Korea Inginkan Kerjasama dalam Strategi Teknologi Adaptasi dan Antisipasi Perubahan Iklim

[cml_media_alt id='1992']Direktur Citrus Research Station Republic of Korea[/cml_media_alt]
Direktur Citrus Research Station Republic of Korea
Dalam sambutannya pada “International Seminar on The Status and Measure of Citrus Industry for Climate Change” Direktur Citrus Research Station, Dr. Kwang-Sik Kim (mewakili DG of Rural Development Administration yang tidak bisa hadir) memberikan penghargaan yang tinggi kepada para pembicara dari China, Indonesia, Jepang dan Korea yang telah hadir memenuhi undangan. Selanjutnya beliau menginginkan adanya networking bilateral atau multilateral dibidang penelitian jeruk khususnya dalam mengantisipasi perubahan iklim dan strategi teknologi adaptasinya. Dampak perubahan iklim yang sangat menonjol adalah cold damage yang mengakibatkan tanaman jeruk mati. Selanjutnya dilaporkan pula bahwa program penelitian pada Citrus Research Station adalah penelitian di bidang pemuliaan, physiologi, hama dan penyakit, serta pemanfaatan functional materials (advanced citrus material research) untuk kesehatan, kosmetik, juice maupun wine.

[cml_media_alt id='1991']wine dari Jeruk[/cml_media_alt]
wine dari Jeruk
Pembicara dari China melaporkan bahwa total area untuk jeruk sekitar 2.1 juta Ha dengan total output sekitar 26 juta ton. Masalah utama yang dihadapi oleh petani jeruk terhadap perubahan iklim adalah temperature ekstrim bisa dibawah -7 sampai -10 ºC yang mengakibatkan “frost damage” bagi tanaman jeruk. Lebih lanjut dilaporkan bahwa trend iklim di China pada tahun-tahun ini antara lain rata-rata temperature meningkat 0.6 – 0.8º C selama 100 tahun, dan curah hujan juga naik sampai 14.9 mm dalam waktu 50 tahun. Sedangkan di tahun mendatang, rata-rata temperatur di China akan naik sekitar 1.3 – 2.1 ºC pada tahun 2020 dan 2.3 – 3.3 ºC pada tahun 2050. Untuk curah hujan rata-rata akan meningkat 2 – 3 % pada tahun 2020, dan 5 – 7 % pada tahun 2050. Dengan demikian perlu dipetakan daerah-daerah yang potensial untuk pengembangan jeruk di masa mendatang.

Seperti halnya China, Jepang juga mengalami cold damage akhir-akhir ini. Tampaknya program antisipasi dan teknologi adaptasi untuk menghadapi perubahan iklim di Jepang telah lama dilakukan sehingga mereka bisa mempetakan musim-musim mana yang memerlukan teknologi adaptasi

[cml_media_alt id='1990']korea jeruk masa panen[/cml_media_alt]

Gambar. Kondisi kerusakan tanaman jeruk pada beberapa musim

Khusus untuk Indonesia diminta untuk mempresentasikan status produksi buah-buahan di Indonesia termasuk jeruk menghadapi dampak perubahan iklim. Dibandingkan dengan China, Jepang dan Korea, program antisipasi dan strategi adaptasi dalam menghadapi perubahan iklim pada tanaman buah-buahan belum banyak data maupun informasi kongkrit yang didapat. Artinya kita belum secara khusus meneliti dampak perubahan iklim terhadap produksi maupun produktivitas buah-buahan tropika termasuk jeruk. Meskipin demikian, kejadian serangan penyakit endemic pada beberapa buah-buahan yang sebelumnya belum pernah terjadi ada indikasi bahwa perkembangan penyakit ini berhubungan dengan perubahan iklim. Hal ini tentunya perlu didukung dengan data yang valid.

 

Sumber tulisan:
Laporan Hasil Kunjungan Kerja Kepala Balitjestro ke Korea dalam rangka  “International Seminar on The Status and Measure of Citrus Industry for Climate Change”

Tinggalkan Balasan