Mengenal Buah Subtropika : Raspberry

Raspberry (Rubus idaeus L.) merupakan salah satu tanaman buah subtropika yang banyak dikaitkan dengan pengobatan dan dunia kesehatan sejak dahulu kala. Hal ini disebabkan isu kesehatan merupakan hal yang sangat penting dalam perjalanan peradaban manusia. Pengobatan zaman dahulu menggunakan bahan alami kembali menjadi tren kesehatan di satu dekade terakhir. Hal ini disebabkan bahan kimia terbukti mempunyai efek samping yang berbahaya. Hummer et al. (2010) melaporkan bahwa raspberry telah digunakan dalam pengobatan tradisional untuk penyembuhan luka.

Raspberry mempunyai warna buah beberapa macam yaitu putih, kuning, oranye, merah, ungu dan hitam (Hummer, 1996). Raspberry yang merah lebih banyak dibudidayakan karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi disebabkan kandungan fenolik yang tinggi (Anttonen & Karjalainen, 2005). Buah Raspberry merah (Rubus idaeusL.) dapat dikonsumsi, baik dalam bentuk segar dan olahan. Selain rasa dengan warna yang khas, manfaat yang terkandung dalam buah menjadikan konsumsi buah raspberry meningkat dari tahun ke tahun (Carvalho, Fraser, & Martens, 2013).

Raspberry menurut beberapa sumber dikonsumsi selama berabad-abad sebagai sumber makanan dan berasal dari Asia kecil dan Amerika Utara. Palladius seorang petani Romawi menulis tentang budidaya raspberry di abad yang ke-4. Temuan ekologis di benteng Romawi di Inggris salah satunya biji raspberry, menyebabkan asumsi bahwa Romawi menyebarkan budidaya raspberry di Eropa. Raja Edward I (1272-1307) merupakan orang pertama yang memberikan nama buah, dan akhirnya banyak dibudidayakan di kebun- kebun di Inggris. Pada abad ke-18 budidaya raspberry telah menyebar ke Eropa. Para penjajah membawa raspberry yang dibudidayakan ke Amerika dan William Price menjual tanaman pembibitan komersial pertama pada tahun 1771.

Distribusi geografis raspberry mencakup Eropa ke Asia Utara dan sebagian besar wilayah beriklim sedang (Blumenthal M, dalam Zhang Ying et al., 2011). Di daerah di mana spesies Rubus tumbuh, spesies liar ditemukan di daerah pertumbuhan sekunder yaitu batas hutan dan sepanjang tepi jalan. Tanaman yang dibudidayakan dan liar memiliki potensi untuk berinteraksi dalam berbagai cara. Budidaya mempengaruuhi keanekaragaman genetik dari populasi alami melalui hilangnya gen dan transfer oleh serbuk sari. Populasi liar dapat berfungsi sebagai tanaman inang hama dan predator alami mereka. Selain itu, populasi liar merupakan sumber potensial untuk perbaikan pemuliaan tanaman tersebut. Namun informasi tentang sifat dan tingkat interaksi serta hubungan antara populasi liar dan spesies Rubus yang dibudidayakan sangat sedikit (Graham et al, 1997).

Raspberry tumbuh paling baik di bawah sinar matahari yang penuh dan terlindung dari angin yang bertiup secara langsung, namun tidak dapat tumbuh   pada iklim yang curah hujanya tinggi. Sirkulasi udara dan pengairan yang baik dapat membantu dalam proses penanaman. Idealnya raspberry harus ditanam di lereng bukit sehingga udara dingin dapat mengalir ke daerah yang lebih rendah. Raspberry sebagian besar dapat tumbuh baik pada tanah mineral yang cukup subur, tanah lempung berpasir dalam yang mengandung bahan organik 5-7%. Tanah berpasir ringan juga dapat diterima jika irigasinya tersedia. Raspberry paling baik digunakan di tanah yang sedikit asam dengan pH 6,0- 6,8. Pada musim dingin raspberry mudah rusak, sedangkan pada musim panas raspberry dapat tumbuh dengan baik (Smith, Mahr, Manus, & Roper, 2007).

Raspberry kaya akan sumber senyawa bioaktif seperti fenolik, antosianin, asam organik, mineral, dan lainnya. Selain itu juga memiliki jumlah senyawa antioksidan yang sangat tinggi. Telah dikonfirmasi bahwa aktivitas antioksidan dari buah raspberry berasal dari kontribusi senyawa fenolik dalam raspberry (Liu et al., 2002). Aktivitas antioksidan raspberry terutama didasari oleh antosianin dan ellagitannin yang memberikan kontribusi sekitar 25% dan 52% terhadap total aktivitas antioksidan (Beekwilder, Hall, & De Vos, 2005). Ludwig et al., (2015) mengkarakterisasi kandungan antosianin dari raspberry merah komersial terdiri atas cyanidin-3-O-sophoroside, cyanidin-3-O- (2 “-O-glucosyl) rutinoside, cyanidin-3- O-glucoside, dan cyanidin-3-O-rutinoside.

Indonesia yang mempunyai junlah penduduk yang banyak maka kebutuhan di bidang farmasi juga besar. Dengan kandungan raspberry yang baik untuk kesehatan maka berpotensi mempunyai pasar jika dikembangkan. Tanaman yang mempunyai kelebihan untuk kesehatan akan bernilai ekonomi tinggi jika dapat dibuktikan secara ilmiah dan dikemas dengan baik. Nilai ekonomi yang tinggi juga akan berdampak pada ketertarikan investor untuk mengembangkannya.

(sumber : INDO-HITS (Indonesian Horticultural Innovation, Technology and Science) : Sumber Daya Genetik Tanaman Buah Subtropika Potensial : Buyung Al Fanshuri, Unun Triasih, Dina Agustina, dan Trifena Honestin Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika)




Agenda
No event found!