Kutu Daun dan Pengendaliannya pada Tanaman Jeruk

Gejala

Kutu daun ini menyerang tunas dan daun muda dengan cara menghisap cairan tanaman sehingga helaian daun menggulung.  Koloni kutu ini berwarna hitam, coklat atau hijau kekuningan tergantung spesiesnya.  Kutu menghasilkan embun madu yang melapisi permukaan daun sehingga merangsang jamur tumbuh (embun jelaga).

Di samping itu, kutu juga mengeluarkan toksin melalui salivanya sehingga timbul gejala kerdil, deformasi dan terbentuk puru pada helaian daun.

Di antara kutu daun yang menyerang tanaman jeruk, kutu daun coklat dan hitam merupakan yang terpenting karena kutu tersebut merupakan penular virus penyebab penyakit Tristeza.

Bioekologi

Secara umum kutu berukuran antara 1-6 mm, tubuh lunak, berbentuk seperti buah per, mobilitas rendah dan biasanya hidup secara berkoloni.  Perkembangan optimum terjadi pada saat tanaman bertunas.  Satu generasi berlangsung selama 6-8 hari pada suhu 25°C dan 3 minggu pada suhu 15°C.

Secara visual, bentuk dan ukuran spesies-spesies kutu daun ini serupa.  Perbedaan antara T. citricidus dan T. aurantii, terlihat pada pembuluh sayap bagian depan dimana pada T. aurantii dan warna hitam tidak bercabang sedangkan pada T. citricidus bercabang dan tubuh berwarna coklat.

Bentuk kutu kadang-kadang bersayap, kadang-kadang tidak bersayap, seksual atau aseksual, menetap atau berpindah-pindah tempat.  Pada daerah tropis yang perbedaan musimnya kurang tegas, kutu ini tinggal pada inangnya selama setahun sebagai betina-betina yang vivipar partenogenesis.  Kutu dewasa biasanya berpindah tempat untuk menghasilkan kutu-kutu baru yang belum dewasa dan membentuk koloni baru.

Pengendalian

Monitoring diutamakan pada tunas-tunas muda.  Pengendalian dilakukan apabila populasi hama ini dinilai bisa menghambat atau merusak pertumbuhan tunas.  Sebagai vektor, ambang kendali untuk kutu ini ± 25-30 ekor viruliverous.  Di alam kutu ini dikendalikan oleh predator-predator dari famili Syrpidae, Coccinellidae, Chrysopidae.  Secara kultur teknis, penggunaan mulsa jerami di bedengan pembibitan jeruk dapat menghambat perkembangan populasi kutu.  Untuk pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif Dimethoate, Alfametrin, Abamektin dan Sipermetrin secara penyemprotan terbatas pada tunas-tunas yang terserang dan apabila serangan parah dapat dikendalikan dengan Imidaklopind yang diaplikasikan melalui saputan batang.

 

Oleh: Otto Endarto, Susi Wuryantini dan Yunimar
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan