Kajian dan Pengembangan Pertanian Berbasis Inovasi di Wilayah Bencana Erupsi Gunung Sinabung

Tim kajian dan pengembangan pertanian berbasis inovasi di wilayah bencana erupsi gunung Sinabung dibentuk berdasarkan SK Kepala Balitbangtan No. 408.1/Kpts./O.T.160/I12/1203 yang berasal dari UK/UPT lingkup Balitbangtan yaitu Puslitbanghorti, Puslitbangtan, Puslitbangbun, BBP2TP, BBSDLP, PSEKP, Puslitbangnak, BB Veterenier, BB Pasca Panen dan BB Mektan. Tim ini bertugas untuk melakukan pemulihan dan rehabilitasi lahan pertanian dampak erupsi gunung Sinabung dengan cara :

  1. Melakukan inventarisasi dan identifikasi dampak erupsi gunug Sinabung terhadap kegiatan pertanian di lokasi bencana
  2. Melaksanakan studi dampak erupsi gunung Sinabung khususnya pada sektor pertanian di lokasi bencana
  3. Menyusun rekomendasi bagi upaya pemulihan dan rehabilitasi kehidupan petani pasca erupsi
  4. Memonitor dan mengevaluasi kegiatan Pengembangan Pertanian Berbasis Inovasi di wilayah bencana erupsi gunung Sinabung

Kegiatan ini dilakukan mulai tanggal 19 – 22 Pebruari 2014. Hari pertama berkoordinasi dengan kepala BPTP Sumut selaku Koordinator Lapang, di aula BPTP Sumut untuk menyamakan persepsi dan tujuan kegiatan ini. Disampaikan kepala BPTP Sumut bahwa menindaklanjuti Rapim B di Balitjestro tanggal 13 Pebruari 2014 maka harus segera menerjunkan tim khusus untuk mengidentifikasi dan menginventarisasi dampak erupsi gunung Sinabung di lokasi bencana. Dr. Sukarman sebagai ketua tim juga menyampaikan bahwa berdasarkan rapat sebelumnya di Jakarta bahwa untuk lebih memfokuskan pada kegiatan ini, maka dalam pelaksanaannya survey dibagi menjadi 7 hal :

  1. Survey ketebalan abu
  2. Survey dampak pengelolaan lahan
  3. Survey sosial ekonomi
  4. Survey sayuran
  5. Survey peternakan
  6. Survey perkebunan (kopi, kakao, cengkeh) dan jeruk
  7. Tanaman pangan

Dalam kegiatan ini, Puslitbanghorti diwakili oleh Ir. Subhan dan Ir. Ali Asgar, MP (sayuran) dan Ir. Agus Sugiyatno, MP (jeruk). Pada tanaman jeruk, pengamatan dilakukan berdasarkan tingkat kedekatan tanaman dengan sumber letusan. Dibagi menjadi 3 zona :

Zona 1.   Radius 7 sampai 10 km ; Desa Perteguhan, Kec. Simpang Empat dan desa lainnya

Kondisi tanaman jeruk :

  • Pertumbuhan tanaman sedang
  • Daun masih cukup banyak, tertutupi abu vulkanik yang tipis
  • Buah juga tertutupi abu vulkanik tipis
  • Pertumbuhan buah yang tidak normal tidak disebabkan oleh abu vulkanik tetapi karena kekurangan nutrisi.
  • Sebagian ranting-ranting pada bagian ujung tanaman tampak kering, ini juga disebabkan kekurangan nutrisi.
  • Ranting pada cabang sekunder tertutupi tipis abu vulkanik, tidak menyebabkan kerusakan tanaman.

Rekomendasi :

  • Dilakukan penyemprotan tekanan tinggi dengan air untuk menghilangkan sisa abu pada tanaman terutama di daun supaya proses fotosintesa berjalan normal. Sumber air  bisa memanfaatkan tandon-tandon air yang ada atau menunggu turunnya hujan.
  • Memangkas ranting-ranting yang kering
  • Mengendalikan gulma dibawah tajuk tanaman
  • Mengolah tanah dibawah tajuk tanaman dengan tujuan untuk mencampur abu vulkanik dengan tanah dan memberikan pupuk kandang untuk memperbaiki struktur tanah dengan takaran 30 – 40 kg/tanaman
  • Memberikan pupuk N-P-K takaran 1 kg/tanaman untuk memulihkan tanaman yang ada dengan cara disebar merata di bawah tajuk tanaman.

[cml_media_alt id='1238']jeruk 1[/cml_media_alt]
Gb. 1. Kondisi tanaman jeruk yang terkena abu vulkanik tipis
[cml_media_alt id='1239']Gb. 2. Daun dan buah terkena abu vulkanik[/cml_media_alt]
Gb. 2. Daun dan buah terkena abu vulkanik
[cml_media_alt id='1240']Gb. 3. Batang tanaman terkena abu vulkanik[/cml_media_alt]
Gb. 3. Batang tanaman terkena abu vulkanik
  

Zona 2. Radius 5 sampai dengan kurang dari 7 km ; desa Sukanalu dan Desa Sigarang-garang, Kec. Naman Teran

Kondisi tanaman jeruk :

  • Abu vulkanik menutupi seluruh bagian tanaman
  • Daun tertutupi abu vulkanik tebal (0.5 – 1 cm)
  • Ada sebagian daun terlihat terbakar
  • Buah yang terkena abu vulkanik tebal terlihat terbakar
  • Ranting yang tertutup abu vulkanik tebal menyebabkan tunas baru mati
  • Ranting yang tidak terkena abu vulkanik mengeluarkan tunas baru artinya bahwa tanaman jeruk hanya rusak secara fisik tetapi masih hidup. Namun tunas baru ini akan mendorong serangan hama aphis sp.

Rekomendasi :

  • Penyemprotan air dengan tekanan tinggi untuk menghilangkan sisa abu yang melekat pada tanaman, terutama di daun supaya proses fotosintesa berjalan normal. Sumber air  bisa memanfaatkan tandon-tandon air yang ada atau menunggu turunnya hujan.
  • Pemangkasan berat pada ranting-ranting cabang tersier dan cabang yang patah
  • Memberikan pupuk N-P-K (2 kg/batang/tahun) dilakukan 2 kali setahun pada fase keluarnya tunas baru dan saat buah berukuran sebesar kelereng (pengisian buah) disesuaikan dengan ketersediaan air dengan cara disebar merata di bawah tajuk tanaman,
  • Memberikan pupuk kandang untuk memperbaiki struktur tanah akibat tercampur abu vulkanik dengan takaran 30 – 40 kg/tanaman
  • Mengendalikan hama aphid sp dan hama lainnya yang muncul menggunakan pestisida berbahan aktif abamektin sesuai dosis anjuran

[cml_media_alt id='1241']Gb. 4. Tanaman jeruk yang terkena abu vulkanik tebal[/cml_media_alt]
Gb. 4. Tanaman jeruk yang terkena abu vulkanik tebal
[cml_media_alt id='1242']Gb. 5. Daun tanaman jeruk tertutupi abu     [/cml_media_alt]
Gb. 5. Daun tanaman jeruk tertutupi abu
[cml_media_alt id='1243']Gb. 6. Daun jeruk yang mati karena abu vulkanik[/cml_media_alt]
Gb. 6. Daun jeruk yang mati karena abu vulkanik

Gb. 7. Ranting dan buah jeruk yang terkena abu vulkanik tebal

[cml_media_alt id='1236'] Gb. 8. Tunas baru yang keluar pada ranting yang tidak terkena abu vulkanik tebal[/cml_media_alt]
Gb. 8. Tunas baru yang keluar pada ranting yang tidak terkena abu vulkanik tebal
Zona 3 (zona merah). Radius kurang dari 5 km : desa Sukameriah, Gurukinayan (Kec. Payung), desa Simacem, Bakerah, Kutatonggal (Kec. Naman Teran), Berastepu, Gambier (Kec. Sp Empat)

Kondisi tanaman jeruk :

  • Terendam dan tertutup lahar dingin erupsi gunung Sinabung
  • Tanaman jeruk mengalami kematian.

Rekomendasi :

  • Membongkar tanaman dan mengganti tanaman baru, sebelum tanam dilakukan pengolahan tanah dengan traktor
  • Tidak menanam jeruk di dekat aliran lahar dingin gunung
[cml_media_alt id='1237']Gb.9. Tanaman jeruk yang terkena lahar dingin[/cml_media_alt]
Gb.9. Tanaman jeruk yang terkena lahar dingin
  • Rusaknya tanaman jeruk tidak semata-mata karena faktor abu vulkanik saja tetapi karena tanaman tidak dipelihara selama terjadinya erupsi karena pemilik diungsikan, diperparah akibat terjadinya musim kemarau yang panjang.

 

Oleh: Agus Sugiyatno
Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika
Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian

Tinggalkan Balasan