Model Pengembangan Agribisnis Kebun Jeruk Rakyat

(Model Of Agribusiness Development Of Community-Based Citrus Orchard)

Prosiding Seminar Nasional Jeruk 2007 Yogyakarta, 13 – 14 Juni 2007, hal. 31-46

Arry Supriyanto

Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

 

Abstrak :

Dalam lima tahun terakhir, perkembangan agribisnis jeruk di Indonesia cukup mengesankan. Pada tahun 2006, total produksi mencapai 2.565.543 ton dari luas panen 72.390 ha dan menempatkan Indonesia dalam sepuluh besar produsen utama jeruk dunia; bahkan dalam kelompok jeruk keprok (Mandarin, Tangerine, Clementine, dan Satsuma), Indonesia menempati peringkat kedua setelah Cina. Jumlah jeruk yang diimpor cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun, meskipun tetap ada jeruk yang diekspor dalam jumlah yang terbatas. Meskipun produktivitas jeruk nasional relatif tinggi, mutu buah yang dihasilkan rendah dan beragam akibat lemahnya kelembagaan petani dan kawasan sentra produksi yang belum berupa hamparan melainkan agregat dari kebun-kebun milik petani yang sempit dan terpencar-pencar, sehingga menyebabkan lambatnya proses adopsi teknologi dan lemahnya posisi tawar petani. Penguatan kelembagaan petani terutama Kelompok Tani menjadi titik ungkit pengembangan agribisnis jeruk yang kompetitif dan berkelanjutan. Kemandirian dalam memenuhi kebutuhan bibit untuk penanam baru maupun penyulaman mutlak diperlukan bagi pengembangan kawasan sentra agribisnis jeruk masa kini. Penyusunan “Standard Operating Procedure” (SOP) harus segera dilakukan dan disosialisasikan lebih optimal dengan Kelompok Tani sebagai unit terkecil pembinaan. Penggabungan Kelompok Tani menjadi Gabungan Kelompok Tani/Gapoktan maupun Asosiasi akan berlangsung dengan sendirinya sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan para anggota Kelompok Tani seperti pembangunan bangsal pengemasan dan produk olahan lainnya. Dalam waktu yang bersamaan, semua pelaku agribisnis di kawasan sentra produksi harus mulai bersinergi dalam upaya menata pengelolaan rantai pasok yang lebih efisien. Kondisi agribisnis jeruk rakyat modern tersebut di atas tidak akan terwujud tanpa bantuan pemerintah daerah dalam membangun infrastruktur yang diperlukan dalam rangka mewujudkan agribisnis jeruk modern yang kompetitif dan berkelanjutan di Indonesia.

 

Abstract :

Within the last five years, development of citrus agro business in Indonesia was very impressive. In 2006, total production of 72,390 ha harvesting area was 2,565,543 ton, and put Indonesia in the biggest ten citrus production in the world; even in mandarin group (Mandarin, Tangerine, Clementine and Satsuma), Indonesia was in the second place after China. The quantities of imported citrus tend to increase year-by-year, but there were also exported citrus even though in limited quantities. Although the productivity was relatively high, the quality of the fruits was low and heterogeneous due to weakness of grower groups and the central production consists of many small and scattered orchards owned by grower instead of vast orchards. This condition caused the adoption of recommended technology was running slowly and created low bargaining position for growers. Empowerment of citrus grower organization or citrus grower’s groups will be a leverage point to start citrus agro business development which is competitive and sustainable. Establishing a strong citrus nursery industry is needed to fulfill the citrus stock both for new plantation and second planting. A specific stakeholders and location of Standard Operating Procedure for citrus production should be formulated soon and socialized properly to citrus growers with grower’s group as the smallest training unit. Uniting of some Citrus Grower’s Groups which are closely located into Citrus Grower’s Groups Affiliation or Association will happen occasionally following the member and organization needs i.e. establishing packing house and producing processed products. At the same time, all agro business players on the central citrus production area play in a role to synergy their activities in order to manage supply chain be more efficient. The modern condition of community based citrus industry will not be realized without the role of government to facility the infrastructure establishment needed to realize the competitive and sustainable modern citrus agro industry in Indonesia.

 

Artikel lengkapnya bisa di download disini atau disini

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event