Mengenal Buah Subtropika : Ceri

 

Buah ceri, Foto : Oka Ardiana

Ceri adalah salah satu tanaman buah yang cukup dikenal di Indonesia. Buah ceri biasa digunakan sebagai bahan dalam pembuatan kue atau sebagai hiasan pada makanan ataupun minuman. Buah ceri pada umumnya dijual dalam bentuk olahan yaitu berupa maraschino atau buah kaleng. Ceri segar maupun olahan yang tersedia di Indonesia adalah produk impor.

Ceri termasuk dalam genus Prunus dalam famili Rosaceae. Genus Prunus mencakup sekitar 430 spesies tumbuhan deciduous, evergreen, dan semak yang tersebar luas di seluruh daerah beriklim sedang (temperate) (Vicente, Manganaris, Cisneros-zevallos, & Crisosto, 2011). Tidak semua spesiesnya menghasilkan buah yang dapat dimakan dan hanya digunakan untuk dekorasi (segi estetika).

Beberapa spesies lainnya ditanam secara komersil untuk produksi buah dan kacang (almond). Sebagian besar spesies ini berasal dari Asia atau Eropa Selatan (Vicente et al., 2011). Hingga saat ini terdapat lebih dari 30 spesies ceri asli Eropa dan Asia yang telah diidentifikasi, namun hanya buah ceri yang berasal dari spesies Prunus avium (ceri manis) dan Prunus cerasus (tart ceri/ceri asam) yang diperdagangkan secara global (Blando & Oomah, 2019).

Produsen ceri utama dunia adalah Uni Eropa dengan total produksi 730 ribu ton di tahun 2017 diikuti Turki dan Amerika Serikat dengan masing-masing produksi sebanyak 525ribu ton dan 458ribu ton (Chepkemoi, 2017). Di Eropa, ceri manis lebih banyak diproduksi di Eropa Barat dan ceri asam diproduksi di Eropa Timur. Sementara di Amerika Utara, produksi ceri segar banyak di bagian barat laut sedangkan ceri olahan diproduksi di Michigan (Iezzoni, 2008).

Ceri manis paling baik dikonsumsi dalam keadaan segar. Warna kulit dan daging buah ceri bervariasi dari merah gelap hingga merah muda dan kuning. Ceri asam digunakan untuk produk olahan dan biasanya digunakan pada pai, selai, jus dan produk pastri. Ceri yang dikeringkan dengan biji yang sudah dibuang juga dapat digunakan untuk salad dan makanan yang dipanggang (Iezzoni, 2008).

Buah ceri merupakan sumber sejumlah vitamin dan mineral. Warna merah atau ungu pada ceri disebabkan oleh kandungan antosianin. Antosianin merupakan salah satu golongan senyawa flavonoid yang merupakan fenolat makanan yang bersifat antioksidan (Verma, 2015). Buah ceri juga mengandung senyawa bioaktif yang memiliki banyak manfaat untuk kesehatan (Chockchaisawasdee, Golding, Vuong, Papoutsis, & Stathopoulos, 2016).

Ceri merupakan tanaman asli daerah subtropis, namun demikian tidak menutup kemungkinan buah ceri dapat ditanam di Indonesia yang beriklim tropis. Indonesia memiliki beberapa tanaman introduksi yang berasal dari daerah subtropis dari famili Rosaceae yang mampu beradaptasi dengan baik di iklim Indonesia seperti apel (Malus sp.) sehingga tidak menutup kemungkinan ceri pun bisa berkembang dengan baik di Indonesia.

(sumber : INDO-HITS (Indonesian Horticultural Innovation, Technology and Science) : Sumber Daya Genetik Tanaman Buah Subtropika Potensial : Baiq Dina Mariana, Tiffani Nindya A Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika)