Manisnya Anggur di Lahan Gambut

anggur di lahan gambut
MEMETIK ANGGUR: Dua wanita memetik anggur di kebun percontohan milik Mahyushan di Desa Sungai Bulan Sekunder A, Kabupaten Kubu Raya.Mahyushan berhasil membudidayakan buah anggur di lahan bergambut. HARYADI/PONTIANAKPOST

Lahan gambut masih terkesan ‘angker’ bagi pembudidaya tanaman hortikultura. Namun tidak bagi Mahyushan. Berkat tangan dinginnya, tanaman anggur bisa tumbuh subur di lahan yang minim unsur hara tersebut.

Lahan gambut masih terkesan ‘angker’ bagi pembudidaya tanaman hortikultura. Namun tidak bagi Mahyushan. Berkat tangan dinginnya, tanaman anggur bisa tumbuh subur di lahan yang minim unsur hara tersebut.

HARYADI, Sungai Bulan

“Memang butuh ketelatenan tinggi untuk menguji coba tanaman anggur di lahan gambut ini,” kata Mahyushan memulai perbincangan bersama Pontianak Post, Kamis (5/5).

Lokasi kebun anggur milik Mahyushan terletak di Desa Sungai Bulan Sekunder A, Kabupaten Kubu Raya. Dulu lahan tersebut masih hutan belantara. Tak ada teman, bahkan sanak saudara yang mau bertandang ke sana. Warga setempat mengatakan lokasi miliknya belum pernah “terjamah”.

Kondisi itu menjadi tantangan awal kala ia akan merintis lahan. Namun bermodal niat dan mental baja, Yushan, begitu sapaan akrabnya, berjibaku sendiri merintis lahan tersebut.

“Lahan sudah dibersihkan ternyata itu gambut,” kenangnya sambil menggelengkan kepala.

Perjuangan Mahyushan terus berlanjut. Menyadari kondisi tersebut, dia berupaya keras agar lahannya bisa ditanami. Berbekal ilmu pertanian yang disandangnya, dia optimis mengolah lahan untuk modal hidup di masa depannya. Memang butuh waktu panjang untuk melihat manis hasilnya. Agar tanaman seperti durian, jeruk lemon dan anggur bisa hidup di lahan gambut miliknya.

“Kerja keras pun kini terbayar tuntas melihat hasilnya,” ucap Mahyushan yang biasa disapa Yushan tersebut.

Kebun anggur percontahan milik Yushan tidak begitu besar: Tanah ukuran 20 x 40 meter persegi ditanami 200 batang pohon anggur.

Yushan juga berbagi pengalamannya kepada Pontianak Post. Dengan bercanda berbalut tawa, obrolan pun mengalir dengan santai di bawah pohon anggur yang merambat tepat di atas kepala. Berawal dari kegelisahan bahwa buah-buahan yang membanjiri supermarket, swalayan, dan pasar tradisonal rata-rata didatangkan dari luar.

“Buah anggur masih banyak di suplai dari impor atau dari pulau Jawa,” ungkapnya.

Pertanyaan pun timbul dalam lubuk hatinya saat itu. Apakah di Kalbar tidak bisa ditanami anggur?

Hal tersebut yang mendorong agar anggur bisa ditanam pada lahan gambut. Akhirnya ia memutuskan untuk mendatangkan bibit anggur dari daerah Malang, Jawa Timur.

“Ada lima jenis bibit anggur yang saya coba tanam di sini,” ungkap pria berkumis tersebut sambil tersenyum.

Waktu itu, ia hanya ingin mengujicoba kira-kira bibit anggur asal Malang itu mampu bertahan atau tidak pada kondisi lahan di Kalbar. Karena sadar lahannya berjenis gambut. Mau tidak mau ia harus memutar otaknya agar bibit anggur tersebut bisa tumbuh. “Memang butuh ketelatenan tinggi untuk mengujicoba tanaman anggur di lahan gambut ini,” ungkapnya.

Setelah dirasa layak dan memiliki peluang untuk tumbuh. Lalu ia mencoba untuk menanam lebih banyak bibit anggur di kebun miliknya. Sebanyak lima jenis bibit anggur yang diujicoba antara lain jenis BS 60, BS 65, BS 45, BS 89 dan BS 67. Kelimanya merupakan jenis anggur persilangan. Menurut penjelasannya, jenis BS 67 merupakan salah jenis varietas yang cukup diandalkan.

Perlakuan khusus memang diperlukan pada tanaman ini. Agar dapat tumbuh dan berbuah. Idealnya tanaman anggur dapat tumbuh baik di daerah dataran rendah dengan musim kemarau panjang berkisar 4-7 bulan. Curah hujan pun rata-rata 800 mm per tahun. Sedangkan dalam keadaan hujan yang terus menerus dapat merusak premordia atau bakal perbungaan. Ia pun mengatakan bahwa sebaiknya sinar matahari yang banyak dan udara kering sangat baik bagi pertumbuhan vegetatif dan pembuahannya.

“Makanya saya melakukan rekayasa cuaca dalam proses tanam anggur ini,” kata Yushan yang merupakan Alumni Sekolah Pertanian dan Pembangunan Singkawang.

Agar rekayasa cuacanya berhasil ia harus membangun rumah tanaman. Fungsinya agar tanaman lebih terlindung dari panas dan dingin yang berlebihan. Rumah tanaman atau yang biasa disebut rumah kaca juga menghindarkan tanaman dari serangan hama.

Selain kondisi cuaca juga tanah tak luput dari perhatiannya. Tanah yang baik untuk tanaman anggur adalah mengandung pasir, lempung berpasir, subur dan gembur, banyak mengandung humus dan hara yang dibutuhkan. Derajat keasaman tanah yang cocok untuk budidaya anggur adalah 7 (netral).

“Perlu banyak kapur yang saya berikan untuk sebatang pohon anggur agar tanahnya netral,” jelasnya.

Bila tanaman sudah tumbuh setelah pembibitan. Perlakuan selanjutnya adalah melakukan proses perawatan secara intensif. Seperti penyiangan, penyiraman, pengaturan bunga dan identifikasi hama tindakan yang sama bagi semua tanaman termasuk tanaman anggur.

Anggur Lahan Gambut KalimantanDisinggung soal pengembangan tanaman anggur dengan skala lebih besar, pria 44 tahun tersebut cukup optimistis. Bahkan ia sudah menyiapkan lahan yang lebih luas lagi di daerah Purun, Kabupaten Mempawah. Di sana lahannya lebih luas dan mudah dijangkau. Kalau di lahan yang sekarang ini ia masih kesulitan dengan transportasi. Sehingga ia memilih lahan yang berada di Mempawah. Persiapan lahan baru sudah hampir berjalan delapan bulan. Berbagai fasilitas penunjangpun terus disiapkan.

“Dukungan terus mengalir terutama dari rekan-rekan sesama alumni sekolah pertanian,” jelasnya.

Salah satu dukungan yang mengalir dari rekannya Budi Hartono. Budi merupakan sesama alumni Sekolah Pertanian Pembangunan / Sekolah Pertanian Menengah atas Singkawang. Budi melihat peluang budidaya anggur cukup potensial dikembangkan. Setelah melihat hasil panen perdana buah anggur milik Mahyushan.

“Saya cukup kagum melihat hasil kebun anggur teman saya ini,” jelasnya.

Budi mencontohkan, sekarang ini dengan mudahnya kita dapat menemui buah anggur impor dimana-mana Mulai yang berwarna merah, hijau dan ungu dengan kisaran harga yang tinggi antara Rp30 ribu hingga Rp80 ribu per kilogram.

Ia pun membandingkan harga buah anggur produksi dalam negeri yang harganya berkisar Rp15 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram. Melihat perkembangan impor yang begitu pesat. Tak heran jika prospek pengembangan tanaman anggur masih cukup luas.

“Bukan tidak mungkin Kalbar menghasilkan buah anggur yang dapat menyaingi buah impor,” kata pria berumur 48 tahun tersebut.

Buahnya yang bergelantungan, cukup mengoda bagi siapapun yang bertandang ke sana. Warnanya pun bermacam-macam ada merah, hijau dan kuning-kuningan. Namun perlu ketelitian saat memetik tanaman yang merambat tersebut.

Pontianak Post berkesempatan merasakan manisnya kerja keras Yushan. Mencicipi buah perdana yang tergolong spektakuler rasanya di lidah. Manisnya tak jauh berbeda dengan anggur impor mancanegara. Selain rasanya yang mantap alias segar, sensasi memetik sendiri langsung dari pohonnya menjadi pengalaman tak terlupakan.

Hartadi, salah satu rombongan yang turut serta bersama Pontianak Post tampak cekatan menjumput butiran anggur yang menggiurkan didepan matanya. Entah sudah berapa banyak buah anggur yang dia petik.

“Ini pengalaman pertama saya metik anggur langsung dari pohonnya,” kata Hartadi.

Saat pertama kali lidahnya mencicipi buahnya, rasanya seperti nano-nano: Asam manis rasanya. “Jika tak teliti waktu metiknya, buah yang belum matang terasa masam,” ujar Hartadi, dengan mulut yang sibuk dengan mengunyah lembut kulit dan biji anggur. Sementara tangannya asik memetik anggur. (*)

Sumber; Pontianak Post

Tinggalkan Balasan