Kontribusi Agronomi dalam Mendukung Penguatan Ketahanan Pangan dalam Menghadapi Perubahan Iklim

Peragi2014

Berikut ini adalah makalah dari Ir. H. Achmad Mangga Barani, MM sebagai Ketua Umum Peragi dalam seminat Peragi 2014 di UNS Solo:

Pertumbuhan dan hasil tanaman merupakan hasil kerja interaksi antara sifat genetik dan faktor-faktor lingkungan tumbuhnya. Dua kelompok faktor lingkungan tumbuh yaitu (1) Abiotik : Iklim dan Edafik (tanah), serta Api dan (2) Biotik : Organisme pengganggu (hama, penyakit dan gulma), organisme menguntungkan ( tanaman kacangan, bakteri dan cendawan non patogenik, bersimbiosis, pengompos BO dsb).

Pengembang baru ke kawasan dengan kendala yang semakin besar, terutama karena mulai merambah ke kawasan lingkungan tumbuh yang semakin suboptiomal (kelas lahan S3 atau NS).  Lingkungan tumbuh suboptimal yaitu: (1) tanah marjinal dengan berbagai sifat tanah yang menjadi faktor pembatas dan atau (2) iklim, terutama curah hujan yang rendah atau semakin fluktuatif dengan bulan kering yang semakin banyak.

Tanah marjinal yaitu tanah tua  tropik basah menjadi semakin miskin, karena bertekstur kasar (fraksi liatnya tercuci), kadar bahan organik rendah, sehingga kemampuan menahan air dan kapasitas tukar kationnya rendah, serta erodibilitas tinggi.

Karakteristik variablitias dan perubahan iklim tanda-tandanya di tingkat lokal yaitu: (1) Meningkatnya suhu udara, (2) Perubahan pola curah hujan, (3) Peningkatan permukaan air laut, (4) Peningkatan frekwensi kejadian ekstrim. Kondisi iklim yang tidak lagi teratur menyebabkan perubahan iklim menjadi hal yang tidak terelakkan lagi, kita harus siap menghadapinya. Kearifan lokal dan tanda-tanda alam (pranata mangsa) sulit bahkan tidak lagi dapat digunakan oleh masyarakat.

PosterSeminar

Elemen perubahan iklim yang memberikan dampak nyata pada sektor pertanian;

  • Peningkatan Suhu > Pematangan lebih awal, penurunan produktivitas tanaman, peningkatan hama dan penyakit
  • Perubahan Pola Curah Hujan >Produksi tanaman, Fluktuasi ketersediaan air dan Peluang peningkatan hama dan penyakit
  • Peningkatan Frekwensi Kejadian Iklim Ekstrim. > Banjir, longsor, kekeringan
  • Peningkatan Paras Muka Air Laut > Kehilangan dan penyusutan luas tanam dan Intrusi air laut/salinitas

Iklim berpengaruh sebagai faktor lingkungan tumbuh. Unsur-unsur iklim yaitu; (1) Radiasi matahari, (2) Suhu udara, (3) Curah hujan, (4) Kelembaban udara, (5) Angiin dan (6) Komposisi atmosfir.

Pemanasan global yaitu perbedaan suhu yang semakin besar antara musim dingin dan musim panas hal ini mengakibatkan konsumsi bahan bakar meningkat. Efek berikutnya yaitu harga minyak bumi dunia dan gas alam juga meningkat. Akibat lanjutan dari harga minyak yang meningkat yaitu biaya untuk energi produksi pupuk buatan anorganik, produk agrokimia lainnya, dan sarana/prasarana produksi pertanian.  Perubahan suhu lingkungan juga mengakibatkan terjadinya dinamika populasi serangga.

Rekomendasi Untuk Menghadapi Perubahan Iklim yaitu;

  1. Memahami bahwa peningkatan ketahanan pangan dan  adaptasi perubahan iklim berjalan seiring.
  2. Meningkatkan investasi dalam produktivitas pertanian.  Investasi yang lebih besar dalam ilmu pertanian dan teknologi sangat diperlukan.
  3. Optimalisasi dan perbaikan riset nasional serta  program penyuluhan pada masyarakat petani. Riset untuk peningkatan produktivitas  tanaman dan ternak, termasuk bioteknologi,  akan sangat penting untuk membantu mengatasi cekaman abiotik dan biotik karena perubahan iklim.
  4. Mendukung strategi adaptasi berbasis masyarakat.  Produktivitas tanaman dan ternak, akses pasar, dan efek dari perubahan  iklim semuanya sangat spesifik sesuai lokasi tertentu.
  5. Membuat adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim sebagai agenda utama dalam proses negosiasi internasional. Peluang untuk pemerintah dan organisasi masyarakat sipil untuk mengajukan proposal untuk tindakan praktis dalam upaya adaptasi  di bidang pertanian.
  6. Meningkatkan pendanaan untuk program adaptasi, meliputi: penelitian, infrastruktur pedesaan, dan investasi  irigasi

Pendekatan Agronomi Untuk Adaptasi

  1. Ketahanan sistem produksi padi harus ditingkatkan melalui  dua pendekatan: (a) meningkatkan toleransi terhadap cekaman secara tunggal (dan pada saat yang sama) dan (b) memiliki toleransi terhadap cekaman ganda akibat perubahan iklim.
  2. Pengembangan plasma nutfah dan praktek agronomi yang lebih baik harus menjadi fokus untuk upaya adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim
  3. Pendekatan ini telah terbukti memiliki ketahanan yang tinggi terhadap variabilitas iklim yang ekstrim
  4. Sistem irigasi merupakan penyangga yang baik terhadap dampak kekeringan secara langsung akibat perubahan iklim,
  5. Teknik penghematan air irigasi akan memberikan manfaat bagi ketahanan sistem produksi padi dari ancaman kekeringan di masa depan

Agenda Riset dan Program untuk Adaptasi terhadap Perubahan Iklim

  • Fisiologi, genetik dan pemuliaan tanaman untuk adaptasi terhadap suhu tinggi, kekeringan, banjir, genangan dan salinitas
  • Perakitan varietas tanaman yang adaptif terhadap perubahan iklim (suhu tinggi, kekeringan, banjir, genangan dan salinitas) serta teknologi budidayanya
  • Pengembangan teknologi adaptasi untuk pengelolaan hama dan penyakit tanaman akibat perubahan iklim
  • Pengembangan pola tanam untuk adaptasi menghadapi perubahan pola curah hujan akibat perubahan iklim

Topik-topik Utama Penelitian yang Diusulkan Menjadi Prioritas:

  1. Konservasi sumberdaya air dan tanah guna meminimumkan cekaman air pada musim kemarau.
  2. Pengembangan teknologi penyiapan lahan tanpa bakar (zero burning) dan pencegahan kebakaran lahan pada musim kemarau
  3. Pemberian bahan organik (antara lain limbah) guna meningkatkan bahan organik dan ketersediaan air tanah serta  efisiensi pemupukan.
  4. Penerapan berbagai teknik perbaikan ketersediaan air tanah guna meningkatkan penyerapan hara pupuk dan kapasitas asimilasi tanaman
  5. Pengembangan teknik budidaya jenuh air dan meningkatkan kemampuan adaptasi tanaman terhadap cekaman genangan.
  6. Pemanfaatan limbah kebun dan pengolahan hasil dalam upaya peningkatan pertumbuhan dan produksi tanaman serta substitusinya terhadap pupuk buatan.
  7. Inokulasi mikoriza dan bakteri pelarut fosfat, serta mikroorganisme menguntungkan lainnya guna meningkatkan daya adaptasi tanaman terhadap cekaman abiotik dan biotik, serta efisiensi pemupukan
  8. Aplikasi mikroorganisme untuk mempercepat dekomposisi limbah organik dan meningkatkan efisiensi pemupukan
  9. Pemberian pembenah tanah (ameliorasi), di antaranya untuk  memperbaiki kemampuan tanah menahan air (Water holding capacity) dan kapasitas tukar kation (Cation exchange capacity), serta meningkatkan ketersediaan hara  bagi tanaman.
  10. Pemanfaatan organisme (al. musuh alami) menguntungkan dalam Pengendalian Hama Terpadu
  11. Pemanfaatan senyawa kimia ramah  lingkungan termasuk zat pengatur tumbuh dalam mengubah karakter morfofisiologi guna meningkatkan daya adaptasi tanaman terhadap cekaman lingkungan dan kapasitas pembentukan buah
  12. Manajemen tajuk  spesifik lingkungan dan varietas  yang meliputi (a) Upaya optimasi pemanfatan radiasi matahari, air dan hara dan sekaligus mengatasi cekaman lingkungan dan (b) Pengaturan luas permukaan daun diperlukan untuk menyeimbangkan antara kapasitas fotosintesis bersih (termasuk untuk respirasi jaringan daun) dan pemenuhan permintaan transpirasi.
  13. Pertanian terpadu secara  horizontal ( ternak dan tanaman pertanian), vertical (limbah produk industri) dan agroforestri : agrosilvapastoral,  agrosilvafisheries

 

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event