Mengenal Buah Subtropika : Tin

Half and whole figs on gray cement or stone background.

Tin (Ficus carica L.) adalah salah satu spesies Mediterania tradisional yang termasuk dalam famili Moraceae (Ikten, Solak, & Yilmaz, 2018; Vallejo, Marin, & Tomas-Barberan, 2012). Berdasarkan catatan sejarah, tin termasuk tanaman buah tertua di dunia (Solomon et al., 2006) dan dianggap sebagai simbol kehormatan serta kesuburan (Leonel, 2008).

Tanaman ini dapat beradaptasi di berbagai kondisi (kekeringan dan suhu dingin -9o0oC), bahkan di padang pasir sekalipun, sehingga terkadang disebut sebagai pohon kehidupan (Refli, 2012). Tanaman tin telah masuk ke Indonesia pada abad ke-19 dan beradaptasi. Salah satu keuntungan budidaya tin di wilayah tropis adalah kemampuannya berbuahsepanjang tahun (Masithah, 2018).

Kandungan gizi dan fitokimia dari buah tin yang dibudidayakan di Indonesia tidak jauh berbeda dengan produksi luar negeri, di mana bermanfaat bagi kesehatan dan memberi peluang untuk dibudidayakan secara luas (Damanik, 2014).

Meski asal tanaman prasejarah ini tidak diketahui dengan pasti, namun diyakini tin berasal dari sebelah barat Asia (Stover, Aradhya, Ferguson, & Crisosto, 2007). Informasi lain menyatakan bahwa tanaman tin adalah spesies tanaman yang berasal dari daerah cekungan (basin) Mediterania (Berg, 2003), ditemukan menyebar di daerah tropis dan subtropis.

Tanaman tin sangat banyak dibudidayakan diberbagai belahan dunia, karena mudah beradaptasi pada tanah dan iklim setempat (Czaja, Moreira, Rozwalka, Figueiredo, & L.L.M. Mio, 2016). Kondisi ideal yang diinginkan adalah total hujan 500–550 mm, kelembapan udara rendah 40–45% selama musim kering dan ratarata suhu 18°–20°C daerah Mediterania (Polat & Caliskan, 2008) yang musim dinginnya moderat (sejuk) dan musim panas yang kering dengan suhu 32–37°C, pencahayaan matahari yang kuat. Tanaman ini tumbuh di berbagai lingkungan dan tipe tanah (Vemmos, Petri, & Stournaras, 2013).

Dalam perkembangannya, pada dekade terakhir ini, Turki dan Mesir menjadi negara penghasil utama buah tin, yang berkisar 50% dari total produksi dunia. Produsen berikutnya adalah Iran, Algeria, dan Maroko yang bersama kedua negara di atas menyuplai 64% produksi dunia.

Tanaman tin mulai dibudidayakan di Indonesia melihat permintaan yang cenderung mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari tren impor dari tahun 2009-2018, dari 1,7 ton menjadi 21 ton sehingga menyerap devisa sebesar 109 ribu US$ atau setara 297 juta rupiah. Sebaran pengusaha tin di Indonesia yaitu Jawa Timur enam orang, Jawa Tengah empat orang, Jawa Barat tiga orang, DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta masing-masing dua orang (Rahimah and Pujiastuti 2016

(sumber : INDO-HITS (Indonesian Horticultural Innovation, Technology and Science) : Sumber Daya Genetik Tanaman Buah Subtropika Potensial : Dita Agisimanto, Lyli Mufidah dan Harwanto)

Agenda

no event