Jeruk Purut (Citrus histrix)Tulungagung Layak untuk Dikembangkan

Jeruk Purut TulungagungTidak mudah mencari data yang akurat mengenai luas pengembangan jeruk purut di Tulungagung, Jawa Timur. Data statistik Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan setempat belum memasukkan jeruk purut sebagai salah satu komoditas unggulan. Padahal luas areal yang ada telah mencapai ribuan hektar dan selama ini Tulungagung dikenal sebagai sentra jeruk purut terbesar di Indonesia.

 

Pada 2011, Arry Supriyanto dan tim mengunjungi sentra jeruk di Tulungagung ini dan pada 2014 ini (27/08), tim pendaftaran varietas mengunjungi kembali sentra jeruk di Tulungagung mulai dari lapang, pengepul dan perbenihan yang difokuskan di Kecamatan Sumbergempol. 

 

Dengan didaftarkannya jeruk purut diharapkan peredarannya akan semakin meluas karena telah memenuhi syarat untuk mendapatkan sertifikat benih oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Timur.

Tim pendaftaran varietas

Tim pendaftaran varietas  Balitjestro yang terdiri dari Dita Agisimanto, Hidayatul Arisah, Baiq Dina Mariana, Buyung Al Fanshuri, Anis Andrini, dan Zainuri Hanif bersama pak Wawan, Mantri Tani Sumbergempol.

 

Sentra Jeruk Purut di Tulungagung tersebar di 3 kecamatan. Menurut Wawan, Mantri Tani Sumbergempol, perkiraan luasan jeruk purut di Tulungagung saat ini adalah  2080 ha dengan rincian; di Kecamatan Sumbergempol 760 ha, di Kecamatan Ngunut 1020 hektar dan di Kecamatan Rejotangan 300 hektar. Wawan sendiri mempunyai lahan jeruk mencapai 3 hektar yang ditanami jeruk purut, melon, dll.

 

Harian, salah seorang petani jeruk purut yang tergabung dalam kelompok tani Nuju Makmur mempunyai lahan jeruk purut seluas 800 m2 dengan 7000 tanaman jeruk purut. Tahun ini memasuki tahun ke-3 panen dengan berat daun jeruk purut yang diperoleh mencapai 1 ton lebih. Pada tahun ke-1 panen daun jeruk purut yang didapatkan 7 kuintal dan tahun ke-2 sebanyak 9 kuintal. Harga saat ini sedang rendah yaitu mencapai Rp 9.000,-/kg. Harga tertinggi pernah mencapai Rp 27.000,-/kg. Namun harga stabil yaitu Rp 17.000,-/kg.

Jeruk purut umur 1 pekan setelah pangkas (kiri) dan pekarangan rumah warga yang ditanami jeruk purut (kanan)

 

Di Sumbergempol terdapat 8 pengepul dimana masing-masing pengepul setiap harinya menampung 5 kuintal. Pemasaran ditujukan ke Surabaya dan Jakarta. Selama ini yang sudah termanfaatkan dengan baik pada jeruk purut yaitu daun untuk bumbu dapur dan batang untuk disuling. Buah jeruk purut belum termanfaatkan dengan baik.

 

Jeruk Purut ternyata tidak hanya 1 jenis. Petani mengenal setidaknya ada 2 jenis, yaitu jeruk purut komersial umumnya dan jeruk purut dimana batangnya berduri besar. Petani memilih untuk tidak mengembangkan jeruk purut yang berduri besar karena duri yang besar menyulitkan panen dan perawatan, ukuran daunnya pun kecil meskipun aromanya lebih kuat. Sehingga jeruk purut jenis ini saat ini sulit ditemukan. [zh/balitjestro]

 

Bunga jeruk purut

Bunga Jeruk Purut

 

Buah jeruk purut

Buah Jeruk Purut

Perbenihan Jeruk Purut

Perbenihan Jeruk Purut di Tulungagung

 

Daun Jeruk Purut yang lebar

Daun Jeruk purut yang terlalu lebar cenderung tidak terlalu wangi

 

Wawan Petani jeruk Purut

Wawan, mantri tani sekaligus petani jeruk purut di Sumbergempol, Tulungagung

 

Harian Petani jeruk Purut

Harian, salah seorang petani jeruk purut yang tergabung dalam kelompok tani Nuju Makmur

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event