Membangun Kawasan Buah dan Sayur di Area Food Estate Kalteng

Peneliti dan teknisi Balitjestro berkoordinasi tentang penanaman Jeruk sebagai komoditas pendukung Center of Excellence Food Estate di Kalimantan Tengah. | Photo: Hanif

Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo menginstruksikan bahwa Food Estate Kalteng akan mengembangkan komoditas padi, hortikultura, peternakan, dan perikanan. Luasan per klaster sekitar 1.000 hektar dilakukan dengan pendekatan pertanian dari hulu ke hilir. Luas potensial 164.550 hektar, luas fungsional 85.450 hektar dan sisa luas fungsional 79.100 hektar.

Area food estate ini adalah sisa dari lahan “Program Sawah Sejuta Hektare”’ yang dirintis oleh Presiden Soeharto 30 tahun silam. Pada 2020 hingga 2021 ini terdapat 30 ribu hektar areal yang pertama akan digarap. Seluas 110 ribu hektare lainnya akan dilaksanakan pada anggaran 2022-2023 yang dibuat lebih produktif. Selebihnya, diharapkan bisa dilanjutkan oleh pemerintahan berikutnya.

Kementan menyuntik anggaran melalui mesin pertanian, pupuk, center of excellence, pengembangan hortikutura, juga SDM pertanian sebagai bentuk dukungan nyata program food estate. Kelebihan utama food estate Kalteng yaitu mengakomodir kepentingan petani dari hulu ke hilir, kegiatan ekonomi dikembangkan secara bisnis dan menguntungkan. Petani food estate didorong berkelompok menjalankan aktifitas bisnis menuju pengembangan korporasi petani. Setiap unit aktivitas bisnis dilakukan oleh kelompok tani [Poktan] dan Gapoktan.

Puslitbanghorti melakukan baseline survei untuk mendukung program food estate pada 2-4 Oktober 2020. Dalam survei ini, Tim Puslitbanghorti terdiri dari 13 orang peneliti dan teknisi dari Puslitbanghorti, Balitjestro, Balitbu dan Balitsa. Survei dilakukan di kawasan Center of Excellence Food Estate (CoE FE) dengan mengumpulan pewakilan petani di Rei 5 sampai Rei 29, Desa Belanti Siam, Kecamatan Panggih Batu, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Survei ini dilakukan terhadap 12 kelompok tani di lokasi CoE FE seluas 1024 hektar.

Tim Puslitbanghorti bersama petani di pekarangan rumahnya yang potensial untuk komoditas hortikultura | Photo: Hanif

Baseline survei ini bertujuan untuk menghimpun informasi dari petani, istri petani, pedagang dan stakeholder terkait pengembangan hortikultura. Program pengembangan di kawasan Food Estate ada yang terhampar di lahan sawah petani, namun terbuka juga peluang untuk menanam berbagai komoditas hortikultura di pekarangan rumah, mengingat dari segi perawatan akan lebih intensif. Pekarangan petani yang masih bisa dimanfaatkan seluas 50×25 m2 atau 1250 m2.

Wawancara dilakukan dengan mengumpulan perwakilan petani di tiga lokasi yang berbeda. Dari hasil diskusi, petani mengaku tertarik untuk menanam jeruk di pekarangan ditumpangsarikan dengan bawang dan cabe. Pisang kepok dan pepaya termasuk potensial dan layak ditanam, terutama di pinggiran pekarangan.

Mariman, ketua kelompok tani Sido Rukun mengaku lebih tertarik mengembangkan buah daripada ternak karena memang menyukai buah. “Sebelumnya memang ada tawaran ternak kambing dan sapi, namun saya tolak karena saya ga telaten pak kalo disuruh cari rumput.” Imbuhnya.

Sedangkan Mulyono memang sudah punya angan-angan lama, namun kesulitan mencari benih jeruk dan sayur yang berkualitas. Dari 56 petani yang tergabung di kelompok tani Margo Mulyo, ada 14 petani yang menyatakan minat mengembangankan jeruk dan sayuran. Petani tersebut telah membuka lahan pekarangan di belakang rumah dalam bentuk hamparan, sehingga secara teknis tidak terlalu berat untuk persiapan lahan bertanam jeruk.

Kabid PE Dr. Waryat yang memimpin tim survei menyambut baik keinginan petani yang berminat mengembangan horti. Minat dan kemauan ini tentunya modal awal yang harus ditangkap oleh tim. Selanjutnya tim survei akan mendata dan memverifikasi data petani usulan untuk masuk dalam program pengembangan hortikultura di CoE FE.

Tim Balitjestro sendiri adalah Sutopo, Anang Tri Wiratno, Zainuri Hanif dan Agus Surya Dirawanto. Tim ini selain ditugaskan untuk survei juga untuk mempersiapkan tukungan jeruk di kawasan sentra utama CoE FE yang akan diresmikan dengan gerakan tanam bersama oleh Presiden Jakowi beberapa hari ke depan.

Segala persiapan terus dilakukan untuk mematangkan lokasi CoE FE. Kepala Balitbangtan Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si pada Ahad, 4 Oktober 2020 ke lokasi untuk melakukan pemantauan, pengecekan dan evaluasi lapangan yang dilakukan secara menyeluruh. [Hnf]

Agenda

no event