Mengenal Buah Subtropika : Markisa

Markisa (Passiflora edulis Sims) merupakan salah satu spesies pada marga Passiflora pada Suku Passifloraceae. Nama Passiflora diberikan Carl Linnaeus (1753) dari Bahasa latin ‘flos passionis’ yang berarti bunga penderitaan. Marga Passiflora dilaporkan mempunyai lebih dari 520 spesies yang merupakan marga dengan anggota spesies terbesar pada Suku Passifloraceae (Rome & D’Eeckenbrugge, 2017)

Keragaman genetik marga Passiflora terbesar terdapat di daratan Amerika Tropis terutama Amerika bagian Selatan yang mencapai 95% dari total spesies marga Passiflora. Kolombia merupakan daerah dengan diversitas tertinggi dengan 164 spesies, diikuti Brasil dengan 127 spesies (Mendoza et al., 2018). Hanya sekitar 24 spesies dari marga Passiflora yang mempunyai habitat asli di daerah Asia Tenggara, Australia hingga Pasifik. Secara umum, spesies-spesies Passiflora ditemukan dan beradaptasi baik pada daerah dengan rentang lintang hingga 40° Utara atau Selatan, rentang ketingggian tempat 0 — 4500 m dpl dan rentang ekosistem dari hutan basah tropis hingga kering (De Giovanni & Bernacci, 2015).

Di Indonesia, terdapat 2 jenis markisa yang umum dibudidayakan yaitu jenis markisa dengan kulit buah berwarna ungu dan berwarna kuning. Menurut Karsinah et al. (2010), markisa berkulit ungu merupakan salah satu forma P. edulis, yaitu P. Edulis f. edulis bersama-sama dengan jenis markisa asam berkulit merah atau hitam (black granadilla). Markisa berkulit ungu umumnya tumbuh dan berkembang baik di daerah subtropis dan dataran tinggi tropis, sedangkan markisa berkulit merah dapat berdaptasi pada dataran rendah tropis. Jenis markisa berkulit buah kuning termasuk dalam forma flavicarpa atau sering disebut yellow passion fruit (P. edulis Sims. f. flavicarpa Deg.). Jenis markisa pada forma ini dapat beradaptasi di dataran rendah tropis (Marpaung et al., 2016).

Tanaman markisa tumbuh baik pada ketinggian 600 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan minimal 1200 mm/tahun, kelembapan nisbi antara 80- 90%, suhu lingkungan antara 20-30 °C, dan sedikit berangin. Tanaman markisa dapat tumbuh di berbagai jenis tanah dengan kandungan bahan organik tinggi dan mempunyai pH antara 6,5-7,5 serta berdrainase baik. Perbanyakan tanaman markisa dapat melalui perbanyakan generatif (melalui biji) dan vegetatif melalui stek batang dan sambung pucuk (grafiing). Tanaman induk yang digunakan sebagai bahan perbanyakan dipilih dari tanaman produktif varietas unggul yang telah berumur lebih dari 3 tahun, dalam kondisi sehat dan berpenampilan optimal. Tanaman muda hasil perbanyakan generatif dan vegetatif kemudian ditanam pada polybag (wadah tunggal) dan dipelihara hingga berumur 3-4 bulan bulan (Suswati et al., 2015).

Markisa merupakan salah satu tanaman yang telah dekat dengan kehidupan manusia sejak dulu kala. Buah markisa dapat dikonsumsi baik sebagai buah segar maupun olahan dalam bentuk jus. Kini buah markisa pun sudah dapat dikonsumsi dalam bentuk sirup dalam kemasan (Dewayani et al. 2004). Total produksi buah markisa Indonesia mencapai 2 juta ton menduduki peringkat ke-3 di Asia setelah India dan Filipina. Buah markisa asal Indonesia kini telah merambah pasar internasional dan telah diekspor ke sejumlah negara seperti Australia dan negara- negara Timur Tengah dalam bentuk buah segar dan sirup (Susanti & Putri, 2014).

(sumber : INDO-HITS (Indonesian Horticultural Innovation, Technology and Science) : Sumber Daya Genetik Tanaman Buah Subtropika Potensial : Kurniawan Budiarto, Hardiyanto,Djoko Sudarso dan Karsinah)


Agenda
No event found!