapan media tanpa pemanasan sebelum pengukuran pH menyebabkan penurunan pH media yang signifikan besarnya. Media MS yang paling banyak digunakan, mengalami pengurangan pH (D) sebanyak 0.34 dari pH yang ditetapkan sebesar 5.6 pada saat penyiapan media. Hal yang sama terjadi pada 7 media lainnya. Penurunan pH tertinggi dijumpai pada media Nitsch yaitu 0.59.

Penurunan pH (D) lebih rendah dijumpai pada media yang dipanaskan sebelum pengukuran pH. Pada table 2 dapat kita lihat bahwa penurunan hanya berkisar antara 0.12 sd 0.37. Observasi dasar ini memberi wawasan akan pentingnya pengetahuan kimia dasar dalam menyiapkan media kultur jaringan. Kelarutan bahan kimia akan lebih tinggi dengan bantuan pemanasan. Keseimbangan reaksi yang terjadi akan mempengaruhi ketersediaan ion penyumbang sifat asam dan basa di dalam media. Keberhasilan menumbuhkan sel/organ dipengaruhi kuat oleh pH media. Kehati-hatian dalam menyiapkan media mengurangi resiko pertumbuhan sel/organ yang buruk, bukan karena salah komposisi tetapi oleh pengelolaan pH media yang tidak benar.*** (Dita AGISIMANTO, Laboratorium Kultur Jaringan-Kelti Pemuliaan).

[cml_media_alt id='1661']pHMediaDenganPemanasan[/cml_media_alt]
pH Media dengan Pemanasan
[cml_media_alt id='1662']pHMediaTanpaPemanasan[/cml_media_alt]
pH Media Tanpa Pemanasan
Tabel 1.  Keragaman pH media dasar kultur jaringan yang disiapkan tanpa pemanasan sebelum pengukuran pH media

 

Oleh : Dita Agisimanto
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan