Kelemahan Revitalisasi Jeruk Nasional

[cml_media_alt id='1127']aphis.usda.gov[/cml_media_alt]
aphis.usda.gov
Sentra jeruk di Indonesia pada periode tahun 1960 sampai dengan 1980an mengalami kemerosotan populasi yang tajam karena dilanda oleh penyakit CVPD (Citrus Vein Vloem) atau citrus greening yang dewasa ini secara internasional disebut “Huang Longbing”. Berbagai upaya penyembuhan antara lain dengan menginfus tanaman terserang menggunakan Oxytetracyclin tidak memberikan hasil memuaskan, sehingga akhirnya dilakukan eradikasi (pembongkaran) secara besar-besaran.  Penyakit ini merupakan bahaya laten yang setiap saat bisa mengancam sentra produksi yang sudah terbangun maupun tanaman baru yang akan dikembangkan, karena tanaman yang terserang sulit/tidak bisa disembuhkan dan konon menurut pakar jeruk belum ada obat yang mujarab untuk menyebuhkan penyakit CVPD.

Asa menggeser buah jeruk impor yang dilakukan melalui pengembangan jeruk bebas penyakit belum juga tercapai, isu mengenai ulah CVPD di beberapa sentra jeruk mulai semarak berhembus kembali.  Tidak salah menobatkan CVPD sebagai biang kerok masalah tersebut, tetapi tidak selalu benar kalau CVPD menjadi satu-satunya atau penyebab utama merosotnya sentra jeruk di berbagai tempat seperti di Soe (NTT), Ponorogo dan Magetan (Jatim), Tejakula (Bali), Tawangmangu (Jateng), Garut (Jabar), dan lain-lain.  Penyakit CVPD memang harus selalu diwaspadai tetapi tidak perlu menimbulkan ketakutan berlebih yang justru mengakibatkan keteledoran terhadap masalah teknis lain yang tidak kalah penting.  Beberapa kelemahan  yang masih terjadi dan mendesak untuk dibenahi dalam revitalisasi sentra jeruk antra lain : mutu benih, penerapan teknologi, pemahaman terhadap gejala serangan CVPD, dan dominasi jenis jeruk Siam.

Mutu Benih.

[cml_media_alt id='1129']Poster PTKJS Tlekung...[/cml_media_alt]Yang dimaksud benih bermutu adalah benih bebas dari patogen sistemik tertentu (CVPD, CTV, CVEV, CEV, CPsV, CcaV dan CTLV), sama dengan induknya yaitu varietas batang atas dan bawah dijamin kemurniannya, dan tahapan produksinya berdasarkan program pengawasan dan sertifikasi benih yang berlaku.  Benih jeruk bermutu biasanya diberi label biru yang dikeluarkan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPSBTPH).  Dalam pengadaan benih harus waspada bahwa tidak semua benih berlabel pasti bermutu.  Prakteknya di lapangan masih ditemui benih berlabel tetapi labelnya ASPAL (asli tapi palsu)  yang tentunya baik kebenaran varietas dan kesehatan mata tempelnya juga diragukan. Kalau di derah-daerah yang menerapkan pengawasan peredaran benih jeruk termasuk ketat seperti Jawa Timur masih bisa terjadi kasus pemalsuan label, apalagi di tempat lain.

Tumbuh kembangnya praktek bisnis benih jeruk “asalan” yang telah mencapai lingkup antar propinsi tidak lepas dari berlakunya hukum pasar, yaitu penangkar yang memproduksi benih jeruk bermutu (bebas penyakit) jumlahnya sangat terbatas sedangkan permintaan pasar terus bertambah.  Salah satu contoh yaitu KPRI CITRUS (Jl. Raya Tlekung No. 1 Kota Batu, http://kpricitrus.wordpress.com) sebagai salah satu penangkar benih jeruk bebas penyakit terbesar di Indonesia ternyata pada tahun 2010 hanya mampu melayani sekitar 200.000 pohon yang digunakan untuk pengembangan di beberapa propinsi.  Padahal permintaan konsumen jauh lebih besar, dan diperkirakan jumlah tersebut tidak ada lima persen dari benih yang ditanam pada tahun yang sama.

Penerapan Teknologi Budidaya.

Secara garis besar petani jeruk dikelompokan menjadi 2, yaitu petani kelas menengah keatas (memiliki kebun jeruk minal 1 ha) dan petani kecil.  Petani kelas menengah keatas memiliki karakter mandiri, mudah menerima inovasi teknologi, dan menjadikan usahatani jeruk sebagai salah satu mesin ATM (pencetak uangn) sehingga pengelolaan kebun dilakukan secara optimal.  Sebaliknya bagi petani kecil, permodalannya lemah, biasanya menanam jeruk karena mendapat bantuan benih dari pemerintah,  pengetahuannya tentang budidaya jeruk yang baik dan benar kurang memadai dan tidak mudah menerima inovasi teknologi.

Praktek pemeliharaan tanaman jeruk yang banyak dilakukan oleh petani kecil dengan cara tidak jauh berbeda dengan tanaman tahunan seperti mangga, rambutan, durian, dan lain-lain merupakan cerminan ketidak pahaman petani terhadap teknologi budidaya jeruk yang baik dan benar. Penyebab lainnya yaitu untuk menerapkan teknologi anjuran dibutuhkan modal yang cukup menguras kantong petani sampai dengan tanaman mampu berbuah (4 tahun). Oleh karena itu, tidak mengherankan jika fakta bahwa petani jeruk yang sukses kebanyakan adalah petani berdasi.  Masalah ini sebaiknya diberi perhatian khusus dalam revitalisasi jeruk di lingkungan petani kecil dan daerah pengembangan baru, misalnya dengan program pendampingan dan pengkawalan penerapan teknologi, pemberian bantuan mesin pengolah pupuk organik, pelatihan pemanfaatan bahan alami sebagai pestisida, dan lain sebagainya.

[cml_media_alt id='1128']gambar: worldofinsects.tumblr.com[/cml_media_alt]
gambar: worldofinsects.tumblr.com

Pemahaman Terhadap Gejala Serangan CVPD

Penyakit CVPD bisa menular melalui benih yang tidak sehat dan serangga vektornya yaitu Diaphorina Citri. Pengembangan menggunakan benih berlabel bebas penyakit belum menjamin akan berhasil karena status bebas penyakit adalah pada saat masih dalam kondisi benih, dan tidak berarti benih tersebut tahan terhadap penyakit.  Benih bebas penyakit setelah ditanam di lapangan bisa terserang CVPD jika di lingkungannya masih ada tanaman sakit dan ada serangga vektornya.  Sebagai bahaya laten yang belum ditemukan obatnya maka jika satupun tanaman terserang CVPD harus dieradikasi (dibongkar), lalu dibakar untuk mencegah meluasnya serangan.  Dalam memahami penyakit CVPD, ironisnya petani dan petugas tidak sedikit yang masih rancu membedakan gejala serangan CVPD dengan kekurangan nutrisi yang sebenarnya memiliki perbedaan pola gejala baik di daun maupun buah.  Kelemahan ini sering digunakan sebagai senjata mengkambing hitamkan CVPD sebagai biang kerok kegagalan.  Jika tidak segera dibenahi, kesalahan ini bisa berakibat fatal karena tanaman harus dibongkar meskpiun belum tentu diserang CVPD.

Dominasi jeruk Siam.

Luas pertanaman jeruk yang telah berproduksi di Indonesia pada saat ini diperkiran lebih dari 100.000 hektar.  Sayangnya, dari luasan tersebut sekitar 60 persennya merupakan jenis jeruk Siam yang ditanam di dataran rendah.  Umumnya petani lebih senang menanam jenis Siam karena lebih cepat berbuah dan produktivitasnya lebih tinggi.  Salah satu atau mungkin satu-satunya daerah yang masih bertahan menjadi sentra produksi jeruk manis dan keprok adalah Kota Batu (Jawa Timur), itupun luasannya tidak seberapa karena penggunaan lahannya masih harus bersaing dengan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi lainnya seperti tanaman apel dan bunga.  Dibandingkan dengan jeruk siam, harga jual buah jeruk keprok Batu 55 bisa mencapai dua sampai tiga kalinya, dan bahkan penampilan dan rasa buahnya berani diadu dengan jeruk impor.  Sedang jeruk masnis, meskipun terkadang harga jual buahnya lebih rendah tetapi  produktifitasnya bisa lebih tinggi dan pemeliharaannya relatif lebih mudah.

Berdasarkan kondisi diatas maka tidak mengherankan jika impor jeruk manis dan keprok (mandarin) cenderung meningkat terutama sejak penandatanganan Free Trade Agreement (FTA) ASEAN-China.  Saat ini, jeruk mandarin dari negeri Saolin tidak hanya membanjiri pasar buah di super market tetapi juga merambah pasar tradisional yang jauh dari kota besar.  Jeruk mandarin memang harganya bersaing dan penampilan luarnya lebih menarik,  tetapi perlu disadari bahwa jeruk impor sebelum sampai ke tangan konsumen mengalami proses pengawetan yang mungkin menggunakan bahan kimia yang bisa membahayakan kesehatan.  Selain itu, buah jeruk impor biasanya telah melewati periode penyimpanan panjang di negeri asalnya yang mengakibatkan penurunan kandungan gizi sari buah.   Agar pasar buah kita tidak menjadi bulan-bulanan jeruk impor yang bermutu rendah, sudah saatnya revitalisasi jeruk diarahkan bukan pada jeruk Siam tetapi pada jeruk keprok dan jeruk lain  yang unggul.

 

Ir.  Sutopo, MSi. Staf Peneliti Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika

Tinggalkan Balasan

Agenda
Tanggal Kegiatan
Rabu, 16 Oktober 2019 Kunjungan Industri – SMKN 1 Gondang Nganjuk
Rabu, 16 Oktober 2019 Studi Banding oleh Diperta Kab. Tulungagung
Jumat, 15 November 2019 SMA IT Al- Hikmah