Kita Bisa Swasembada Buah

Kita Bisa Swasembada BuahManisnya jeruk Keprok Batu 55 Malang atau segarnya jeruk Pamelo dari Magetan ternyata belum dapat memikat sebagian konsumen pecinta jeruk untuk lebih mencintai jeruk lokal. Mereka lebih memilih jeruk impor yang dinilai lebih menarik, berkualitas dan mudah didapat. Padahal penilaian mereka salah. Hasil penelitian menunjukkan jeruk lokal selain lebih segar dan berkualitas juga memiliki kandungan vitamin yang lebih tinggi dibanding jeruk impor. Jeruk lokal juga tidak kalah manis dibandingkan jeruk impor.

Fenomena ini selalu mengusik Dr. Ir. Harwanto, M.Si, peneliti pada Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), Batu. Menurutnya, masyarakat masih sering meremehkan potensi jeruk dan buah-buahan lokal. Mereka selalu menganggap buah impor lebih baik dibandingkan buah lokal. “Persepsi sebagian konsumen buah memang perlu diluruskan. Potensi buah Nusantara sungguh sangat besar. Tidak hanya lebih berkualitas tetapi juga tersedia sangat banyak pilihan. Seharusnya kita tumbuhkan nasionalisme untuk lebih mencintai buah Nusantara dan membatasi buah impor,” ujarnya bersemangat.

Menurut Harwanto, potensi buah lokal memang sangat luar biasa namun belum tergarap optimal. Plasma nutfah buah tropis sangat melimpah, lahan tanam juga tersedia sangat luas. Sudah seharusnya negeri ini bisa mencukupi buah-buahan tanpa harus mengimpor. Kalau ada istilah swasembada pangan mungkin tidak salah jika kita juga berusaha untuk mewujudkan swasembada buah-buahan. “Impor memang tidak bisa dihapus sepenuhnya karena ada beberapa jenis buah tertentu yang harus diimpor. Namun impor buah tetap harus dibatasi karena sebagian besar buah yang impor sebenarnya dapat dipenuhi oleh petani buah lokal,” ungkapnya.

Untuk mengoptimalkan potensi produksi berbagai jenis buah, disarankan agar pengembangan buah-buahan dilakukan dalam satu kawasan hamparan. Model ini terbukti jauh lebih menguntungkan karena manajemen pengelolaan yang lebih mudah dan efisien, tata kelola budidaya juga lebih terjaga. Beberapa petani di Tuban, Banyuwangi dan Malang sudah mulai mengembangkan ‘cluster’ buah-buahan ini. Dengan didukung pihak pemerintah daerah mereka mengembangkan tanaman jeruk dalam skala ratusan hektar. “Minat petani untuk menanam jeruk sangat tinggi. Mereka sudah membuktikan budidaya jeruk menguntungkan,”jelasnya. Ditambahkannya, rakitan teknologi budidaya aneka buah-buahan sudah tersedia lengkap, bibit berkualitas bebas penyakit juga sudah ada. Tinggal para petani dan stake holder yang bertanggungjawab pada pengembangan buah-buahan memanfaatkannya secara optimal.

Menjawab pertanyaan tentang nikmatnya menjadi peneliti, Harwanto mengibaratkan sebagai ‘petualang’ di dunia sunyi. Alumni IPB dan UGM ini menilai, dunia penelitian sangat mengasyikkan meskipun sering tidak diperhatikan orang. Roh penelitian yang selalu mencari dan bertanya membuat siklus kehidupan terus bergerak dinamis tidak pernah berhenti. “Namun yang paling membahagiakan kalau hasil penelitian kita bisa dipergunakan masyarakat, dan mereka bisa sejahtera karena hasil penelitian itu,” ungkapnya. Sebaliknya sebagai peneliti akan sangat sedih kalau rekomendasi hasil penelitian diabaikan. (Made Wirya – Wawancara Tabloid Sahabat Petani Edisi 35 / November 2013 dengan Dr. Ir. Harwanto, M.Si)

halaman 9 - Tabloid Sahabat Petani
halaman 9 – Tabloid Sahabat Petani

Tinggalkan Balasan