Menelusuri Pamelo di Bumi Blora

15672638_1511863162175488_8164568472460562438_n
Sumarjo (tengah) petani dari Blora dengan semangat dan keuletannya berhasil mengembangkan jeruk pamelo dan menjadi juara kontes jeruk nasional beberapa waktu lalu.

Kabupaten Blora Jawa Tengah yang tidak pernah diperhitungkan dalam percaturan jeruk nasional ternyata menyimpan potensi jeruk unggulan. Hal ini terlihat saat  menyabet dua gelar juara, yaitu juara ketiga untuk kategori jeruk siam dan juara ketiga untuk kategori pamelo pada ajang kontes buah jeruk nasional dalam acara BITE yang diselenggarakan oleh BALITJESTRO pada bulan Agustus 2016.

Dalam sela-sela kegiatan Sekolah lapang Budidaya Jeruk di Blora, peneliti Balitjestro Ir Sutopo, M.Si menyempatkan diri untuk melihat langsung kebun jeruk yang menjadi pemenang kontes jeruk nasional. Dari tempat ini didapat  pembelajaran tentang “semangat, kesabaran, pengorbanan, dan keiklasan dalam berjuang”.

Adalah Bpk. Sumarjo, seorang kakek sederhana berusia 65 tahun yang tinggal di Desa Tempellemahbang, Kec. Jepon, Kab. Blora. Berkat keuletan dan tangan dinginnya, pekarangan rumah yang aslinya gersang berhasil dihuni beberapa varietas pamelo, antara lain Bageng, Bali Medang, Bali Langsep, dan Ketanggi. Dari kebun inilah dihasilkan sang juara nasional.

Usia boleh berkurang, namun semangatnya untuk menjadikan Desa Tempellemahbang sebagai sentra pamelo di Blora patut diacungi dua jari. Sebagai pimpinan Kelompok Tani Sendang Makmur, pak Sumarjo memprogramkan pengembangan pamelo secara mandiri dengan cara menanam 5 pohon/rumah setiap tahun.

Sayangnya, tanaman yang dikembangkan berasal dari benih cangkokkan dan varietasnya terlalu banyak.  Kelemahan dari benih cangkokan anatar lain, sistem perakaran kurang baik, sulit menghasilkan benih yang seragam dalam jumlah banyak, mempercepat penyebaran penyakit di kawasan pengembangan, dan pohon yang dicangkok bisa mengalami kerusakan hingga kematian. Untuk memperbaiki kualitas pohon yang sudah dikembangkan, sebaiknya dilakukan penyusuan menggunakan batang bawah varietas Japansche Citroen (JC) sebanyak 2 – 3 batang/pohon.

Jumlah varietas yang banyak menghasilkan mutu buah yang beraneka ragam, baik ukuran/penampilan maupun kualitas bagian dalamnya.  Kondisi ini sangat tidak menguntungkan karena pasar cenderung menghendaki buah dengan ukuran, bentuk, dan mutu bagian dalam yang seragam.   Karena itu, sebaiknya dilakukan seleksi terhadap varietas yang sudah eksis di lapangan untuk memilih 1 – 2 varietas yang unggul.  Selanjutnya, kegiatan pengembangan dilakukan hanya menggunakan kedua varietas tersebut.    Pengelolaan kebun yang terkesan masih asalan perlu masukan inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan mutu buah serta menciptakan kawasan produksi pamelo yang berkelanjutan.

Bila program ini berhasil, ekonomi masyarakat di desa ini pasti menjadi lebih baik. Menurut pak Sumarjo, buah pamelo ketanggi berukuran besar, sekitar 2 kg dihargai oleh pengumpul Rp. 35.000/buah. Pohon pamelo dewasa memiliko potensi menghasilkan buah hingga100 buah/pohon asal dikelola dengan baik.

Semoga semangat Pak Sumarjo dan keberhasilannya dalam mengembangkan pamelo dapat menular ke masyarakat lainnya sehingga pengembangan jeruk di kabupaten Blora dapat meningkat.

Sumber : Ir. Sutopo M.Si

Peneliti Balitjestro