Mengenal Buah Subtropika : Delima

Delima (P. granatum L.) merupakan salah satu jenis buah-buahan (edible fruit) tertua yang pernah ditemukan. Delima merupakan salah satu tanaman buah yang telah lama dikenal seiring dengan perkembangan peradaban manusia, terutama pada daerah-daerah beriklim agak kering hingga kering.

Namun demikian, tanaman juga dapat tumbuh baik pada daratan berhawa sejuk hingga sangat panas. Beberapa penelitian menunjukkan tanaman delima juga toleran pada tanah dengan kadar salinitas tinggi, namun tidak tahan dengan penurunan suhu hingga di bawah -110C (Martinez-Nicolas et al., 2016).

Tanaman delima diperikirakan berasal dari daratan Persia dan daerah sekitarnya. Spesies-spesies liarnya banyak tumbuh alami di daerah Transcaucasia dan Asia Tengah dari Iran, Turkmenistan hingga bagian utara India. Setidaknya terdapat 3 pusat diversitas genetik (primer, sekunder dan tersier) serta 5 daerah penyebaran utama (Timur Tengah, Mediterania, Asia Timur, Amerika dan Afrika Selatan).

Pusat diversitas primer termasuk wilayah Timur Tengah yang mencakup Iran, Afganistan, dan daerah sekitarnya. Pusat penyebaran dan diversitas sekunder mencakup wilayah Mediterania dan Asia Timur yang merupakan pintu penyebaran ke arah Asia dan Eropa. Wilayah pusat diversitas tersier mencakup wilayah-wilayah di mana spesies delima didomestikasi/dinaturalisasi maupun diintroduksi.

Delima dapat tumbuh pada berbagai tipe tanah kecuali pada tanah-tanah dengan pH terlalu tinggi atau tanah salin. Tanaman delima menghendaki tanah dengan drainase baik dan tidak telalu padat untuk perkembangan akar yang optimal.

Delima umumnya diperbanyak melalui biji, pemisahan anakan maupun pembiakan vegetatif lain seperti cangkok dan setek batang (Andjarikmawati, Mudyantini, & Marusi, 2005). Tanaman muda hasil perbanyakan umumnya dipelihara dulu dalamwadah tunggal/polybag selama 2-3 bulan sebelum ditanam di lapang.

Delima umumnya disajikan dalam bentuk buah segar maupun minuman. Buah delima mempunyai kandungan senyawa kimia yang beragam dan berguna untuk pengobatan dan kesehatan manusia. Buah yang sudah masak mengandung sejumlah asam organik seperti asam sitrat, malat, oksalat, asetat, fumarat, tartarat dan laktat dan gula seperti glukosa, fruktosa, sukrosa dan maltosa (Pablo

Melgarejo, Salazar, & Artés, 2000). Buah delima juga dideteksi mengandung senyawa antioksidan seperti kelompok senyawa ellagiatannin dan gallotannin, asam ellagik dan derivatnya, catecin dan procyanidin, kelompok antocyanin dan antocyanidin (Rahimi, Arastoo, & Ostad, 2012) serta kelompok fenolik seperti asam benzene dekarbosilat, asam benzoate, asam propinonat (Al-Huqail, Elgaaly,& Ibrahim, 2018).

Delima banyak diusahakan di daerah-daerah yang dekat dengan pusat penyebaran utamanya. Sekitar 90% pertanaman delima berada di Asia dan Eropa, 9% di Afrika Utara dan sekitar 1% di wilayah Amerika Utara. Spanyol merupakan negara produsen delima terbesar dengan kapasitas lebih dari 22 ribu ton disusul Amerika Serikat dengan kapasitas produksi sekitar 20 ribu ton.

Hingga kini belum terdapat data yang akurat perihal luasan tanam dan panen tanaman delima di Indonesia. Tanaman delima umumnya masih dibudidayakan secara sederhana dalam pekarangan dan tidak dalam skala besar, sehingga potensi pengembangan secara lebih komersial masih sangat luas.

(sumber : INDO-HITS (Indonesian Horticultural Innovation, Technology and Science) : Sumber Daya Genetik Tanaman Buah Subtropika Potensial: Kurniawan Budiarto, Harwanto Agus Sugiyatno dan Hardiyanto


Agenda

no event