JRM 2012 Manis dan Tahan Sampai 60 Hari

[cml_media_alt id='1560']Jeruk JRM Balitjestro[/cml_media_alt]

Jeruk baru JRM-2012 manis hingga 140 briks dan tahan simpan dua bulan.

Hampir saja puluhan kilogram jeruk itu mengonggok di sebuah gerai pasar swalayan di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur. Namun, pada hari kelima sekitar 100 kg jeruk itu ludes. Konsumen menyerbu jeruk berkulit jingga terang, licin, dan rnengllap, Harap mafhum, begitu panen hingga hari keempat, citarasa jeruk JRM-2012-begitu nama jeruk baru itu-memang agak masam.

Namun, pada hari kelima, citarasa jeruk itu aduhai manis. Kadar kemanisan buah pada hari kelima pascapetik mencapai 14° briks. Itulah sebabnya pasar swalayan itu meminta kembali pasokan jeruk JRM-2012. Banyak konsumen memang mencari jeruk JRM-2012. Selain manis, jeruk keprok berukuran sedang-bobot rata-rata 120 gram per buah-itu juga tahan lama. Jeruk itu mampu bertahan 60 hari pada suhu kamar. Sebab, pori-pori kulit buah JRM relatif rapat dan kulit buah cukup tebal.

Australia

Dua bulan setelah penyimpanan menunjukkan, kondisi buah masih bagus, warna daging buah jingga kemerahan, kulit tetap mulus, dan masih layak dikonsumsi. Karena mampu bertahan 60 hari, keruan saja dapat menekan fluktuasi harga. Kelebihan lain, kulit ari buah sangat lembut sehingga dapat ditelan bersama daging buah. Selain itu muncul buah apitan alias buah susulan setelah panen besar. Produksi pohon berumur 2,5 tahun rata-rata 15-20 kg per pohon. Sayangnya, pasokan masih terbatas. Pasokan jeruk JRM itu berasal dari 30 pohon jeruk JRM-2012 koleksi Balal Penelitian Jeruk dan Tanaman Subtropika (Balitjestro) di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur.

Nama JRM sejatinya mengacu pada Jestro, nama lembaga itu singkatan dari jeruk dan tanaman subtropika. Adapun huruf M akronim mandarin, sebutan internasional untuk jeruk keprok. Namun, JRM-2012 itu bukan dari Mandarin, melainkan introduksi dari Australia. Pekebun di Queensland, Australia, mengembangkannya lantaran jeruk itu bernilai komersial tinggi karena ukurannya besar, warna menarik, dan kualitas stabil. Potensi ekonomis juga salah satu keunggulan jeruk JRM yang menyokong produksi buah secara nasional.

Pekebun dapat menanam jeruk JRM-2012 dengan populasi 400 tanaman per ha dan berbuah perdana pada umur 2,5 tahun, yakni 20 kg per pohon. Dengan harga jual Rp 7.500 per kilogram saja, omzet petani Rp 60-juta per tahun. Pendapatan itu berlipat ganda seiring dengan bertambahnya umur.

Padahal, harga JRM di pasar swalayan mencapai Rp 15.000 per kg. Sementara harga jual jeruk lain saat itu hanya Rp 10.000 per kg. Dengan beragam kelebihan itu pemerintah akhirnya merilis JRM menjadi varietas unggul nasional pada 2014 sesuai surat keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia nomor 040/Kpts/SR.1201D.2.7/6/2014. Jeruk JRM cocok untuk konsumen di Indonesia yang menyukai jeruk manis.

Hampir semua konsumen jeruk keprok di Indonesia menyukai rasa manis. Namun, sebagian masyarakat kalangan menengah ke atas menghendaki vitamin C yang tinggi sehingga rasa masam-manis varietas JRM merupakan pilihan pas. Periset Balai Penelitian Jeruk dan Tanaman Subtropika, Arry Supriyanto, mendatangkan entres varietas itu pada 1987. la lantas menanam dalam pot di rumah kasa kebun percobaan Punten, Kota Batu, Jawa Timur.

Tampilan buah JRM2012

Budidaya

Jeruk memerlukan kondisi lingkungan khusus supaya berproduksi maksimal. Iklim (suhu, sinar matahari, curah hujan) dan sifat fisik tanah merupakan faktor lingkungan yang sangat sulit dikendalikan. Namun, secara umum JRM-2012 tumbuh baik di daerah bersuhu 22-300C. Di Indonesia, kondisi itu terletak di dataran medium hingga ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut. Varietas baru itu cocok ditanam di daerah  beriklim kering hingga basah, curah hujan optimum 1.500-2.500 mm per tahun dengan bulan kering (kurang dari 60 mm) 3-4 bulan berturut-turut.

Tanah berpH 5-8 cocok untuk membudidayakan jeruk JRM-2012. Pendatang baru itu tumbuh baik di lahan kering atau basah. Kadar air tanah idealnya 75% untuk memenuhi kebutuhan pada periode kritis, yakni pertumbuhan baru, pembungaan, dan pembuahan. Sebaiknya gunakan bibit hasil perbanyakan okulasi atau cangkok. Okulasi mata tunas (entres) varietas JRM-2012 di batang-bawah JC berumur 6-8 bulan (siap okulasil. Bibit okulasi siap tanam pada umur 4-5 bulan. Jarak tanam 4 m x 4 m atau 3,5 m x 4 m tergantung kesuburan tanah.

Adapun lubang tanam 60 cm x 60 cm x 60 cm. Budidaya di tanah bercadas, maka penggalian harus lebih dalam. Balitjestro menganjurkan pemakaian mulsa plastik untuk mencegah gulma yang mengganggu ketersediaan nutrisi bagi tanaman. Saat tepat untuk menanam bibit jeruk JRM-2012 pada awal musim hujan November-Desember. Apalagi penanaman di lahan kering dengan ketersediaan air terbatas.

[cml_media_alt id='1557']Koleksi JRM-2012 di Kebun Percobaan Tlekung, Badan Litbang Pertanian[/cml_media_alt]
Koleksi JRM-2012 di Kebun Percobaan Tlekung, Badan Litbang Pertanian
Penanaman dapat juga menjelang akhir musim hujan. Syaratnya pekebun harus siap menyiram agar pertumbuhan tanaman tidak terganggu Akar tanaman muda hanya 50 cm belum mampu memanfaatkan air di lapisan tanah yang lebih dalam, terutama pada musim kemarau. Oleh karena itu pengairan cukup dan teratur selama musim kemarau sangat penting untuk membantupertumbuhan dan mencegah kematian tanaman muda.

Sementara itu pengelolaan air pada tanaman dewasa untuk mengatur pembungaan perlu pengurangan air (stres) sampai daun-daun menggulung kemudian dipupuk dan disiram, sehingga secara alami tanaman serempak berbunga dan  berbuah. Jeruk JRM-2012 perlu nutrisi berimbang untuk menghasilkan produksi optimal. Varietas anyar itu mulai berbuah pada umur 2-2,5 tahun. Kadang-kadang umur berbuah mundur 0,5-1 tahun akibat tanaman mengutamakan pertumbuhan vegetatif. Itu biasanya karena tanaman mendapatkan pupuk yang cukup dan kondisi air tanah terjamin. Buah siap panen saat berumur 6-7 bulan sejak bunga mekar.

Petani di Kota Batu dan Malang membudidayakan pula jeruk dalam pot atau drum. Mereka merawat tanaman hingga berbuah sehingga lebih seronok. Dengan penampilan prima, para petani mudah saja menjual tabulampot jeruk. JRM 2012 pun berpotensi ditanam di pot karena mempunyai percabangan yang terbuka sehingga lebih indah. Hingga kini Balitjestro-memproduksi bibit secara terbatas untuk mendapatkan umpan balik dari para petani dan mencegah penyebaran bibit tidak terkendali. (Emi Budiyati, periset di Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Badan Litbang Pertanian).

 

Tulisan ini telah dimuat pula dalam Trubus Edisi Oktober 2014 hal 52 dan 54. 

 

One Comment

  • Informasi yang sangat menarik. Saya sendiri adalah petani jeruk dari Banyuwangi. Saya sedang menyelam dalam situs Balitjestro, semoga informasi yang ada dapat saya manfaatkan dengan maksimal. Untuk varietas berikut ini juga, sangat menarik. Terutama untuk membudidayakannya.

Tinggalkan Balasan