Kembalinya Jeruk Manis Pacitan Lewat M-KRPL

[cml_media_alt id='2042']picture manis pacitan[/cml_media_alt]Pada era tahun 2000 an, kita kenal salah satu daerah penghasil jeruk manis atau di pasaran lebih dikenal dengan nama jeruk baby, yaitu Pacitan. Bahkan menjadi terkenal dengan nama jeruk Pacitan. Kala itu, jeruk manis Pacitan menjadi komoditas yang mampu menopang kesejahteraan rakyat. Disebut jeruk baby, karena rasanya manis tanpa ada rasa asam, sehingga sari buah segarnya banyak diberikan kepada bayi dan balita. Jeruk manis Pacitan ini cukup menarik, bentuk bulat, ukuran diameter antara 7-8 cm, warna kulit buah hijau kekuningan dengan warna daging buah kuning muda-kuning. Karena asalnya dari Pacitan, maka cocok dikembangkan di dataran rendah. Jika ditanam di dataran tinggi, warna kulit buah lebih kuning dengan permukaan kulit buah lebih halus. Jeruk ini dilepas Menteri Pertanian pada tahun 2002 sebagai varietas unggul nasional.

Jika saat ini anda jalan-jalan ke Pacitan dengan udara yang panas menyengat dan ingin menikmati segar dan manisnya jeruk Pacitan, dipastikan anda gigit jari. Pasalnya, jeruk tersebut sudah punah. Menurut informasi penduduk, kejayaan jeruk tersebut direnggut oleh CVPD yang telah menyerang jeruk di Indonesia, tak terkecuali jeruk Pacitan. Namun, Anda tidak perlu kecewa, sekarang jeruk manis Pacitan bisa ditemui di pasar swalayan, pasar buah, terutama di kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Solo dan Malang. Anda juga bisa menjumpai jus segar jeruk manis ini di tenda bazar mingguan, diperas di tempat, langsung minum.

Jeruk manis Pacitan yang berada di pasar swalayan tersebut diproduksi di kecamatan Dau, kabupaten Malang yang saat ini baru mencapai luasan 500 Ha dan terus bertambah. Dari jeruk manis ini telah banyak mengantarkan petani menjadi Haji, karena bisnis ini memang menggiurkan. Panen buahnya bisa berlangsung hampir setiap bulan, dengan puncaknya pada Februari – Juli. Rata-rata per bulan dari kecamatan Dau bisa diproduksi 550 ton, dengan harga saat ini berkisar Rp. 4.000,- per kg, dan saat panen raya bisa mencapai 1650 ton per bulan dengan kisaran harga di tingkat petani Rp. 2.500,-.

Mulai tahun 2011, Badan Litbang Pertanian mengembangkan Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (MKRPL) di desa Kayen, kecamatan Pacitan, kabupaten Pacitan. Melalui kegiatan MKRPL Kayen inilah, jeruk manis Pacitan dikembalikan ke daerah asalnya. Tabulampot jeruk yang telah berbuah saat ini menghiasi halaman masjid, peragaan tanamannya juga terdapat di Kebun Bibit Desa dan di pekarangan warga. Kepada warga masyarakat telah dibagikan tanaman jeruk manis Pacitan yang berumur 1 tahun. Melihat percontohan ini, Pemerintah Kabupaten Pacitan akan menindaklanjuti dengan pengembangan kembali jeruk manis di kabupaten Pacitan.

Oleh : Arry Supriyanto | Balitjestro |  Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura

Tinggalkan Balasan