Mengenal Buah Subtropika : Leci

Leci (Litchi chinensis, Sonn.) adalah buah subtropika dan tumbuh paling baik pada iklim subtropika yang lembap dengan curah hujan merata. Leci dapat tumbuh hingga ketinggian 800 mdpl dan menghendaki tanah berlempung dengan drainase baik, kaya bahan organik dengan pH 5-7.

Suhu yang diperlukan untuk tumbuh berkisar 30-32°C tetapi diperlukan suhu rendah untuk merangsang pembungaan. Hujan terus-menerus juga tidak diinginkan saat leci berbunga karena akan menghambat penyerbukan bunga.

Produsen buah leci terbesar dunia ada di Asia dengan produksi paling tinggi dari China, Taiwan, Thailand dan India dengan jumlah total lebih dari lima ratus ribu ton. Di luar itu, dari Afrika, Madagaskar dan Afrika Selatan masing-masing di tempat kelima dan keenam dengan total produksi mencapai enam puluh ribu ton (Sawe, 2018).

Di Indonesia, konsumsi leci sebagai buah segar masih kurang populer dibanding lengkeng dan rambutan. Masyarakat lebih banyak mengenal olahan leci dalam kaleng yang pada umumnya lebih mudah diperoleh daripada leci segar. Hal ini berkaitan dengan daya simpan leci yang relatif pendek sehingga buah leci dalam bentuk olahan dipandang lebih menguntungkan. Selain sebagai buah kaleng, buah leci juga dapat dikeringkan.

Buah leci dapat dikonsumsi sebagai buah segar atau buah olahan. Bijinya dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk sakit perut. Riset farmakologi menyebutkan biji leci mengandung khasiat untuk melawan tumor, diabetes, kolesterol, virus dan juga berkhasiat sebagai antioksidan (Ibrahim & Mohamed, 2015; S. Liu, Lin, Wang, Chen, & Yang, 2009).

Leci merupakan salah satu buah dengan kandungan gizi yang memadai untuk karbohidrat, vitamin C dan kalium, masing-masing senilai 16,5 g, 71,5 mg, dan 171 mg per 100 g buah. Selain itu leci juga mengandung mineral kalsium, besi,magnesium, fosfor, natrium dan serat buah (Crane, Balerdi, & Maguire, 2016).

Leci yang berkerabat dekat dengan lengkeng memiliki syarat tumbuh dan teknik budidaya yang mirip dengan lengkeng. Oleh karena itu petani dan pekebun yang sudah memiliki keahlian dalam pengembangan lengkeng memiliki peluang keberhasilan yang lebih baik untuk mengembangkan leci sebagai alternatif komoditas di daerah pengembangan lengkeng.

Selain itu, karena olahan leci lebih banyak diminati oleh masyarakat, maka potensi pengembangan produk pascapanen menjadi terbuka lebar. Dengan pengolahan produk, buah leci mendapatkan nilai tambah yang berguna untuk meningkatkan pendapatan bagi petani, pekebun dan produsen produk olahan. Untuk itu, diperlukan kerja sama dan dukungan pihakpihak terkait agar potensi ekonomi yang ditawarkan dari pengembangan leci dapat tercapai.

(sumber : INDO-HITS (Indonesian Horticultural Innovation, Technology and Science) : Sumber Daya Genetik Tanaman Buah Subtropika Potensial: Baiq Dina Mariana dan Hidayatul Arisah

Agenda

no event