M. Syakir: Mengguritakan Jeruk, Bukan Menggilas

 20160804_082430-001

Banyak kata-kata berharga yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengem­bangan Pertanian (Balitbangtan), Dr. M. Syakir saat membuka BITE 2016 di Balitjestro pekan lalu. Untuk itu, mari kita telaah satu-satu konsep pengembangan jeruk masa depan yang sedang digagasnya itu.

Persoalan jeruk impor selama ini dianggap ‘Momok’ yang menakutkan. Namun di era dunia yang menganut paham perdagangan bebas, sikap ini tidak boleh terus menghantui, pasalnya produk impor di dalam MEA tidak dapat lagi diharamkan untuk masuk ke Indonesia. Salah satu cara untuk menekan impor itu adalah dengan meningkatkan daya saing nasional, bisa tidak bisa produk yang kita hasilkan harus mampu bersaing dalam harga dan kualitas, sehingga kalau kita kita pakai kata menggilas, seolah-oleh sikap yang kita cipta­kan ‘kasar’ terhadap jeruk impor. Oleh karena itu, untuk meningkatkan ketersediaan jeruk dalam negeri, upaya penyebaran dan pengembangan jeruk ke berbagai daerah di Indonesia adalah langkah yang cukup tepat.

Angkat Daya Saing

M. Syakir menjelaskan, untuk meningkatkan daya saing petani harus ada teknologi. Tidak ada lom­patan di dunia ini tanpa tekno­logi. Untuk mengangkat daya saing ke dalam, caranya dengan mempertahankan gem­pur­an impor, sedangkan untuk mengangkat daya saing keluar, kita harus segera mampu mem­produksi produk yang diekspor.

Oleh karena itu, penguasaan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan seperti kegiatan BITE 2016 ini bukan ritual tanpa makna. Balijesnrto harus ber­manfaat bagi jeruk nasional. Para­digma Balitbangtan saat ini adalah harus menghasilkan invensi, ino­vasi dan harus mampu meng­hasilkan kesejahretaraan rakyat.

“Manakala hasil penelitian Badan Litbang belum meng­hasilkan kemaslahatan petani, berarti penelitian itu belum sampai di terminal akhir, tetapi baru sampai di haltenya saja” ujarnya menambahkan.

Dia menegaskan, hasil pene­litian jangan hanya sampai ditulis di prosiding atau di jurnal penelitian saja. Jika bangsa ini ingin maju secara cepat berdasarkan deret ukur, mau tidak mau harus menguasai teknologi. “Oleh karena itu saya sangat bersyukur kepada walikota yang memberikan dukungan penuh yang mampu menggairahkan peneliti di Balitjestro untuk menghasilkan inovasi teknologi”.

Sedangkan soal ruang ling­kup kerja Balitbangtan, dia mengatakan, ”Beberapa tahun lalu saya juga pernah hadir ini di sini dengan tema siap menggilas Jeruk impor, nah siapakah yang digilas. Yang penting kita berpikir ke depan, bangkitkan daerah-daerah penghasil jeruk dengan teknologi. Oleh kerena itu saya tugaskan Balitjestro membuat Demfarm di daerah. Demfarmnya tidak bisa di daerah-daerah yang aman, tetapi harus berada daerah yang memberikan tantangan. Inovasi harus membuat solusi, peneliti harus turun di medan tempur jangan di atas kertas saja”.

Widya Wisata

Menanggapi soal BITE 2016, Di Balitjestro inni masyarakat bisa melakukan agro widya wisata, kita berkepentingan dengan widya­nya. Tugas badan litbang adalah memberikan penyebaran teknologi dan memberikan penge­tahuan teknologi bagi masyarakat khususnya generasi muda.

Di Balitjesntro ini ada 242 koleksi jeruk, koleksi ini adalah bahan baku untuk menciptakan varietas. Sekarang teknologi perbanyakan bibit sudah meng­gunakan teknologi somatik embrio genesis, yang mampu mem­produksi bibit secara masal dengan homogenitas yang tinggi. Teknologi ini dianggap penting, karena kelemahan jeruk di Indonesia adalah rentan ter­hadap serangan penyakit, oleh karena itu kita menyiapkan varietas yang adaptif terhadap ekosistem Indonesia dan bebas penyakit. Proteksi yang dilaku­kan saat ini adalah dengan melakukan mengembangkan dan menyebarkan benih-benih yang bebas penyakit.

Secara bertahap Kementerian Pertanian telah mengembangkan jeruk untuk menahan serbuan jeruk impor. Badan Litbang sudah melepas jeruk oranye yang sesuai dengan kebutuhan pasar. nUQI/Lis (Sinar Tani)

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event