Kontes Jeruk Nasional Kenalkan Potensi Jeruk Indonesia

ZHF_0516

REPUBLIKA.CO.ID, BATU — Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro) menggelar kontes jeruk nasional pada Kamis (4/8). Kontes diikuti 43 peserta dari petani jeruk se-Indonesia.

Ketua tim juri Arry Suprianto mengatakan, kontes ini selain mencari buah jeruk terbaik juga mengenalkan potensi jeruk yang tumbuh di Indonesia. Kontes dibagi menjadi tiga kategori, yaitu jeruk keprok, jeruk siam, dan jeruk pamelo atau jeruk bali.

“Indikator penilaian meliputi ukuran, warna, bentuk, serta tingkat kemanisan, jumlah biji, kadar asam, dan volume jus,” jelas Arry di Malang, Kamis (4/8).

Bersamaan dengan digelarnya kontes, Balitjestro meluncurkan tujuh benih varietas jeruk baru ke pasaran. Ketujuh varietas baru itu terdiri atas varietas nimas agrihorti, sitaya agrihorti, keprok JRM 2012, keprok krisma agrihorti, puri agrihorti, keprok monita agrihorti, dan jeruk sambal sari agrihorti.

Menurut Arry, masyarakat Indonesia umumnya menyukai jeruk yang rasanya manis. Akan tetapi, pasar menengah ke atas lebih menyukai warna jeruk yang kuning bersih dengan rasa asam manis. “Upaya pemerintah untuk substitusi impor bisa diupayakan lewat jeruk keprok,” kata Arry.

Jeruk yang dibudidayakan di tanah air kulitnya cenderung kurang menarik jika dibandingkan jeruk impor. Namun, jeruk asal Indonesia lebih sehat karena unggul dalam hal kesegaran. “Jeruk Indonesia lebih fresh, berbeda dengan jeruk impor yang butuh waktu berminggu-minggu sejak dipanen hingga dipasarkan,” kata pria yang juga peneliti senior Balitjestro ini.

Sujadi, seorang peserta kontes dari Desa Kajar Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus, membawa hasil panen berupa jeruk-jeruk pamelo muria seberat 4 kilogram. Jeruk-jeruk berukuran jumbo ini temasuk grade A. “Kecamatan Dawe di sepanjang lereng Gunung Muria sejak lama terkenal sebagai sentra penghasil jeruk,” jelasnya.

Berdasarkan data Badan Litbang Pertanian, lima sentra produksi jeruk di Indonesia adalah Jawa Timur, Sumatera Utara, Bali, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan dengan luas berkisar 3-14 ribu hektar. Tingkat konsumsi jeruk Indonesia masih sangat rendah, yakni 2,69 kg/kapita/tahun. Sementara itu total konsumsi buah baru mencapai 34,55 kg/kapita/tahun. Angka ini masih jauh dari standar FAO sebesar 75 kg/kapita/tahun.

Sumber: Republika

Tinggalkan Balasan