Kinerja dan Revitalisasi Sistem Perbenihan Mendukung Pembangunan Industri Benih Jeruk di Indonesia

[cml_media_alt id='1552']Benih Jeruk Berkualitas[/cml_media_alt]

Agribisnis jeruk di Indonesia hingga kini belum didukung sepenuhnya oleh  inovasi teknologi hasil penelitian dari Litbang Pertanian dan lembaga penelitian lainnya sehingga produk yang dihasilkan berdaya saing rendah dan keberlanjutannya tidak terjamin.  Salah satu penyebab utama belum mantapnya perkembangan agribinis jeruk  ini  adalah tidak didukungnya oleh industri benih jeruk yang tangguh.  Sekitar   80-90 % benih jeruk yang dihasilkan oleh dua kawasan industri benih di Purworejo-Jateng dan Kampar-Riau   yang berkapasitas 1.500.000 – 2.000.000 benih jeruk per tahun ini adalah  tidak berlabel dan sudah menyebar ke minimal 7 provinsi di Indonesia.

Demikian pula yang terjadi di sentra penangkar benih jeruk di  Sambas-Kalbar dan Batola – Kalsel, benih jeruk yang ditanam di kebun petani sebagian besar tidak berlabel. Kondisi ini dapat menjelaskan mengapa penyebaran penyakit mematikan CVPD melalui distribusi ke daerah sentra produksi tidak terkendali dan mengakibatkan   ambruknya agribisnis jeruk di Kabupaten Luwu Utara -Sulawesi Selatan, Jember – Jawa Timur, dan Sambas-Kalimantan Barat di mana lebih dari 30% pertanaman jeruknya dari sekitar 11.000 ha pada tahun 2010 dilaporkan telah terinfeksi oleh CVPD.

Tujuan penelitian ini adalah (1). Mengevaluasi dan merumuskan   perbaikan  teknis pengelolaan BF, BPMT, dan Blok Poduksi Benih Komersial, dan sistem sertifikasi benihnya, (2). Mengevaluasi dan merumuskan penguatan kelembagaan pelaku perbenihan jeruk nasional dari   pusat-daerah dalam proses produksi dan distribusi benih jeruk nasional, dan (3). Mengevaluasi dan merumuskan  kebijakan  perbenihan jeruk guna memperkuat kemandirian industri jeruk nasional.

Survei dilaksanakan di delapan provinsi yang memiliki BF, yaitu Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Trengah, Jawa Timur, Busa Trenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Kalimantar Timur, serta provinsi Riau yang dilaksanakan secara terpisah. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan, contoh  bahan tanaman diambil mengghunakan standar untuk diindeksing dan diuji kemurnian varietasnya dengan metode “DNA finger printing” dilakukan di lab Balitjestro. Data selanjutnya diolah menggunakan  analisis SWOT untuk menentukan langkah-langkah  revitalisi industri benih jeruk nasional ke depan.

[cml_media_alt id='1551']Objek survei yang dilakukan pada alur distribusi perbenihan jeruk bebas penyakit[/cml_media_alt]
Gambar. Objek survei yang dilakukan pada alur distribusi perbenihan jeruk bebas penyakit
Hasil kondisi Blok Fondasi (BF), Blok Penggandaan Mata Tempel (BPMT) sebagai sumber mata tempel para penangkar benih jeruk,  dan kondisi pembenihan jeruk di para penangkar di delapan provinsi yang disurvai dapat digambarkan sebagai berikut. Secara umum kondisi Blok Fondasi jelek-cukup baik sedangkan  yang kondisinya baik biasanya Blok Fondasi Baru.  Sekitar 60-70 % BPMT kondisinya jelek karena tidak dipelihara secara optimal dan BPMT baru mempunyai keragaan pertumbuhan yang lebih baik.  Berdasar hasil survai 70-80 % benih yang dihasilkan tidak berlabel, bahkan di Kampar-Riau bisa mencapai 90%.  Kondisi ini menjelaskan mengapa masih ada BPMT yang tidak pernah dimanfaatkan oleh penangkar benih, bahkan  keragaan jeruk berlabel biru sering lebih jelek dibandingkan benih liar.

Revitalisasi  industri benih di Indonesia dapat dilaksanakan dengan memfokuskan pengembangan kawasan industri benih utama dan tidak harus selalu di setiap provinsi pengembangan kawasan agribisnis jeruk di Indonesia, diantaranya di  Purworejo-Jateng dan sekitarnya, dan kabupaten Kampar – Riau.  Di dua daerah utama penghasil jutaan benih jeruk ini sebagian besar benihnya tidak berlabel karena terbatasnya mata tempel  jeruk bebas penyakit dari BPMT, walaupun dilaporkan juga mata tempel yang ada di BPMT tidak pernah dipanen karena mutu mata tempel yang dihasilkan tidak bagus  akibat pemeliharaan yang tidak optimal.

Pembinaan penangkar benih jeruk di provinsi yang memiliki program  pengembangan kawasan agribisnis jeruk terbukti  sulit dilakukan dengan hasil yang sering tidak memuaskan. Dengan pendekatan seperti tersebut di atas , dana dan tenaga yang terbatas, pembinaan  bisa lebih difokuskan pada dua sentra industri benih tersebut di atas dengan peluang keberhasilan tinggi, waktu yang relatif singkat  dan dampak penyebaran penyakit CVPD melalui benih jeruk menjadi lebih mudah dikontrol.  

Selanjutnya kita dapat memanfaat ketrampilan yang dimiliki para penangkar di sentra utama dengan menambah jumlah bangunan BPMT berkapasitas sesuai kebutuhan sehingga bisa memenuhi kebutuhan nasional benih jeruk berlabel biru yang terus meningkat dan menekan peredaran jumlah benih liar yang semakin marak dan dianggap biasa. Pembinaan kepada Asosiasi Penangkar Benih Buah (tidak hanya jeruk) yang sudah ada di kawasan industri benih tersebut lebih ditekankan bukan pada segi teknis yang memang sudah dikuasi penangkar, tetapi lebih pada pemahaman tentang pentingnya hanya menghasilkan benih berlabel biru dan resiko yang telah dan akan ditimbulkan kaitannya dengan  keberlanjutan pengembangan kawasan agribisnis jeruk di Indonesia.

Selain itu, termasuk juga tentang inspeksi tahapan penting yang pasti akan dilakukan petugas BPSB guna menjamin mutu prima dari benih jeruk berlabel biru yang akan dihasilkan penangkar.  Penangkar benih harus ikut bertanggung jawab mencegah penyebaran   penyakit CVPD dan bahkan bukan justru sebagai agen penyebar  penyakit yang harus diperhatikan serius dalam setiap gerak pengembangan agribisnis jeruk di tanah air.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan dan disarankan sebagai berikut:

  1. Blok Fondasi tidak harus dibangun di setiap provinsi,  hanya selektif di beberapa lokasi saja yang dinilai mampu dari segi sdm maupun dana untuk mendukung aktivitas pengelolaannya secara optimal  termasuk biaya  indeksing secara individual dan periodik yang relatif mahal;
  2. Dua tahun ke depan pembinaan penangkar benih jeruk sebaiknya dilakukan di dua sentra industri benih utama di Indonesia yaitu Purworejo-Jateng dan Kampar-Riau;
  3. BPMT lebih tepat sasaran jika dibangun di sentra pembibitan dan dikelola oleh Asosiasi Penangkar Buah (jeruk) Dan terus dilakukan pendampingan penerapan teknologi anjurannya;
  4. BPSB harus lebih transparan dan berani memberi jaminan kepada petani, bahwa proses pengawasan dan sertifikasi benih jeruk berlabel biru telah dilakukan sesuai prosedur;
  5. Mensinkronkan dan menselaraskan SK dan regulasi pusat dengan daerah yang berhubungan dengan perbenihan jeruk terutama dalam distribusi materi perbanyakan jeruk bebas penyakit;  dan segera
  6. Membangun sistem informasi perbenihan jeruk nasional berbasis web.

Industri benih jeruk yang tangguh akan memantapkan  pengembangan agribisnis jeruk nasional yang berdaya saing dan berkelanjutan sehingga lebih percaya diri dalam menghadapi tantangan impor buah jeruk yang melaju secara eksponensial pada lima tahun terakhir ini.  Kerja keras, cerdas dan ikhlas bagi pihak riset, pengembangan dan seluruh pelaku agribinis jeruk  menjadi kunci sukses bangkitnya agroindustri jeruk di Indonesia yang disegani dunia.

 

Oleh: Arry Supriyanto
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Related Post

Tinggalkan Balasan