Jepang Berminat untuk Mengembangkan Jeruk Yuzu

Kazuhisa Matsui, Mana Takasugi dan Peneliti Balitjestro dengan latar belakang Kota Malang
Kazuhisa Matsui, Mana Takasugi dan Peneliti Balitjestro dengan latar belakang Kota Malang

Kazuhisa Matsui, fasilitator sekaligus konsultan dari Matsui Glocal bersama Mana Nagao Takasugi peneliti dan evaluator departemen pengembangan sosial ekonomi International Development Center of Japan berkunjung ke Balitjestro pada Selasa, 31 Mei 2016 untuk menelusuri dan berkonsultasi peluang pengembangan Jeruk Yuzu di Indonesia.

Rombongan ditemani oleh Taufiq Mansur Diperta Provinsi Jawa Timur dan Juariah Biro KLN Kementerian Pertanian. Sebelumnya, Matsui telah mengunjungi Takengon Aceh dan mendapatkan informasi bahwa JC (Japanse Citroen) adalah Yuzu yang telah berkembang di Indonesia. Namun secara penampilan, buah ini berbeda dengan Yuzu asli yang dari Jepang.

Yuzu adalah jenis jeruk local Jepang. Buah ini aromanya sangat kuat, kadar airnya sangat sedikit dan harganya sangat mahal. Yuzu jarang tumbuh dan sulit dijumpai di luar Jepang. Yuzu dikonsumsi ketika kulitnya masih hijau atau sudah berwarna kuning (matang). Yuzu adalah salah satu dari beberapa jeruk di dunia yang mampu mempertahankan kadar asam pada suhu tinggi saat dimasak.

Pada tahun 2014 Yuzu sempat digadang-gadang menjadi buah populer. Kandungan vitamin C ini lebih banyak dari lemon. Penggunaan Yuzu biasanya untuk aroma pada makanan untuk menambah nutrisi dan cita rasa. Di negara Barat, Yuzu sering digunakan untuk perasa permen karet, cuka atau minuman alkohol.

Jeruk Yuzu. sumber : whiteonricecouple.com
Jeruk Yuzu. sumber : whiteonricecouple.com

Joko Susilo Utomo, Kepala Balitjestro menyambut dengan baik kedatangan Matsui dan mengajak pula para peneliti senior Balitjestro dalam diskusi bertema Yuzu dan prospek pengembangannya. Arry Supriyanto yang dikenal sebagai founder Masyarakat Jeruk Indonesia menceritakan bahwa JC yang berkembang di Indonesia memang dikembangkan sejak 1930-an semasa penjajahan Belanda. Dan saat ini sudah tersebar di 28 propinsi di Indonesia sebagai batang bawah. Petani belum memanfaatkan buah JC untuk olahan lebih lanjut karena rasanya yang sangat masam, dan bijinya lebih laku dijual dimana 1 kg biji JC dihargai minimal Rp 1 juta. Jika JC adalah Yuzu dari Jepang, sejarah tentang itu perlu ditelusuri kembali.

Nurhadi yang juga bertindak sebagai koordinator program memberikan point yang penting, apakah benar JC yang di Takengon atau yang umum beredar di Indonesia ini adalah benar Yuzu yang beredar di Jepang? Chaireni sebagai pemulia pun memberikan masukannya bahwa JC di Indonesia secara morfologi dimasukkan ke dalam kelompok lemon. Namun untuk kejelasannya memang perlu mendapatkan data karakter Yuzu asli yang di Jepang.

Jika memang setelah penelusuran lebih lanjut karakter Yuzu yang di Jepang mirip dengan JC yang selama ini beredar di Indonesia, maka peluang pengembangan sangat besar, karena jeruk jenis ini bisa tumbuh di berbagai tempat di Indonesia. Petani harus mendapatkan informasi yang jelas mengenai keuntungan jenis jeruk ini, pasarnya dimana dan spesifik karakternya agar buah jeruk Yuzu benar dalam penanganan panen dan pascapanen.

Matsui yang mendapatkan masukan berharga dari peneliti Balitjestro berharap agar ke depan bisa terjalin kerjasama lebih lanjut. Balitjestro pun menyambut dengan tangan terbuka. Di Jepang, daerah yang khusus menembangkan Yuzu adalah Kochi. Dan harapannya ke depan ada kerjasama menguntungkan kedua belah pihak dalam riset dan pengembangan jeruk Yuzu dan berbagai jenis jeruk lainnya antara Indonesia dan Jepang. (hanif)

Tinggalkan Balasan

Agenda

no event