Kunjungan dan sharing informasi dari Brigham Young University.

Julianne Grose, PhD dari Brigham Young Univeristy, Utah Amerika Serikat saat berkunjung di Laboratorium Pengujian Balitjestro didampingi staf pengajar dari UB, UNEJ, dan UKSW, Kamis 29/08/2019. (Foto : Fajar/Balitjestro)

Balitjestro menerima kunjungan tamu dari Brigham Young Univeristy, Utah Amerika Serikat yang didampingi oleh pengajar dari Univ. Brawijaya, Universitas Jember dan Universitas Kristen Satya Wacana, Kamis (29/08/2019).

 

Kegiatan  tersebut dalam rangka penjajakan kerjasama penelitian antar institusi. Hadir menyambut rombongan tamu tersebut adalah Dr M Cholid, Plh Kabalai Balitjestro beserta peneliti Balitjestro.

 

Selain penjajakan kerjasama, hal yang menarik dalam kunjungan tersebut adalah sharing informasi mengenai pemanfaatan bakteriofag untuk penanganan penyakit hawar api yang disampaikan oleh Julianne Grose, PhD selaku peneliti dari teknologi tersebut.

 

Di Amerika, penyakit hawar api pada apel merupakan salah satu penyakit yang mematikan karena dapat menular dan membunuh tanaman dengan cepat dan massal. Pada umumnya penanganan hawar api pada tanaman apel dilakukan dengan cara pemberian antibiotik.  Namun, pemberian antibiotik memiliki kekurangan karena tidak spesifik, membunuh bakteri jahat dan bakteri baik.

 

Hal ini dapat menyebabkan keragaman mikrobioma menjadi menurun. Selain itu, pemberian antibiotik juga rawan residu pada buah. Kemudian resiko lain adalah antibiotik memacu resistansi bakteri penyebab penyakit sehingga muncul strain-strain baru yang lebih sulit untuk dikendalikan.

 

Kelebihan dari teknologi yang disebut sebagai Phage Therapy antara lain : 1) kekhususan atau spesifisitas untuk bakteri tertentu, 2) secara alami dapat terurai, 3) memiliki efek terapi yang kuat (hanya sedikit efek samping). Teknologi pengendalian penyakit ini menggunakan bakterifag, berasal dari kata bacteria (bakteri) dan phage (berarti makan) yaitu suatu entitas yang banyak terdapat di bumi (1032) dengan ukuran lebih kecil dari bakteri dan dapat menginfeksi bakteri.

 

Bakteriofag mengenali reseptor spesifik pada permukaan bakteri, memicu lisis pada sel bakteri dan kemudian memindahkan materi genetiknya, kemudian mengambil alih sintesa molekul bakteri dan menggantikannya dengan penggandaan materi genetiknya sendiri.

 

Potensi penggunaan bakteriofag tidak hanya untuk penanganan penyakit pada apel, tetapi juga melawan penyakit pada lebah, bakteri pada industri pengolahan minyak dan bahkan sudah ada pengembangan produk untuk menjaga kesehatan bagi manusia.

Informasi yang diberikan oleh Dr Grose sangat menarik dan membuka peluang untuk penelitian bakteriofag dalam rangka mengendalikan penyakit-penyakit penting pada jeruk, misalnya Huang Long Bing yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. (Bq)