Manajemen Irigasi Jeruk di Lahan Kering

[cml_media_alt id='1211']Manajemen Irigasi Jeruk di Tanah Kering[/cml_media_alt]

PENDAHULUAN

Ketersediaan air pada musim kemarau merupakan faktor pembatas utama bagi tanaman jeruk di lahan kering.  Selain sebagai pelarut unsur hara, air merupakan sumber unsur hara esensial (hidrogen dan oksigen) dan menjadi komponen utama sel  tanaman (75 – 85%). Ketika tanah tidak mampu memenuhi air yang dibutuhkan oleh tanaman maka kadar air tanaman, potensial osmotik dan turgor menurun, stomata menutup, dan serapan nutrisi terganggu.  Tanda-tanda yang mudah dilihat pada tanaman yang kekurangan air adalah daun layu, dan  jika berkepanjangan baik daun, bunga maupun buah menjadi rontok kemudian mati.

Umumnya tanaman dewasa yang mengalami kekeringan (stress air) sekitar 2 bulan kemudian dipasok air yang cukup akan diikuti keluarnya bunga yang optimal.  Namun demikian, jika pasokan air melebihi kapasitas lapangan menyebabkan pelindian (leaching) unsur hara  dan busuk akar pada tanah yang berdrainase jelek.  Oleh karena itu, sebelum melakukan pengairan pengebun perlu memahami : kapan harus dilakukan pengairan, berapa volume air yang ditambahkan, dan bagaimana cara pengairan yang tepat.

Air Tersedia Bagi Tanaman

Di dalam tanah, air yang dapat tersedia bagi tanaman adalah antara kapasitas lapangan dan titik layu permanen.  Pada saat kapasitas lapangan, pori tanah yang berukuran besar terisi udara sedangkan pori kecil terisi air yang tidak bergerak kebawah tetapi dapat bergerak ke samping atau ke atas (air kapiler). Sedangkan pada saat titik layu permanen, air tersisa dalam pori-pori yang lebih halus atau selaput tipis yang diikat sangat kuat oleh partikel tanah sehingga tidak bisa diserap tanaman.

Target dari pengairan adalah mempertahankan air tersedia diatas 50 hingga 100% terutama pada periode kritis, yaitu setelah tanam/tanaman muda, fase pertunasan, pembungaan dan pembesaran buah aktif.

Cara Menentukan Waktu Irigasi

Monitoring kadar air tanah secara manual (metoda felling) merupakan cara paling sederhana, murah dan memiliki akurasi yang baik bagi tenaga yang berpengalaman. Caranya yaitu mengamati (melihat, merasakan dan memperlakukan) contoh tanah pada daerah perakaran efektif (kedalaman 10 – 40 cm). Jika hasil pengamatan menunjukkan bahwa ciri tanah mendekati kondisi 50% air tersedia (Tabel 1), berarti tanaman perlu segera dipasok air. Interval monitoring disesuaikan dengan interval irigasi, biasanya 7 hari sekali  (umur tanaman <1 tahun).

14 – 21 hari sekali (umur tanaman 1 – 2  tahun), dan 21 – 30 hari sekali (umur tanaman ? 3 tahun).  Semakin kasar terkstur tanah dan ketika suhu udara panas (pertengahan – akhir kemarau) dianjurkan intervalnya diperpendek.

Tabel 1. Hubungan Antara Tekstur dan Ciri Tanah pada Kondisi 50% Air Tersedia

[cml_media_alt id='1218']Fullscreen capture 07072015 114719.bmp[/cml_media_alt]

Cara Menghitung Kebutuhan Air

Setelah monitoring kadar air tanah, langkah berikutnya adalah menghitung kebutuhan air.  Dengan menggunakan data diameter rata-rata tajuk pohon, faktor koreksi tanah dan sebaran perakaran tanaman maka volume air yang perlu ditambahkan pada karakter tanah tertentu dapat ditetapkan menggunakan persamaan di bawah.

[cml_media_alt id='1219']Fullscreen capture 07072015 131057.bmp[/cml_media_alt]

Contoh kasus :

Tanaman jeruk Siam ditanam di tanah lempung berliat pada umur 2 tahun memiliki diameter tajuk rata-rata 1 m. Pada awal musim kemarau, kondisi tanah memiliki ciri seperti tabel 1.  Berapa air yang harus diberikan pada masing-masing pohon ?

Jawaban :Diketahui :
–   Diameter tajuk = 1m                          R = 0,5 m
–   Fk tanah lempung berliat = 70
Jadi volume air yang harus ditambahkan = ?R2 X Fk
= 3,14 X 0,52 X 70 = 55 liter/pohon

Metoda Irigasi  

Agar dicapai efisiensi irigasi yang optimal perlu dipilih metoda irigasi yang sesuai dengan kondisi fisik lahan dan ketersedian sumber air.   

Metoda Genangan/Permukaan.  Cara ini dilakukan dengan menggenangi petak lahan jeruk dengan air dari penampung/sumber air yang dialirkan melalui saluran tanah atau pipa.Metoda ini tidak cocok untuk lahan kering terutama yang berlereng dan tanah bertekstur pasir karena membutuhkan air dalam volume besar. 

Metoda Baris.  Cara ini dilakukan dengan mengalirkan air pada alur (baris) sepanjang petak di samping tanaman.  Seperti halnya irigasi genangan, cara ini kurang sesuai bagi lahan kering dan tanah berpasir meskipun penggunaan air lebih sedikit dibandingkan irigasi permukaan.

Metoda Piringan.  Cara ini dilakukan dengan  mengalirkan air dari penampung menggunakan pipa   atau    selang    ke dalam piringan tanah yang dibuat dibawah kanopi.  Pipa saluran air dapat ditanam dalam tanah atau di permukaan, dan setiap pohon   dipasang 2 buah setinggi 30 cm untuk mengurangi energi pukulan air yang dapat menghancurkan agregat, memadatkan tanah, dan  menimbulkan erosi.  Bila tidak dipasang kran, penyaluran air ke pohon dpat menggunakan selang. Metoda ini paling cocok bagi lahan kering terutama yang berlereng karena membutuhkan air lebih sedikit dan resiko erosi tanah lebih rendah dibandingkan dengan metoda genangan maupun metoda baris. Namun demikian jika tanahnya berpasir, efesiensi penggunaan air menjadi berkurang.

Metoda Semprotan (sprinkler).  Cara ini dilakukan dengan menyemprotkan air arah atas sehingga air yang jatuh menyerupai hujan. Metoda ini dapat memanfaatkan air lebih efisien dan bisa diterapkan pada berbagai kondisi seperti tanah pasiran, tanah liat, dan Tanah dangkal.Metoda ini juga dapat digunakan mengatur suhu disekitar pohon maupun aplikasi pupuk atau pestisida.

Pemasangan Mulsa. Pemasangan mulsa termasuk salah satu cara yang direkomendasikan untuk mengelola air di lahan kering terutama ketika tajuk pohon belum menutup seluruh permukaan.  Selain mengurangi penguapan air dari permukaan tanah (evaporsi), pemasangan mulsa dapat menghambat perkembangan gulma dan mengurangi perkembangan hama/penyakit sehingga menurunkan biaya pengelolaan kebun.

[cml_media_alt id='1215']metode irigasi jeruk[/cml_media_alt]

Oleh: Sutopo
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan