Kutu Sisik dan Pengendaliannya

[cml_media_alt id='1423']kutu sisik menyerang daun, ranting, dan buah[/cml_media_alt]
kutu sisik menyerang daun, ranting, dan buah
Gejala  

Kutu menyerang daun, ranting dan buah, menyukai tempat-tempat yang terlindung, seperti di bagian bawah permukaan daun di sepanjang tulang daun. Daun yang terserang akan berwarna kuning, terdapat bercak-bercak klorotis dan seringkali membuat daun menjadi gugur.  Serangan berat akan mengakibatkan ranting dan cabang menjadi kering serta terjadi retakan-retakan pada kulit.  Jika serangan terjadi di sekeliling batang, akan menyebabkan buah gugur. Akibat serangan pada buah dapat menurunkan kualitas, karena kotor dan bila dibersihkan meninggalkan bercak-bercak hijau atau kuning pada kulit buah.

Di beberapa sentra jeruk seperti Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan kutu sisik ini menyebabkan tanaman menjadi meranggas dan kering bahkan menyebabkan kematian ranting dan tanaman.

Bioekologi

Lepidosaphes beckii. Imago berwarna coklat gelap, bentuk bervariasi yaitu panjang, melingkar dan koma. Kutu betina meletakkan telur secara berkelompok sebanyak 40-80 butir di sekitar tubuhnya. Pada musim kemarau telur menetas antara 15-20 hari sedangkan musim hujan waktu penetasan lebih panjang. Kutu betina ini mengalami 2 kali pergantian kulit sebelum mencapai stadium dewasa bersayap, sedangkan kutu jantan mengalami 4 kali. Dalam satu tahun biasanya terdapat 3 generasi atau lebih. Kutu yang berbentuk koma lebih menyukai tajuk pohon yang padat, serangan biasanya lebih parah pada bagian tengah tajuk pohon.

Unaspis citri. Kutu betina meletakkan telur secara terpisah, peletakan telur kedua tidak akan berlangsung apabila telur pertama belum menetas. Pada kondisi dingin, larva tidak menjadi dewasa dan bersembunyi di bagian dalam tubuh kutu betina dewasa. Kutu berbentuk bulat (oblong), berwarna oranye terang atau merah. Kutu betina mengalami 2 stadium sebelum mencapai dewasa, sedangkan kutu jantan 3 stadium. Secara umum kutu berwarna ungu  kecoklatan sampai hitam dengan berwarna abu-abu sepanjang tepinya. Panjang kutu betina 1,5-2,25 mm.

Fase kritis dan saat pemantauan populasi adalah pada saat tanaman masih muda di pembibitan dan pada bagian cabang/ranting tanaman jeruk yang masih muda atau bagian tengah tajuk pohon yang padat.

Pengendalian

Pemangkasan, penyemprotan air bertekanan tinggi, penggunaan cairan detergen. Di alam kutu sisik L. beckii diketahui dikendalikan oleh jamur merah (Aschersonia sp.). Musuh alami seperti Aphytis lepidosaphes, A. lingnanensis, Aspidiotiphagus citrinus dan Fusarium coccophilum juga dapat mempengaruhi perkembangan populasi kutu sisik.  Oleh karena itu keberadaannya perlu diperhatikan. Pengendalian secara kimia dengan menggunakan insektisida yang bersifat selektif sehingga musuh alami tidak ikut musnah. Apabila tanaman belum berbuah pengendalian dapat dilakukan dengan insektisida sistemik yang dilakukan secara saputan batang.

 

Oleh: Otto Endarto, Susi Wuryantini dan Yunimar
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan