Kajian Keragaan Teknologi Dan Dampak Serangan Penyakit CVPD Pada Tanaman Jeruk Siam Malangke

(The Assessment of Farmer’s Technology Practices and Greening Disease Impact on Citrus cv. Siam Malangke)

Prosiding Seminar Nasional Jeruk Tropika Indonesia, Batu, 28-29 Juli 2005, hal. 253-265

Muh. Asaad, Warda, dan Sahardi
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan

Abstrak
Kajian dilakukan untuk mengetahui keragaan teknologi dan dampak serangan penyakit CVPD terhadap animo petani dalam berusahatani jeruk. Survei dengan pendekatan PRA dilakukan pada bulan Desember 2004 di Kecamatan Malangke Barat dan Malangke, Kabupaten Luwu Utara. Hasil kajian menunjukkan bahwa tanaman jeruk siam merupakan tanaman introduksi dari Palembang oleh petani Suku Bugis pada tahun 1980-an, selanjutnya berkembang pesat sampai akhir tahun 1990-an. Penerapan inovasi teknologi dapat dikatakan masih belum optimal. Pada saat usaha tani berkembang dengan baik, pendapatan dari usahatani jeruk mencapai Rp. 20 juta/ha/thn, namun setelah tahun 1999 pendapatan hanya mencapai Rp. 1,5 juta/ha/thn disebabkan terutama oleh penyakit CVPD. Kondisi ini menyebabkan menurunnya minat petani dalam berusahatani dan banyak beralih ke komoditas lainnya. Upaya untuk mengembalikan citra jeruk Malangke telah dilakukan melalui kegiatan eradikasi tanaman terserang berat dan diikuti dengan penanaman bibit jeruk bebas penyakit. Namun upaya tersebut masih menernui masalah antara lain masih ada petani yang belum melakukan eradikasi dan lalu lintas bibit yang tidak berlabel masih terjadi. Beberapa kebijakan yang perlu diperhatikan pemerintah daerah dan pus at dalam rehabilitasi jeruk di Malangke antara lain adalah eradikasi tanaman terserang berat secara keseluruhan, penyediaan bibit jeruk berlabel dan bimbingan budidaya yang benar.
Kata kunci: Dampak, penyakit CVPD, jeruk.

Abstract
The assessment was conducted to find out the farmer’s technology practices and greening disease impact to farmer interest on citrus farming. Survey by PRA approach was conducted in December 2004 in Malangke Barat and Malangke subdistrict, Luwu Utara regency. Citrus plant was just introduced from Palembang by Buginese farmers in 1980s and then developed rapidly until 1990s. The farmer’s technology practices are still minimum. In a well-developed citrus farm, farmer’s income reached Rp. 20 million/ha/year. After 1999, farmer’s income only reached Rp. 1.5 million/ha/year due to mainly greening disease. This fact caused the decrease on farmer’s interest in citrus farming and many of them shifted to other commodities. The rehabilitation of Malangke citrus has been developed through eradication of infected plants and followed by planting of healthy seedlings. However, this effort still faced problems i.e. many farmers did not do eradication yet and the movement of unhealthy seedling was still found. Local government policies were urgently required for citrus rehabilitation in Malangke i.e. total eradication of infected plant, supplying healthy seedling and guidance of citurs technology to farmers.
Keywords : Impact, greening disease, citrus.

Artikel lengkapnya bisa di download disini atau disini

Agenda

no event