Jeruk Top Working di Selokerto Mulai Berproduksi Lebat

JerukHasilTopWorkingSelokerto
Salah satu hasil penerapan teknologi top working di kebun petani Selokerto, Dau, Kabupaten, Malang. Dengan teknik top working varietas jeruk manis pacitan diganti dengan Keprok Batu 55.Tanaman hasil top working ini berumur kurang lebih 3 tahun dengan produksi buah yang cukup lebat.

Top working ialah teknologi mengganti varietas tanaman yang sudah ada di lapang dengan varietas baru sesuai selera pasar secara cepat, tanpa harus membongkar tanaman. Teknik ini ialah menyambung atau menempel pada batang bawah tanaman yang berupa pohon besar dengan diameter batang bawah antara 5-30 cm. Teknologi top working menjadi alternatif yang paling menguntungkan bagi petani yang ingin mengganti varietas sebagaimana yang dilakukan para petani Selokerto, Dau, Kabupaten Malang.

Harga jeruk Manis Pacitan yang rendah, bahkan anjlok ketika panen raya membuat petani mulai melirik jeruk lain seperti Keprok Batu 55 yang harganya mencapai 2-3 kali lipat dari jeruk Manis Pacitan di level kebun petani. Saat ini, sudah banyak petani yang mulai menikmati hasil panen dari top working yang telah dilakukan 3 tahun yang lalu. Menurut Agus Sugiyatno, metode top working pada tanaman jeruk, dapat dilakukan secara bark grafting/sambung kulit, cleft grafting/sambung celah, okulasi/penempelan maupun shoot grafting/sambung tunas. Metode sambung tunas digunakan apabila metode-metode yang telah digunakan mengalami kegagalan.

Hasil penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan bahwa persentase keberhasilan cara sambung kulit dan sambung celah adalah 86.66%, sedangkan cara okulasi adalah 95.55%. Tanaman jeruk hasil top working akan berproduksi antara 1 – 2 tahun setelah top working. Hal ini menurut Agus Sugiyatno diakibatkan karena perakaran yang kuat dan batang bawah yang sudah besar menyebabkan pertumbuhan batang atas tanaman jeruk lebih cepat. [zh/balitjestro]

Materi Top Working bisa didownload disini

 Teknologi Top Working pada Tanaman Jeruk.pdf

Tinggalkan Balasan