Kebangkitan Apel Melalui Program Penghambatan Laju Degradasi dan Perbaikan Mutu Lahan di Kota Batu

[cml_media_alt id='1572']Kebun Apel Di Batu Jawa Timur[/cml_media_alt]

Program “Kebangkitan Apel Melalui Program Penghambatan Laju Degradasi dan Perbaikan Mutu Lahan di Kota Batu” menjadi penting bagi Kota Batu karena dampaknya sangat luas, yaitu bukan hanya bagi petani apel tetapi juga sektor pariwisata karena Kota Batu merupakan Kota Wisata yang mengandalkan pada sumber daya alam. Selain itu, wilayah Batu juga merupakan daerah penyangga aliran sungai (DAS) Brantas yang memiliki potensi fisiologis dan hidrologis sangat penting bagi daerah disekitarnya. Oleh karena itu, degradasi lahan terutama daerah hulu sebagai salah satu penyebab menurunnya keseimbangan ekologi wilayah kota Batu yang dirasakan dan sering dikeluhkan oleh masyarakat pada akhir-akhir ini sangat penting untuk ditangani bukan hanya oleh masyarakat dan pemerintah  Kota Batu, tetapi sebaiknya juga perlu dilibatkan daerah di bawahnya seperti Kota Malang agar tidak menjadi masalah besar dimasa mendatang.(Lizia dan Suhariyono, 2011)

Sebagai daerah pegunungan, sebagian besar usahatani apel dan sayuran di wilayah Batu dilakukan di daerah yang memiliki kelerengan curam dan kurang memperhatikan tindakan konservasi tanah sehingga memiliki bahaya erosi tinggi. Erosi terus-menerus menyebabkan menurunnya kesuburan tanah, mengganggu pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil panen.  Apabila erosi berlangsung terus, lapisan tanah semakin tipis, sifat fisik, kimia dan biologi tanah semakin buruk sehingga tidak mampu mendukung produksi tanaman yang menguntungkan.  Akhirnya, lahan akan ditelantarkan dan hanya tumbuhan alang-alang atau tumbuhan tertentu (pioneer) yang hidup subur.  Untuk menekan laju degradasi mutu lahan sekaligus menjaga produktivitas kebun apel yang tinggi, dan meningkatkan produktivitas kebun apel yang kurang baik, maka disarankan dilaksanakan sebanyak 4 kegiatan:

[cml_media_alt id='1573']Rencana Tata Ruang Kota Wisata Batu[/cml_media_alt]
Gambar dari Laporan Rancang Bangun Pengembangan Agribisnis Apel di Kota Batu >> Usulan pada 2008
1. Penerapan Teknologi Konservasi Lahan .

Pengendalian erosi lahan sebaiknya dilakukan dengan menggabungkan cara mekanik dan biologi/vegetatif agar hasilnya lebih efektif. Cara konservasi lahan yang disarankan yaitu pembuatan teras bangku atau teras gulud, menanam tanaman pakan ternak pada tampingan dan guludan teras,  menanam tanaman penutup tanah, menanam tanaman pagar pembatas kebun dengan “paitan”, olah tanah minimum (minimum tillage), dan gerakan penghijauan pada kemiringan > 15o yang merupakan kawasan hutan produksi dan kawasan hutan lindung.

Sebagai tanaman penutup tanah dapat dipilih tanaman “kacang hias” (arachis pintoi) karena dapat tubuh baik di dataran tinggi pada segala kondisi, paling bagus pada kondisi di bawah naungan (70-80%), mudah perawatannya, perakaran dangkal (7 cm), dan cepat berkembang. Selain mencegah erosi, tanaman ini dapat menambah kesuburan tanah karena mampu menambat nitrogen dari udara atau sebagai sumber kompos, menambah keindahan kebun, dan dapat digunakan untuk pakan ternak karena daunnya mengandung protein yang tinggi dan baik untuk pencernaan. Hasil penelitian di Mexico menunjukkan bahwa Arachis pintoi mampu meningkatkan konsentrasi karbon sebesar 9,3–14% dan nitrogen sebanyak 42–47% di dalam tanah.

Jenis kacang ini efektif mencegah tumbuhnya gulma setelah 3–4 bulan ditanam atau sama efektifnya dengan Desmodium ovalifolium dalam mencegah tumbuhnya kembali gulma, bahkan lebih efektif dari penggunaan herbisida.  Dari hasil penelitian di Costa Rica, Arachis pintoi mampu melindungi tomat dari infeksi nematode Meloidogyne arabicide, dan tanaman kopi dari Meloidogyne exigua.  Contoh introduksi Arachis pintoi pada usahatani lahan kering di Indonesia adalah pada budidaya anggur di Balitjestro, dan usahatani kopi di Sumberjaya, Lampung Barat.

2. Integrasi Ternak Dalam Usahatani Apel

Peranan pupuk kandang sebagai sumber bahan organik untuk mempertahankan kesuburan lahan apel semakin lama semakin penting karena lahan apel umumnya telah mengalami kelelahan akibat usahatani yang sudah sangat lama dengan masukan bahan kimia yang berlebihan tanpa masukan bahan organik  yang berimbang.  Oleh karena itu untuk memenuhi kebutuhan pupuk kandang yang merupakan sumber bahan organik utama bagi petani apel perlu dilakukan integrasi ternak dalam sistem usahatani.

Model yang disarankan adalah memelihara ternak di dalam kebun sebanyak 2-3 ekor sapi/hektar lahan. Kotoran padat yang dihasilkan oleh 2 – 3 ekor ternak diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan pupuk kandang pada lahan satu hektar, dan kotoran cair yang biasanya dibuang begitu saja perlu ditampung sebagai bahan pupuk karena mengandung nutrisi yang cukup dan beberapa hormon tumbuh. Jika pemeliharaan ternak dilakukan di dalam kebun maka kebersihan lingkungan rumah lebih baik, tidak memerlukan alat transportasi pupuk, dekat dengan sumber pakan sehingga usahatani lebih efisien. Kegiatan ini sebaiknya dikoordinasikan dengan kegiatan pengembangan ternak yang direncanakan oleh dinas terkait di Kota Batu yang selanjutnya kegiatan tersebut diselaraskan dengan pengembangan agribisnis apel.

3. Fasilitasi Pengolah Bahan Organik

Fungsi pupuk kimia sebagai sumber utama unsur hara yang dibutuhkan tanaman sebenarnya sulit untuk digantikan oleh bahan organik karena meskipun kandungan hara dalam bahan organik lengkap, jumlahnya sangat sedikit sehingga untuk menggantikan pupuk kimia dibutuhkan dalam jumlah yang sangat banyak. Manfaat utama pemberian bahan organik sebenarnya adalah memperbaiki kondisi fisik tanah dan menjamin kehidupan mikroba tanah singga perkembangan akar lebih baik dan unsur hara lebih mudah diserap oleh tanaman.  Saat ini pupuk kandang dari kotoran sapi menjadi sumber pupuk organik utama bagi petani apel, padahal bahan baku pupuk organik banyak dijumpai di sekitar petani dan mudah diperoleh, yaitu seresah sisa panen, sisa sayuran, tanaman liar, sampah pasar dan rumah tangga dan lain sebagainya.

Kotoran yang baru keluar dari hewan tidak boleh diaplikasikan langsung untuk tanaman, tetapi perlu difermentasikan terlebih dahulu. Kotoran hewan biasanya memiliki imbangan C/N yang rendah dibandingkan sisa tanaman sehingga nitrogen mudah hilang menguap. Oleh karena itu  penggunaannya sebagai pupuk organik sebaiknya dicampur dengan bahan organik yang memiliki C/N tinggi agar diperoleh pupuk organik yang memiliki imbangan C/N ideal (10-20). Selanjutnya, mutu pupuk organik dapat ditingkatkan dengan melakukan inovasi dengan menambahkan bahan tertentu, misalnya tepung tulang, urine sapi, mikroba penambat N dan pelepas P, dekomposer, dan lain-lain.  Dalam usaha tersebut petani/kelompok tani membutuhkan fasilitas seperti mesin penghancur, gudang fermentasi dan penyimpanan pupuk organik. Fasilitas pengolah pupuk organik idealnya dibangun di setiap kelompok tani dan dapat digunakan bersama oleh kelompok tersebut.

4. Perluasan Kawasan Sentra Produksi Apel.

Kawasan sentra produksi apel di Batu sebenarnya sudah mengarah pada bentuk hamparan yang relatif luas di Kecamatan Bumiaji. Namun demikian, produktivitas sebagian tanaman di  Desa Bumiaji dan Punten sudah mulai menurun karena tanaman berumur tua dan tanahnya mengalami kelelahan.  Disisi lain peremajaan yang dilakukan di kebun yang pernah ditanami apel di desa tersebut sering mengalami kegagalan sehingga terjadi perubahan penggunaan lahan dari kebun apel menjadi lahan tanaman lainnya.  Akhir-akhir ini, fenomena penjualan kebun apel yang untuk keperluan lain juga ditengarai meningkat sehingga lambat tapi pasti kawasan sentra produksi apel semakin berkurang jika tidak diimbangi dengan perluasan kawasan produksi yang memadai.  Agar usahatani apel menjadi efisien dan lestari, pengembangan kawasan sentra produksi apel harus diarahkan ke kawasan yang memiliki kesesuaian paling baik yang cenderung mengarah ke tempat yang memiliki ketingian diatas 1.000 m dpl, Dalam perluasan kawasan sentra produksi, pemerintah diharapkan dapat memfasilitasi penyediaan bibit yang bermutu, dan adanya kebijakan ijin membuka lahan yang sesuai untuk tanaman apel di masa yang akan datang.

 

Oleh: Suhariyono
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan