Membangun Agribisnis Jeruk yang Tangguh di Indonesia

[cml_media_alt id='2285']Poster Alur Produksi Benih Jeruk_flat[/cml_media_alt]Agribisnis jeruk diawali dengan perbenihan, artinya keberhasilan pembangunan agribisnis jeruk di Indonesia menuntut dukungan industri yang tangguh. Petani kini telah menyadari bahwa menanam benih yang bermutu akan menghasilkan pohon-pohon jeruk yang tegar, dan seragam, serta pemeliharaan kebun yang efisien. Selain itu produktivitas dan mutu buah terjamin serta masa produksi akan lebih lama.Benih jeruk yang bermutu merupakan benih yang bebas dari 7 patogen sistemik seperti virus, viroid dan bakteri penyebab penyakit, yaitu CVPD, CTV, CVEV, CEV, CPsV, CcaV, dan CTLV. Selain itu benih bermutu dijamin kemurnian varietas batang bawah dan batang bawahnya. Dalam praktek,benih jeruk berlabel bebas penyakit yang tahapan proses produksinya berdasarkan program pengawasan dan sertifikasi benih yang berlaku.

Benih  jeruk berlabel bebas penyakit tidak berarti tahan terhadap penyakit tersebut diatas, namun masih bisa terinfeksi lagi oleh penyakit CVPD dan lainnya. Agar kebun jeruk terhindar dari penyakiit yang berbahaya ini maka strategi pengendalian dapat dilakukan dengan sistem PTKJS ( Pengelolaan Terpadu Kebun Jeruk Sehat) yang meliputi:1)Penggunaan benih jeruk berlabel bebas penyakit 2) Pengendalian vektor CVPD 3) Sanitasi kebun yang baik 4) Pemeliharaan kebun yang optimal 5) Koordinasi penerapan komponen teknologi diatas .Dengan penerapan komponen ini diharapkan mampu mewujudkan agribisnis jeruk yang tangguh di Indonesia.

Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian telah menghasilkan pohon induk jeruk bebas penyakit dengan melalui tahapan kegiatan sebagai berikut. Calon pohon induk yang telah ditentukan, dibersihkan dari 7 patogen sistemik diatas melalui penyambungan tunas pucuk (Shoot tip Grafting) yang dilaksanakan di laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika. Dalam proses tersebut biji batang bawah ditumbuhkan dalam media -agar yang mengandung mineral dan vitamin. Kemudian penyambungan dilakukan dengan bantuan mikroskop untuk menggabungkan pucuk tunas berukuran 0,15mm dengan semaian batang bawah sambungan. Kemudian hasil tersebut ditumbuhkan dengan media cair yang diperkaya dengan mineral dan vitamin dan setelah tumbuh diindeksing untuk memastikan apakah tanaman tersebut terbebas dari 7 patogen sitemik. Tanaman yang telah dinyatakan bebas penyakit kemudian dipelihara di rumah kasa sebagai pohon induk sumber mata tempel bagi Blok Fondasi yang tersebar di beberapa Propinsi di Indonesia.

Distribusi materi perbanyakan dari pohon induk bebas penyakit hingga sampai ke petani melalui alur baku yang berlaku secara nasional, yaitu dari Blok Fondasi  dan Blok Penggandaan Mata Tempel ke Blok Penggandaan Benih Komersial milik petani penangkar benih. Pohon induk di BF maupun BPMT dipelihara dalam secara optimal dalam rumah kasa yang tidak bisa dimasuki oleh serangga penular Indeksing secara berkala dilakukan pada setiap pohon induk di BPMT harus dibongkar setiap 3 tahun panenan dan diremajakan kembali dengan materi yang berasal dari Blok Fondasi. Benih jeruk yang dinyatakan lulus pemeriksaan akan dilabel bebas penyakit oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih setempat. (Fajar/Sumber: Ir Arry Supriyanto, Setiono)

Tinggalkan Balasan