Menjelang Lebaran, Jeruk Keprok Batu 55 Menjadi Buruan

Panen Jeruk Keprok Batu 55Jeruk Keprok Batu 55 mulai dikenal gaungnya, namun masyarakat masih sulit menjumpai buahnya, apalagi yang jauh dari Jawa Timur. Maklum saja, daerah sentra pengembangannya masih terbatas di Batu dan Kabupaten Malang yang luasnya diperkirakan mencapai 300 hektar. Kawasan lain sedang merintis menanam Jeruk Keprok Batu 55 maupun jenis jeruk keprok lainnya.

 

Jeruk Keprok Batu 55 jika dalam keadaan matang optimal, warnanya bisa kuning merata. Jeruk ini rasanya manis sedikit masam dengan kadar 10-12 obrix. Produktivitasnya pun cukup tinggi yaitu 40-60 kg/pohon. Pengembangan jeruk keprok batu 55 cocok untuk daerah dataran tinggi 700-1200 mdpl. Kondisinya yang segar dan warnanya kuning menjadi daya tarik sendiri. Jeruk ini mampu menjadi pesaing jeruk impor yang melimpah di pasar swalayan sampai pedagang kaki lima.

 

Menjelang lebaran ini, jeruk Keprok Batu 55 menjadi buruan untuk buah meja. Harga normal yang biasanya mencapai Rp 10.000,- sampai Rp 15.000,- per kg, saat ini turun menjadi Rp 5.000, – (grade C) sampai Rp 8.000,- per kg (grade A) di tingkat petani.

 

Jarwo, salah satu petani di Selokerto mengaku tetap bisa menikmati keuntungan yang lumayan meskipun harga turun. Jarwo tidak tahu persis penyebab turunnya harga. Di tengah panen raya yang biasanya harga tetap tinggi, permintaan pun selalu meningkat. Bahkan sampai sekarang tidak tetangani sepenuhnya. Namun, ia kali ini sangat heran justru di tengah tingginya permintaan lebaran, harga turun signifikan.

 

Diperkirakan banyaknya buah yang panen raya yaitu melon, blewah, semangka dan berbagai buah lainnya untuk konsumsi puasa dan lebaran membuat harga jeruk keprok Batu 55 turun. Penyebab lainnya sepeti permainan para tengkulak perlu dikaji dengan lebih mendalam untuk dicari solusinya. Petani Jeruk di Selokerto memang tidak mempunyai satu wadah khusus untuk menampung hasil panennya. Sehingga ketika panen, mereka langsung berhadapan dengan pedagang yang tentunya ingin mencari keuntungan lebih.

 

Haryono, petani jeruk keprok lainnya mengaku menikmati saat dimana jeruk keprok Batu 55 dengan harga tinggi yaitu mencapai Rp 20.000,- (grade A). Harga yang tinggi ini terjadi pada saat dibatasinya jeruk impor dan berbagai produk hortikultura masuk Indonesia tahun lalu pada saat panen yaitu bulan Juni-Agustus. Jeruk berkualitas grade A biasanya mencapai 40% dari hasil panen.

Pedagang Jeruk Keprok batu 55

 

Suko Aji, pedagang jeruk di Seloketo mengatakan selama ini tujuan pengiriman jeruk yaitu kota Jakarta, Semarang dan Surabaya. Harga jual di kota besar di Jawa mencapai Rp 20.000,-. Dalam sekali pengiriman 2-5 ton buah langsung ludes. Maka tidak heran ia berani mengambil resiko dengan buah jeruk yang dipanen dalam kondisi matang optimal dengan kulit kuning merata.

 

Di Balitjestro terdapat visitor plot untuk wisata jeruk. Meskipun open house baru dilaksanakan pada 13 dan 14 Agustus 2014, saat ini sudah banyak masyarakat yang datang dan ingin membeli jeruk untuk oleh-oleh. Permintaanpun tidak semua tertangani, apalagi jika membeli dalam jumlah banyak. [zh/balitjestro]

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event