Pamelo Unggul Pilihan Pekebun

Trubus 570 – Mei 2017/XLVIII: 20-21

Pamelo yang sesuai untuk dikebunkan: daging merah, rasa manis, tanpa rasa getir, dan produktif.

Mula-mula Tatang Halim menanam pamelo muria di pot pada 2009. Ia meletakkan tanaman buah dalam pot atau tabulampot pamelo itu di dak rumah di Muarakarang, Jakarta Utara. Produksi jeruk bali asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, itu produktif. Tinggi tanaman 2 m mampu menghasilkan delapan buah seukuran bola sepak takraw. Untuk menopang buah agar tangkai tidak patah, Tatang Halim menyangga dengan dua bambu.

Bobot rata-rata mencapai 1,7 kg per buah. Kemudian ia menanam bibit pamelo muria itu dalam planter bag di kebun di Kecamatan Legak, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, pada 2014. Pamelo itu juga produktif. Pada umur 2 tahun Citrus maxima itu mulai berbunga dan berbuah terus-menerus. Ada buah sebesar 20 cm, buah sebesar kepalan tangan, dan ada bunga yang baru terbentuk. Daging buah merah, manis dan nyaris tanpa getir, persis seperti karakter buah di daerah asal.

Preferensi konsumen

Pada saat yang sama Tatang menanam 50 bibit pamelo muria langsung di tanah. Ia memperoleh bibit dari penangkar bibit di Kudus. Tanaman tumbuh jauh lebih tinggi daripada di planter bag. Pertumbuhan tanaman cukup baik dan tajuk lebat. Pohon jeruk bali yang kini berumur 2 tahun itu belum berbuah. Tatang memperkirakan, jeruknya berbuah setelah berumur 2,5-3 tahun.

Menurut peneliti jeruk di Balai Penelitian Jeruk dan Tanaman Subrapika (Balitjestro), Ir. Arry Supriyanto, M.S., bila ingin mengebunkan pamelo, pilih sesuai selera masyarakat. “Ada beberapa kriteria pamelo yang disukai kansumen, yaitu daging berwarna merah, rasanya enak dan segar, dan tanpa biji,” ujar peneliti utama di Balitjestro itu. Dari beberapa pamelo yang pernah diamati, ada beberapa jenis unggul lokal tumbuh di Indonesia.

Menurut Arry beberapa pamelo lokal unggulan itu berada di Kabupaten Pangkejene Kepulauan (Pangkep), Provinsi Sulawesi Selatan. Ada juga di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Nangroe Aceh Darussalam. Pemerintah telah merilis pamelo bageng dari Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, dan jeruk nambangan di Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur.

Pamelo yang dikembangkan Tatang Halim mirip dengan pamelo bageng, varietas unggulan nasional yang dirilis pemerintah pada 3 Februari 2010. Varietas unggul itu mempunyai percabangan yang lurus ke atas. Bentuk buah bulat, diameter 19-23cm. Bobot per buah 2,68-3 kg. Warna kulit buah matang hijau kekuningan dengan ketebalan kulit l,5-2,5cm. Warna daging buah merah, lembut, manis dengan tingkat kemanisan l Osbriks. Ia memiliki 13-14 juring.

Pamelo Thailand

Tekstur daging pamelo milik Tatang Halim itu mengingatkan Trubus pada khao yai di Thailand. Saat mencicip daging buah pamelo itu, rasanya nikmat sekali. Bulir daging buah kering. Saat gigi memecah bulir segera airnya rnengisi rongga mulut. Rasanya manis dan segar, jauh dari getir. Serasa makan jeruk keprok yang telah dibersihkan kulit luar dan kulit arinya, tetapi dengan cita rasa pamelo.

Perbedaannya dengan jeruk milik Tatang hanya pada kandungan air. Daging jeruk milik Tatang lebih berair, sedangkan khao yai lebih kering. Pedagang buah di Thaiand mulai dari pinggir jalan hingga toko buah banyak rnenjajakan khao yai. Mereka mengupas kulit luar dan kulit ari. Daging pamelo itu kemudian ditata dalam kotak makan stirofoam.

Khao yai hanya satu dari 6 varietas pamelo yang dikembangkan Thailand. Jenis lain ialah khao namphung, thong di, khao taeng kwa, khao pan, dan yang terbaru siam pearl. Mutiara siam berdaging buah sangat menarik, merah cerah, daging lembut, manis, kering, dan tanpa rasa getir. Namun, varietas baru itu masih memiliki banyak biji. Thailand mengembangkan varietas unggulan itu di Nakon Chaisri dan Nakon Ratchasima, dua daerah dataran rendah. Kedua daerah itu ditempuh dua jam perjalanan dari Bangkok.

Balai Penelitian Jeruk dan Buah Sub-tropik di Tlekung, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur juga berhasil melepas satu varietas unggul yaitu pamindo agrihorti. Menurut Arry Supriyanto pamindo agrihorti memiliki keunggulan biji sedikit, bahkan tanpa biji. Varietas baru itu hasil pemuliaan jeruk nambangan dengan teknik sinar gamma. Penyinaran oleh tim pemulia Balitjestro) serta Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan).

Para peneliti itu di antaranya: Chaerani Martasari, Farida Yuliati, Dita Agisimanto, dan Hidayatul Arisah. Setelah melewati berbagai uji stabilisasi dan evaluasi selama 5 tahun, dipastikan pamelo itu telah stabil sifatnya, buah tanpa biji, daging merah, dengan rasa manis. Pemerintah melepas sebagai jeruk unggul nasional berdasarkan SK Menteri Pertanian no 017/Kpts/SR.120/0.2.7/2/2016. Jeruk bali itu mengandung vitamin C 34, 40-58 mg per 100 gram, kandungan gula 8-10, 6° brix, serta bobot buah rata-rata 660-1470 gram per buah.

Jeruk itu mempunyai potensi besar untuk dikembangkan secara luas. Pamindo agrihorti dapat beradaptasi dengan baik mulai dataran rendah hingga dataran tinggi tanpa berubah sifat. Jeruk itu mampu berproduksi 65-79 buah perpohon sehingga cukup produktif dengan rata-rata 60-85 kg per pohon setiap tahun. (Syah Angkasa)