Lengkeng Kinglong, Rajanya Si “Mata Naga”

Buah lengkeng biasa disebut dengan mata naga oleh orang China disebabkan penampang melintang buah apabila dibelah akan tampak bijinya yang berwarna coklat tua/hitam mengkilap dan daging buah yang putih menyelimuti mirip bola mata naga. Beberapa literatur menyebutkan bahwa buah ini berasal dari China selatan, ada juga yang menyebutkan berasal dari Burma (Myanmar).

Karakter buah yang secara umum disukai adalah ukuran buah yang besar, daging buah tebal, berbiji kecil, rasanya manis dan tekstur daging buahnya renyah. Hal tersebut harus didukung oleh produksi tanaman yang tinggi, karena mutlak yang diinginkan petani lengkeng adalah pada produksi yang tinggi. Karakter buah yang disukai, namun produksi yang rendah tentu saja akan merugikan petani.

Sejak maraknya lengkeng dataran rendah pada tahun 2000 sampai dengan sekarang ini, perkembangan varietas di Indonesia terus mengalami dinamika. Karakter buah dan tanaman harus dievaluasi minimal 3 kali masa panen sehingga hasil yang didapat sudah stabil. Ada 7 varietas yang terdaftar sampai dengan sekarang di kementrian pertanian, yaitu : pingpong, diamond river, itoh, batu, mutiara poncokusumo, selarong dan kristal.

Tabel 1. Karakter buah lengkeng kinglong

[cml_media_alt id='1716']KarakterBuahLengkengKinglong[/cml_media_alt]

Gambar. Buah lengkeng ketika fruitset, siap panen dan penampang melintangnya
Gambar. Buah lengkeng ketika fruitset, siap panen dan penampang melintangnya

Selain yang terdaftar tersebut masih banyak aksesi lengkeng lain yang berpotensi untuk dikembangkan. Salah satunya adalah Kinglong, jenis ini ditemukan sang pemilik tanpa sengaja di kebun Ngebruk, dimana diantara 44 hektar yang ditanami tanaman lengkeng varietas Itoh dan Biao khiao terdapat beberapa tanaman yang mempunyai karakter yang berbeda dengan keduanya.

Karakter yang menonjol dari jenis lengkeng ini adalah rasanya yang renyah (crispy), daging buahnya termasuk tebal, berat dagingnya terberat, dan bijinya kecil jika dibandingkan dengan lengkeng Itoh dan biao khiao. Bahkan dalam satu malai ada beberapa buah yang bijinya sangat kecil, dugaan kami biji tersebut abortus dan perlu diteliti lebih lanjut penyebabnya. Dengan karakter tersebut maka sang pemilik kebun, Budi Darmawan memberi nama KINGLONG (raja lengkeng).

Kinglong juga mempunyai produksi yang tinggi dengan jumlah buah per malai yang banyak. Dengan karakter yang dipunyai tersebut jenis ini sangat potensial untuk dikembangkan di Indonesia, tentunya harus dilakukan pendaftaran varietas terlebih dahulu sehingga  benih yang beredar terjamin kemurniannya dengan adanya pelabelan dari BPSB.

Oleh :  Buyung Al Fanshuri
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan