Kehilangan Hasil Buah Jeruk dan Penanganannya di Tingkat Petani

Buah jeruk yang rusak karena serangan lalat buah di kebun. | Foto: Zainuri Hanif

Tantangan global dalam dunia penelitian dan pengembangan pertanian saat ini adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan 9,1 miliar orang pada tahun 2050 (Parfitt et al., 2010). Langkah yang kemudian umum dilakukan adalah meningkatkan produksi pangan sebesar 50-70 persen, tetapi hal penting yang tidak boleh dilupakan adalah mengurangi food loss dan food waste (kehilangan pangan) (Hodges et al., 2011). Studi umumnya menemukan bahwa sepertiga dari produksi pangan dunia hilang atau rusak  (Affognon et al., 2015; Gustavsson et al., 2011; Prusky, 2011).

Kehilangan pangan terjadi pada tahapan produksi, penyimpanan, pengemasan, ritel dan konsumsi (Porat et al., 2018). Studi yang telah dilakukan oleh berbagai organisasi internasional dan nasional, menunjukkan bahwa antara 30-50% (1,2-2 miliar ton) dari semua makanan yang diproduksi di planet ini hilang dan tidak dikonsumsi. Kecenderungan kehilangan pangan yang terjadi di negara maju lebih banyak pada tahap ritel dan konsumsi, sedangkan negara berkembang lebih banyak pada tahap produksi (Lipinski et al., 2013; Schuster & Torero, 2016).

Di Indonesia, buah yang hilang dapat dengan mudah ditemukan di kebun dan pasar, salah satunya adalah Jeruk. Jeruk adalah tanaman buah yang produksinya terbesar ke-3 secara nasional dan tingkat pengeluran rumah tangga untuk buah tertinggi (BPS, 2017). Di pasar tradisional dan pasar induk masih sering ditemukan rusaknya buah karena proses pengemasan yang asal-asalan sehingga selama transportasi kerusakan meningkat signifikan.

Kehilangan Buah Jeruk Indonesia

Total produksi jeruk Indonesia pada 2020 adalah 2,5 juta ton. Jumlah ini sebenarnya melebihi kebutuhan konsumsi nasional karena konsumsi jeruk per kapita Indonesia adalah 4 kg/tahun pada 2020 atau sekitar 1,1 juta ton per tahun (BPS, 2020). Dengan selisih 1,4 juta ton perlu dipertanyakan, apakah sebesar itu (>50%) kehilangan buah (food waste) pada tanaman jeruk? Ataukah ada faktor lain yang perlu diperbaiki, misal terlalu optimisnya data produksi oleh BPS?

Dalam studi sebelumnya, Hanif and Ashari (2021) menyatakan bahwa kehilangan buah jeruk di petani masih cukup tinggi yaitu 34 persen. Angka kehilangan itu didapatkan sejak dari kebun hingga proses pengiriman kepada konsumen (pasar/supermarket). Dari aktivitas rantai nilai yang dilakukan oleh sebagian besar petani jeruk: produksi dan panen, penanganan panen dan penyimpanan, pengolahan dan pengemasan, serta distribusi dan pasar, petani mengalami kehilangan buah masing-masing sebesar 13%, 10%, 4%, dan 7%.

Gambar 2. Persentase total kehilangan buah jeruk berdasarkan tahapan dalam rantai nilai jeruk

Upaya Menekan Kehilangan Buah Jeruk

Upaya pengurangan hal itu dapat dimulai dari kebun yaitu pada saat proses produksi dengan menjaga tanaman jeruk terhadap serangan hama dan penyakit terutama sebelum panen, dan selama penanganan panen buah jeruk sesuai prosedur. Serangan lalat buah menjadi penyebab kerugian utama di beberapa daerah sentra jeruk seperti di Karo, Sumatera Utama. Di Dau, Kabupaten Malang serangan lalat buah mulai meresahkan yang menjadikannya penyebab kerusakan buah di kebun jeruk mencapai 5-10%. Kondisi ini tentu tidak boleh dibiarkan, apalagi sering dijumpai jeruk yang rusak karena lalat buah itu baru diketahui ketika akan dikonsumsi oleh konsumen. Pengendalian lalat buah hanya bisa dilakukan secara serempak oleh kelompok tani dalam sebuah kawasan.

Penerapan Good Agricultural Practices (GAP) yang selama ini sudah digalakkan perlu ditempuh dengan penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) yang bersifat spesifik lokasi, spesifik komoditas dan spesifik tujuan pasar. Selain itu, petani ternyata membutuhkan diseminasi yang bersifar demoplot yang diterapkan langsung di kebun kelompok tani daripada melalui leaflet maupun pengarahan tatap muka di kelas. Ogin, petani di Tebas, Kabupaten Sambas yang sejak lima tahun lalu kebunnya seluas 5 hektar dijadikan demoplot oleh Balitjestro masih terus berkomunikasi (konsultasi) dengan peneliti hama dan penyakit Balitjestro, meskipun demoplot hanya berlangsung setahun saja dan selama 4 tahun terakhir kebun dikelola mandiri. Kesuksesannya mengelola tanaman jeruk dengan kualitas premium mulai banyak didengar petani jeruk lainnya di kawasan yang kemudian ingin menirunya.

Gambar 3. Penanganan panen yang dilakukan di kebun jeruk dapat menekan kehilangan buah jeruk. Kerusakan saat pengiriman dapat dikurangi dengan melakukan pengemasan dalam keranjang maupun kemasan kardus. Petani yang sudah melakukan kerjasama dengan perusahaan penyalur buah mendapatkan margin harga yang lebih baik dan dukungan fasilitas rumah pengepakan yang terdiri dari bangsal pengemasan, kemasan karton dan cold storage sederhana untuk menampung buah siap kirim.

Upaya pengurangan kehilangan buah pada tahap penanganan dan penyimpanan, pengolahan dan pengemasan, serta distribusi dan pasar dapat dilakukan dengan dimulainya kerjasama dengan perusahaan yang khusus menjual buah. Petani yang melakukan kerjasama dengan salah satu perusahaan nasional tampak lebih telaten dalam memperlakukan buah hasil panen termasuk dalam tahap pengemasan dan distribusi. Petani yang sudah mencurahkan tenaga, pikiran, waktu dan biaya untuk memproduksi buah semestinya di tahap selanjutnya tinggal bekerja sama dengan pihak distributor. Kelompok tani dan Gapoktan perlu didorong aktif dalam pengelolaan packaging house sebagai kontrol terhadap kualitas petani anggota.

 

Full paper PDF Kehilangan Hasil Buah Jeruk dan Penanganannya di Tingkat Petani
Citation:
Hanif, Z. (2021). Kehilangan Hasil Buah Jeruk dan Penanganannya di Tingkat Petani. Iptek Hortikultura, 17, p.27-30.

 

Zainuri Hanif
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Jln. Raya Tlekung No.1, Junrejo, Batu, Jawa Timur
P.O Box 22 (Batu (65301)
E-mail: zainurihanif@gmail.com