Jeruk Pemanis Hidup Petani Banyuwangi: Kesejahteraan Daerah

Kompas, 24 Oktober 2016, halaman 24

Jeruk siam mengubah nasib petani di Banyuwangi, di Jawa Timur. Di tanah tadah hujan, tanaman tersebut tumbuh subur dan menghidupi petaninya. Berkat jeruk itu kehidupan petani pun menjadi lebih manis.

Oleh SIWI YUNITA CAHYANINGRUM

Wajah Eko Puguh (27), petani Jeruk di Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, Banyuwangi, semringah. Awal Oktober lalu tanaman jeruknya sudah memasuki masa panen. Kali ini jeruknya dihargai Rp 6.000 per kilogram atau Rp 1.000 lebih tinggi dari harga bulan lalu. Dengan harga setinggi itu, Eko bisa mengantongi penghasilan kotor Rp 90 juta atau Rp 75 juta bersih untuk panen 15 ton jeruk miliknya.

Bagi Eko, nilai Rp 90 juta tergolong tinggi. Ia bahkan tidak pernah menerima uang sebanyak itu sebelum bertanam jeruk. Saat dia memanen padi, penghasilannya maksimal Rp 12 juta sekali panen. Itupun harus kerja ekstra keras untuk mendapatkan air bagi sawahnya. Saat memanen kedelai, ia pun tak untung banyak karena harga tak menentu.

Tanaman jeruk juga menghidupi keluarga Ernawati (37), petani lain. Ernawati yang tiga tahun lalu masih bertanam palawija dan padi kini mengubah seluruh lahannya menjadi kebun jeruk. Saat ditemui di kebunnya, Kamis (22/9) lalu, Ernawati sedang memanen jeruk untuk pertama kalinya.

Jadi penyemangat

Jeruk menjadi penyemangat baru bagi petani di Banyuwangi, terutama di kawasan tadah hujan. Tanaman ini ternyata cocok ditanam di lahan yang minim air, seperti di Tegal Dlimo, Pesanggaran, Muncar, Purwoharjo, hingga Bangorejo di sisi selatan Banyuwangi. Sebelum ini, selama bertahun-tahun, petani harus bergulat mendapatkan air untuk bisa menghidupi tanaman padinya, tetapi kini mereka bisa menikmati hasil yang lebih.

Hasil yang diperoleh dari kebun jeruk pun jauh lebih tinggi dibanding padi atau palawija. Dalam 1 hektar lahan petani bisa menghasilkan buah jeruk hingga 27,7 ton/tahun. Jika harga jeruk mencapai Rp 5.000/kg, maka mereka bisa mengantongi Rp 138,5 juta atau sekitar Rp 110 juta sampai Rp 120 juta pendapatan bersih setahun.

Namun, diakui para petani, bertanam jeruk perlu modal besar. Setidaknya di tahun pertama, saat mulai menanam jeruk, mereka harus keluar uang Rp 12 juta-Rp 20 juta/ha untuk membeli bibit, pupuk, tenaga kerja, hingga pembasmi hama. Buah jeruk pun baru menghasilkan buah pada tahun ketiga. “Artinya tiga tahun kami tak mendapatkan penghasilan,” kata Nur Khaeni, petani lain.

Sebagian petani mengakali tingginya modal dengan menyewakan lahan mereka. Setengah lahan, misalnya disewakan kepada orang lain dan setengahnya dikelola sendiri. Sebagian dari mereka juga memilih patungan dengan petani lain untuk meringankan beban modal awal. Dengan cara itu mereka bisa menjadi petani jeruk dan merasakan hasil panen yang bernilai tinggi.

Hasil bertani jeruk yang menjanjikan membuat para petani yang masih bertahan dengan padi dan palawija mulai beralih menanam buah tersebut. Dalam lima tahun sawah dan  tegalan palawijapun berubah menjadi kebun jeruk.

Data Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Banyuwangi, menunjukkan luas tanaman jeruk terus bertambah empat tahun terakhir. Pada 2011 luas hanya 10.727 ha, tetapi tahun 2015 menjadi 12.804 ha.

Produksi jeruk pun meningkat. Pada 2011, produksi berki berkisar 103.268 ton dengan produktivitas 17,2 ton/ha. Pada 2015, produksinya melesat menjadi 354.685 ton atau rata-rata 27,7 ton/ha.

Sekolah lapangan

Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, dan Perkebunan Banyuwangi Ikrori Hudanto mengatakan, Pemkab Banyuwangi menyelenggarakan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) untuk meningkatkan hasil kualitas dan kuantitas pertanian jeruk. Petani dibekali pula wawasan tentang penanganan pasca panen yang tepat, mulai dari pemetikan buah, penyortiran, pencucian hingga pemilahan buah.

Dari sekolah lapangan itu, petani bisa menghasilkan produk bermutu dan yang ramah lingkungan. Perawatan tanaman juga bisa tercatat dan terdokumentasi dengan baik. “Pencatatan perawatan tanaman penting untuk kepentingan ekspor mendatang,” kata Ikrori.

Pemkab juga memberi bantuan gunting, keranjang panen, membagi 13.250 bibit jeruk, pompa, power sprayer, 58.750 ton pupuk organik. Pemkab membangun lima bangsal kemas untuk menyimpan hasil panen.

Manisnya nasib petani berimbas pada peningkatan ekonomi, Pada tahun 2015 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Banyuwangi mencapai Rp 60,05 triliun atau naik hampir dua kali lipat dari tahun 2010. Selama ini sektor pertanian dan agrobisnis selalu menyumbang 40 persen lebih di PDRB Banyuwangi.

Pendapatan per kapita masyarakat Banyuwangi juga meningkat 80 persen dari Rp 20,8 juta pada 2010 menjadi Rp 37,53 juta pada 2015. Kenaikan itu menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dipengaruhi oleh keberhasilan hasil tanam, seperti beras, buah naga, melon, semangka, jeruk, cabai, hingga pariwisata.

Agar bisa mempunyai nilai lebih Anas pun berencana menyambungkan perkebunan itu dengan pariwisata. Melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Pemkab Banyuwangi melatih warga untuk memberi nilai tambah pada produk pertanian. Sirop jeruk untuk buah tangan adalah salah satunya. “Tidak ada istilahnya sirop jeruk lebih murah daripada buah jeruk. Cara inilah yang kami tempuh agar petani bisa mendapatkan nilai lebih nantinya,” kata Anas.

Kini saat musim hujan tidak lagi pasti, petani Banyuwangi malah sama sekali tidak risau lagi. Dari jeruk ini ternyata mereka bisa tetap merasakan manisnya hidup bertani.