Pak Ladi, Salah Satu Potret Keberhasilan Petani Jeruk Malang

ladijeruk
Pak Ladi sedang berbagi pengalaman tentang jeruk kepada tamu dari Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan

Berawal dari tengkulak jeruk, lelaki paruh baya ini mempunyai niatan untuk menanam sendiri jeruk di lahan miliknya. Ladi petani jeruk dari Malang ini memulai bertani jeruk setelah melihat prospek jeruk yang sangat terbuka untuk dikembangkan saat dia menjadi tengkulak. Dari pengalaman itu dia berfikr kenapa tidak menanam sendiri jeruk yang ternyata hasilnya cukup bagus dan konsumennya cukup besar di Indonesia. Itulah yang mendasari dia untuk menanam sendiri jeruk kemudian hasilnya dijual sendiri ke berbagai daerah.

Menurutnya faktor utama dalam menanam jeruk adalah kualitas benihnya, disamping lahan dan lokasi. Karena dengan benih tersebut maka tanaman dapat tumbuh baik, hasil panen tinggi serta umur produksi lama. Itulah yang dia lakukan sebelum menanam yaitu mencari dulu benih yang benar-benar berkualitas, bebas penyakit dan jelas varietasnya (benih berlabel biru).

Di Usianya yang sudah tidak muda lagi dia mengelola kebun dengan dibantu oleh 2 tenaga kerjanya yang setiap hari merawat tanaman jeruk di lahan. Dengan lahan seluas 1 ha,pak Ladi membudidayakan tanaman jeruk Siam Pontianak. Sekarang ini umur tanaman 5 tahun dan telah beberapa kali panen. Pada saat tanaman masih umur 3 tahun yang merupakan awal masa panen, hasil yang di dapat mencapai 30-50 kg/pohon (dalam satu tahun masa panen). Dengan asumsi harga Rp 7-10 rb /kg dapat kita kalikan bahwa 1 pohon mencapai ratusan ribu rupiah apabila dikalikan dengan jumlah pohon hasilnya mencapai ratusan juta rupiah. Saat ini tanaman jeruknya dengan pemeliharaan yang rutin  per pohon bisa mencapai 100 kg (dalam satu tahun masa panen) sehingga hasil yang didapat terus meningkat.

Menurut lelaki tamatan SR (Sekolah Rakyat) ini, belajar bertani jeruk itu tidak ada habisnya, Untuk itu dia selalu mencari informasi dari daerah sentra penghasil jeruk di Indonesia. Mulai dari Brastagi, Mamuju, Sambas sudah dia kunjungi untuk belajar tentang jeruk. Sekarang hasilnya sudah dapat dilihat dan berhasil setelah mengadopsi berbagai macam cara budidaya jeruk.

Saat ini jeruk siam Pontianak miliknya telah didistribusikan di beberapa kota maupun provinsi di Indonesia, mulai dari Jawa Timur, Jakarta, Semarang, Solo, Jogjakarta dan berbagai daerah lain di Pulau Jawa. Permintaan jeruk juga tetap tinggi meskipun jeruk impor banyak beredar di pasar. Menurutnya untuk bersaing kualitas jeruk harus diperhatikan, jangan asal panen saja. Petani wajib tahu seluk beluk jeruk sehingga kebutuhan tanaman jeruk dapat kita penuhi. Itulah mengapa jeruk yang dia tanam kualitasnya bagus dan rasanya pun manis tidak kalah dengan impor. “Buat apa impor jeruk kalau jeruk kita lebih enak dibanding impor”, itulah yang dikatakan pak Ladi ketika melihat banyaknya jeruk impor yang ada di pasar.

Untuk menjaga kualitasnya perawatan terus menerus rutin dilakukan. Hal utama yang dia perhatikan adalah ukuran buah, rasa manis dan tampilan jeruk harus bagus untuk menarik konsumen. Untuk itu harus dilakukan pemupukan, pengairan, pemangkasan, penjarangan buah, serta pengendalian hama penyakit yang tepat, karena jeruk termasuk tanaman yang memerlukan pemeilharaan lebih intensif dibanding tanaman tahunan lainnya.

Di samping di dikirim ke luar daerah, pada saat liburan bersamaan dengan masa panen, lahan miliknya juga dijadikan lokasi wisata petik jeruk. Pengunjung yang datang sangat ramai yang berasal dari Malang maupun luar daerah. Pendapatannya pun semakin bertambah dengan adanya wisata tersebut.

Ulet, telaten dan sabar itulah kunci keberhasilan pak Ladi dalam bertani jeruk. Dengan semangat  tersebut saat ini ia  telah menuai keberhasilan dalam bertani jeruk dengan di dasari prinsipnya yaitu  “Rawatlah tanaman seperti merawat anak kita sendiri!” [fajar/balitjestro]

 

Tinggalkan Balasan