Kebangkitan Jeruk di Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat

[cml_media_alt id='611']JerukPasBar[/cml_media_alt]

Pada kisaran tahun 1985 – 2000 Pasaman sangat terkenal sebagai sentra jeruk di Sumatera Barat, sehingga banyak petani yang sukses ekonominya karena komoditas ini.  Namun dengan adanya serangan CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration) atau di dunia internasional dikenal dengan huanglongbing dan penyakit lainnya, secara perlahan tanaman jeruk punah dan petani yang mengusahakannya beralih pada komoditas lain. Untuk mengembalikan kejayaannya, berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah daerah.

Setelah melakukan serangkaian penelitian, maka pada tahun 2011 BPTPH Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) menyatakan bahwa daerah-daerah sentra penanaman jeruk telah bebas dari CVPD. Berdasarkan kondisi ini, maka pada tahun 2011 Pemkab Pasbar melakukan ‘Pencanangan Lahan Pasbar Bebas CVPD’ serta mulai melakukan aksi penyuluhan untuk kembali melakukan penanaman jeruk.

Untuk merealisasikan program tersebut maka Pemkab mengajukan perencanaan penanaman jeruk di daerah Sasak dan Koto Balingka masing-masing seluas 20 Ha dan 30 Ha ke Dirjen PSP Kementan serta secara teknis telah melakukan koordinasi dengan BPTP Sumbar, Balitbu di Solok dan Balitjestro di Batu (Dinas Pertanian Pasaman Barat, 2014).  Berdasarkan SK Bupati Pasaman Barat nomor 188.45/1259/BUP-PASBAR/2013 tanggal 30 Desember 2013, maka ditetapkan bahwa Kawasan Pengembangan Jeruk Kab. Pasaman Barat terdiri dari 4 kecamatan, yaitu Kec. Pasaman, Sasak Ranah Pasisie, Lembah Melintang dan Koto Balingka.

[cml_media_alt id='612']JerukPasBar2[/cml_media_alt]Dalam rangka mendukung terlaksananya suatu kawasan pengembangan jeruk terbentuk, maka beberapa program serta kegiatan dilakukan oleh Dinas Pertanian Kab. Pasbar, antara lain menyiapkan benih batang bawah jeruk bebas penyakit, entres, lokasi BPMT, pelaksanaan pembinaan dan penyuluhan, SL-PHT serta adanya bantuan benih jeruk yang berlabel baik dari Provinsi (1.200 tanaman) maupun dari Pemkab Pasaman Barat sendiri, yaitu 12.000 benih yang dibagikan kepada 4 kelompok tani.

Selain itu program GPP juga membagi 600 tanaman untuk setiap nagari (19 nagari yang telah menerima, dimana setiap nagari terdapat 2 kelompok tani). Selain itu, banyak petani yang mengusahakan pertanamannya secara mandiri dengan membeli benih jeruk Siam dari Bangkinang, Prov. Riau.

Menurut Ka. Bid. Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sumbar, nilai komoditas jeruk yang lebih tinggi dari sawit, satu hektar tanaman jeruk setara dengan tiga hektar tanaman sawit dalam satu tahun, menjadi alasan utama meningkatnya animo petani untuk kembali bertanam jeruk (Dinas Pertanian Sumbar, 2014),.

Dengan harga mencapai Rp. 10.000,- – Rp. 18.000,- per kilogram mendorong banyak petani sawit beralih total ke komoditas jeruk, bahkan menurut Taslim, Sekretaris Bamus Nagari Aie Gadang Kec. Pasaman, untuk tujuan tersebut banyak petani menebang tanamannya yang sudah menghasilkan (Berita Pasaman, 2014).  Selain harganya yang cukup tinggi, daya tarik lain pertanaman jeruk adalah produktivitasnya.  Berdasarkan keterangan anggota Kelompok Tani Labuh Lurus, Kec. Pasaman, tanaman jeruk varietas Siam (asal Bangkinang) dengan umur 4 tahun dapat menghasilkan buah  ±100 kg/tanaman/tahun (Gambar 1).

[cml_media_alt id='613']JerukPasiamanBarat[/cml_media_alt]

Gambar. Buah jeruk Kelompok Tani Labuh Lurus II, Kec. Pasaman – Kab. Pasbar

 

Dari data Peta Sebaran Komoditi jeruk Tahun 2014 per Kecamatan Kab. Pasbar yang dikeluarkan oleh Dinas Pertanian Kab. Pasbar (2014), didapat bahwa pada awal 2014 total luas lahan pertanaman jeruk di 10 kecamatan mencapai 703 Ha, tetapi menurut Ka. Dinas Tanaman Kab. Pasbar diduga terdapat pertanaman lain yang belum tercatat secara resmi sehingga luasannya diperkirakan telah mencapai ± 1.500 Ha. Namun demikian, pengembangan jeruk di Kab. Pasbar masih menghadapi berbagai kendala, antara lain ialah kurangnya ketersediaan mata tempel bebas penyakit.

 

Referensi

Oleh : Nirmala Friyanti Devy
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Peneltian dan Pengembangan Pertanian.
.

Related Post

Tinggalkan Balasan